Papah Angga hanya bisa mengangguk-anggukan kepalanya sambil makan. Namun di dalam hatinya ia berkata. “Sepertinya mereka sedang berbohong, terlihat sangat jelas di wajah keduanya yang berusaha menutupi apa yang telah terjadi selama aku pergi. Mamah dan Vina memang benar-benar tidak bisa di bilangin, jika mereka selalu menyakiti Suci kasihan mentalnya akan terus dihajar habis-habisan. Hanya karena yang terjadi pada dirinya membuat Mamah bersikap sekasar ini pada Suci. Padahal semua itu Allah yang sudah mengaturnya, dan Allah pula yang akan memberikan anugerahnya untuk Suci serta Dimas. Hanya saja mereka perlu menunggu waktu yang entah sampai kapan agar bisa mendapatkan kebahagiaan itu ”
Mereka bertiga pun memakan makanannya tanpa bersuara. Hingga akhirnya mereka sudah selesai dan Papah Angga pamit pergi duluan untuk segera membersihkan diri agar bisa langsung beristirahat karena tubuhnya yang sudah mulai menua ini membuatnya rentan sekali mengalami kelelahan.
Sedangkan Dimas pun pergi ke ruang kerjanya untuk menyelesaikan pekerjaan yang sempat tertunda saat ia sakit. Dan kini di saat ia merasa sudah jauh lebih baik, ia langsung kembali fokus pada pekerjaannya supaya tidak kepikiran dengan perkataan Mamah serta adiknya yang selalu memperlakukan Suci dengan tidak baik.
Lalu, Suci membereskan meja makan agar terlihat rapi jika Mamah Mita dan Vina ingin makan. Dengan begitu Suci langsung mencuci semua perabotan saat memasak dan makan tadi hingga bersih karena Suci tidak mau sampai membuat rumah berantakan. Ia selalu berusaha merapikan rumah agar terlihat bersih dan wangi.
Setelah semuanya selesai, Suci tidak lupa membuatkan teh manis hangat untuk suami tercintanya yang sedang sibuk bekerja di ruang kerjanya. Suci berjalan dengan perlahan menuju ruang kerja Dimas, lalu ia membuka pintunya secara perlahan.
Ceklek !...
“Assalamualaikum, Mas. Boleh Suci masuk?” tanya Suci saat membuka pintu.
“Waalaikumsalam, masuk saja sayang. Sini temani aku, lagian sebentar lagi selesai kok. Untungnya hari ini pekerjaanku tidak banyak” ucap Dimas sambil tersenyum menatap Suci.
Suci pun langsung masuk, dan kembali menutup pintu lalu ia berjalan mendekati Dimas. Kemudian, ia menaruh secangkir teh manis hangat di samping Dimas.
“Ini Suci buatkan teh hangat untuk Mas Dimas supaya bisa menghangatkan tubuh Mas” ucap Suci sambil tersenyum.
“Aku tidak butuh teh untuk menghangatkan tubuhku sayang, tapi...” ucap Dimas yang menggantungkan kata-katanya.
Suci yang merasa sangat penasaran langsung menjawabnya. “Tapi apa, Mas?”
“Tapi, aku hanya butuh ini” saut Dimas yang menarik Suci lalu ia jatuh di pangkuan Dimas sambil memeluknya dengan erat.
“Hyaaakk... Astaghfirullah, Mas Dimas. Ada-ada saja, ni ruang kerja loh nanti kalau tiba-tiba ada yang masuk bagaimana?” celoteh Suci saat terkejut melihat perlakuan Dimas yang sangat agresif.
“Hehe... Maaf sayang, habisnya aku kangen sama kamu. Tapi, sayangnya kamu lagi lampu merah hihi...” ucap Dimas yang kembali membuat Suci merasa sangat malu jika mengingat kejadian tadi sore.
“Ya ampun, Mas Dimas. Stop mengejek aku ya, atau nanti Mas tidur di sofa, mau?” ucap Suci dengan tegas yang menutupi rasa malunya.
“Uluhh... uluhh... Jahatnya istriku ini, hehe... Memangnya kamu tega lihat aku tidur di sofa, hem...” ucap Dimas sambil mendusel-duselkan wajahnya di leher Suci.
Suci merasa sangat merinding atas perlakuannya Dimas. Lalu, ia berusaha untuk menahan semua itu sambil mengatakan... “Mas tolong deh, jangan mulai ya. Apa Mas tidak kasihan melihat Suci seperti ini” keluh Suci dengan wajah sedihnya.
“Aduh, aduh... Istriku, cupcupcup... cayangkuh hehe... Maaf ya sayang, aku cuman bercanda kok. Ya sudah kita ke kamar yuk” ajak Dimas.
“Ke-kemar? Ma-mau ngapain, Mas? Jangan sekarang, Suci kan lagi halangan. Nanti saja deh double, Suci janji. Tapi setelah Suci bersih ya...” saut Suci dengan wajah polosnya yang membuat pikiran Suci gencar berlarian kemana-mana.
Dimas hanya bisa tertawa gemas sambil mencubit pipi Suci yang sangat lucu ini sambil menjawabnya... “Jangan berpikir terlalu jauh, sayang. Aku cuma mengajak ke kamar kok, lagian pekerjaanku sudah selesai. Lalu, buat apa kita lama-lama di sini. Lebih baik di kamar bisa mengobrol sambil rebahan kan”
Suci yang benar-benar merasa sangat malu refleks langsung menutupi wajahnya yang membuat Dimas semakin tertawa. Lalu, Dimas berusaha membuka kedua telapak tangan Suci dan mereka saling tatap menatap.
Lalu, “Muach...” Dimas mencium bibir Suci secara sekilas yang membuat Suci melototkan matanya.
“Itu hukuman untuk kamu yang sedang berpikir buruk tentang suamimu ini, hehe... Sudah yuk ke kamar, kamu mau terus duduk di sini dan aku gendong atau...” ucapan Dimas terpotong saat Suci segera bangun dari pangkuan Dimas dan sedikit merapikan gamisnya.
“Hoya, Mas. Suci mau ke kamar mandi, Suci duluan ya...” saut Suci yang terburu-buru pergi ke kamarnya untuk menutupi wajah malunya yang sudah memerah.
Lagi-lagi, Dimas tertawa sambil berdiri membawa teh buatan Suci dan pergi ke kamarnya menyusul Suci. Dimas benar-benar merasa sangat tenang saat melihat tingkah lucu serta kepolosan Suci yang membuatnya sangat terhibur.
Di dalam kamar, Dimas langsung menaruh teh di meja kecil dekat kasur lalu ia duduk merebahkan tubuhnya di atas kasur sambil bersandar. Tak lama Suci keluar dari kamar mandi dengan keadaan malu sambil berjalan menuju kasur, lalu ia menaiki kasur dan langsung memeluk Dimas sambil bersandar di pundaknya.
“Ada apa sayang?” tanya Dimas dengan sangat lembut sambil mengusap pipi Suci.
“Hehe... Maafkan Suci ya, Mas. Karena sudah berpikir buruk tentang Mas tadi, Suci jadi malu. Bisa-bisa Suci berpikir sejauh itu hehe...” jawab Suci sambil tertawa.
“Tidak apa-apa sayang, wajar saja. Lagian aku senang karena kamu berpikir seperti itu, jadi saat nanti sudah lampu hijau aku bisa mendapatkan double hehe...” ucap Dimas yang membuat Suci teringat dengan perkataannya tadi.
“Yakkk... Mas Dimas, ishh... Dasar menyebalkan. Itu kan Suci hanya bercanda Mas” saut Suci sambil memajukan bibirnya seolah-olah sedang mengambek.
“Kenapa bibirnya, mau Mas cium lagi atau mau Mas **** hem...?” goda Dimas sambil menaik-naikkan alisnya.
“Huaaa... Dasar suami mesum” teriak Suci yang langsung memeluk Dimas dengan sangat erat sambil menyembunyikan wajahnya.
Dimas tertawa terbahak-bahak hingga terbatuk saat melihat Suci yang benar-benar menghiburnya tanpa henti. “Haha... Aduh sayang, perutku sakit ketawa mulu haha... Lagian memang salah kalau suami mesum dengan istrinya? Itu sah-sah saja dong, kan ibadah. Apa lagi, saat mendengar suara indahmu itu membuat aku jadi merem melek haha...” goda Dimas.
“Huaaa... Mas Dimas stop berpikir seperti itu, nanti kalau Suci pengen bagaimana? Suci kan lagi halangan, masa ia kita mau main dengan lumuran sirop merah huaaa... Dasar suami kejam” teriak Suci yang masih memeluk Dimas.
Lagi-lagi, Dimas terus saja tertawa karena selalu berhasil mengganggu serta menggoda Suci. Hingga akhirnya mereka tertidur dengan keadaan berpelukan. Entah kenapa, keadaan ini benar-benar membuat mereka merasa tenang dan damai. Seakan-akan semua beban serta masalah mereka hilang begitu saja.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai para readers semuanya 🤗
Perkenalkan ini adalah karya novel ke-3 Author loh 🤩
Semoga kalian menyukainya ya 🤝
Dukung Author terus dengan cara berikut :
Like 👍
Komen 📨
Favorite ❤️
Rate 🌟
Share 📲
Dan tidak lupa pula selipkan hadiahnya ya 😍🙏
Bunga, kopi atau sebagainya pun tak apa kok malah lebih bagus lagi pundi-pundi receh yang berterbangan di karyaku ini hihi 😆😜
Sayang kalian banyak banyak ❤️❤️❤️
Terima kasih semuanya 🙏🙏
Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 282 Episodes
Comments
Suryani
semoga tidak ada hambatan dalam rumah tangganya Dimas dan suci
2023-12-14
2