Suci yang melihat kedatangan Mamah Vita pun langsung mendekatinya, lalu ia mencium tangannya dan sedikit menanyakan bagaimana jalan-jalan mereka. Namun Mamah Mita hanya terdiam sambil mengambil makanan di piringnya tanpa harus menjawab semua pertanyaan dari Suci.
Begitu pula dengan Vina yang selalu manja untuk diambilkan makanan oleh Mamahnya. Dengan senang hati sang Mamah melayani Vina dengan sangat ramah. Dimas yang melihatnya pun semakin geram atas sikap buruk mereka terhadap istrinya.
“Mamah, Dek. Bisa tidak kalian bersikap biasa saja pada istriku? Apa kalian tidak ada rasa sedikit pun untuk menghargai semua perjuangan dia yang selalu mengurus keluarga kita? Kenapa Mamah selalu bersikap tidak adil seperti ini? Suci adalah menantu Mamah, yang artinya juga anak Mamah sama seperti Vina"
"Dan kamu, Vina. Cobalah untuk menghargai Kakak iparmu ini, dia adalah istri Abangmu jadi seharusnya kamu pun bersikap baik kepadanya dan bukan malah seperti ini. Kalian tahu tidak sih, Dimas ini cape, lelah, letih, stres mikirin kalian semua yang bersifat tidak adil kepada Suci. Kalau kalian terus seperti ini lebih baik Dimas dan Suci pindah dari rumah ini, serta hidup dengan tenang tanpa adanya cacian dari kalian berdua”
Dimas berbicara dengan sangat tegas yang membuat Mamah Mita dan Vina terdiam menatap Dimas. Sedangkan Suci berusaha untuk membuat Dimas merasa tenang dengan cara merangkul pundak Dimas lalu, mengelusnya dengan lembut.
“Sabar, Mas. Ingat kamu lagi sakit, jadi jangan terlalu banyak pikiran. Lagian Suci tidak apa-apa kok Mas. Suci malah senang tinggal di sini bareng-bareng, dari pada kita hanya tinggal berdua saja itu akan terasa sangat sepi loh, Mas”
“Tapi sayang, mereka suda benar-benar membuatku muak atas sikap serta tingkah laku mereka yang seakan-akan merendahkan harga dirimu sebagai istriku. Dan aku pun tidak rela jika itu terus terjadi” tegas Dimas sambil menoleh menatap manik mata Suci.
“Sudah, Mas. Tidak apa-apa, Suci ikhlas kok. Asalkan bisa selalu bersama dengan Mas Dimas” jawab Suci sambil tersenyum lebar, yang membuat Dimas semakin bersalah karena belum bisa menjadi suami yang selalu menjaga Suci dari semua hinaan serta cacian Mamah dan adiknya ini.
“Mamah enggak terima ya, kalau kamu sampai keluar dari rumah ini titik! Kalau sampai kamu berani pergi dari rumah ini, maka jangan harap kamu bisa kembali melihat Mamah membuka mata” ucap Mamah Mita dengan penuh emosi sambil pergi meninggalkan meja makan.
“Mah, Dimas belum selesai berbicara...” ucap Dimas.
“Mah, tungguin Vina. Bagaimana Tuan Putri? Senang? Bangga? Karena sudah di bela habis-habisan dengan Abang gua? Haha... Dasar wanita licik, bermuka dua. Cih...” saut Vina yang langsung meninggalkan meja makan untuk menyusul Mamah Mita.
“Vinaa...” geram Dimas sambil berdiri dari kursinya dan menatap kepergian Vina.
“Stt... Mas, hei. Sudah, ayo duduk lagi. Biarkan mereka menenangkan pikirannya dulu. Siapa tahu mereka lagi cape habis jalan-jalan jadi membuat mood mereka menjadi berantakan. Sudah, ya... Jangan marah lagi, kan Suci baik-baik saja selama Mas Dimas selalu berada di samping Suci” ucap Suci yang kembali menenangkan Dimas yang mulai terpancing emosinya.
Dimas pun menuruti Suci serta kembali duduk di kursinya. Betapa beruntungnya ia mendapatkan wanita sebaik dan setulus Suci, ia benar-benar tidak ingin melihat Suci terus-terusan di perlakukan seperti ini. Namun, ia tidak tahu harus bagaimana lagi menyikapi semua ini.
Jika, Dimas memaksakan diri untuk keluar dari rumah bersama Suci, takutnya ancaman dari Mamah Mita benar-benar akan terjadi. Dan Dimas tidak mau mengambil resiko itu, dia pun juga sangat menyayangi Mamahnya. Meskipun Mamah Mita terlihat sangat buruk memperlakukan istrinya, tapi semua itu tidak bisa di ungkiri kalau Mamah Mita adalah Ibu kandung dari Dimas yang sangat-sangat Dimas sayangi.
Begitu pula, dengan Vina sang adik yang benar-benar membuat Dimas muak atas perkataannya yang selalu dengan sengaja untuk bisa menyakiti perasaan Suci. Kemudian, Suci kembali menyiapkan makanan di atas piring Dimas. Dan saat ia ingin menyuap nasi ke dalam mulutnya tiba-tiba saja mendengar suara orang yang telah memberikan salam.
“Assalammuaikum...” ucap salam Papah Angga saat memasuki rumah dan berjalan menuju meja makan.
“Waalaikumsalam, Pah” saut Dimas dan Suci secara bersamaan dan langsung meraih tangan Papah Angga serta menciumnya.
Lalu, Suci membantu Papah Angga untuk duduk di kursinya dengan perlahan.
“Loh... Papah kok sudah pulang, nemang pekerjaannya sudah beres? Bukannya Papah bilang kalau pulangnya itu lusa ya...” tanya Dimas sambil menatap wajah Papah Angga.
“Hehe... Habisnya Papah merasa kangen sama masakan Suci. Jadi, buru-buru pulang deh... Lagian pekerjaan Papah sudah selesai kok, semuanya sudah di urus sama asisten Papah. Jadi kalian tenang saja” ucap Papah Angga sambil tersenyum lebar.
“Aduh... Papah ini bisa saja, Suci jadi malu tahu, Pah hehe... Hoya, Papah mau makan pakai lauk apa?” tanya Suci yang langsung menyajikan nasi di piring Papah Angga.
“Apa pun masakanmu, Papah selalu menyukainya” jawab Papah Angga sambil sedikit tertawa.
“Papah, jangan coba-coba menggoda istriku ya. Ingat! Suci sudah jadi milikku, dan Papah itu sudah ada Mamah. Jadi stop genit dengan Suci” tegas Dimas dengan rasa cemburunya saat melihat perlakuan Papahnya yang sangat menyayangi Suci.
“Ya ampun, Mas Dimas. Tidak boleh berbicara seperti itu kepada Papah. Lagian juga Papah sangat mencintai Mamah, jadi jangan ada pikiran negatif. Papah begini karena ia sudah menganggap Suci sebagai anak kandung Papah sendiri kan ya, Pah...” saut Suci sambil menaruh piring yang sudah penuh terisi oleh makanan untuk Papah Angga.
“Itu, istrimu paham. Buat apa Papah menggoda anak Papah sendiri, lagian umur Papah tidak muda lagi Dimas dan Papah itu sangat mencintai Mamahmu, ya meskipun dia selalu memperlakukan Suci dengan tidak pantas. Tapi, Papah tetap sangat mencintainya” ucap Papah Angga yang sedikit menunjukkan wajah sedihnya.
“Apa selama Papah tidak ada di rumah, Mamah dan adikmu membuat ulah lagi pada Suci?” tanya Papah Angga di sela makannya kepada Dimas.
Suci yang mendengar itu berusaha memberikan kode kepada Dimas untuk tidak menceritakan kejadian tadi kepada sang Papah. Karena Suci tidak mau menambah pikiran Papah Angga yang saat ini pasti sangat kelelahan.
“Hem...” ucap Dimas sambil menatap Suci.
“Ti-tidak, Pah. Semua aman terkendali hehe...” saut Dimas sambil tertawa yang menutupi kebohongannya sambil makan.
“Sudah lebih baik Papah habiskan makanannya, lalu bersih-bersih dan istirahat biar besok bisa jauh lebih baik lagi dan rasa lelahnya pun berkurang. Kasihan, itu wajah Papah terlihat sangat lelah. Jadi, ayo makan yang banyak biar tidurnya nanti pulas hehe...” ucap Suci yang berusaha mengalihkan pembicaraan Papah Angga sambil kembali makan.
Papah Angga hanya bisa mengangguk-anggukan kepalanya sambil makan. Namun di dalam hatinya ia berkata. “Sepertinya mereka sedang berbohong, terlihat sangat jelas di wajah keduanya yang berusaha menutupi apa yang telah terjadi selama aku pergi. Mamah dan Vina memang benar-benar tidak bisa di bilangin, jika mereka selalu menyakiti Suci kasihan mentalnya akan terus dihajar habis-habisan. Hanya karena yang terjadi pada dirinya membuat Mamah bersikap sekasar ini pada Suci. Padahal semua itu Allah yang sudah mengaturnya, dan Allah pula yang akan memberikan anugerahnya untuk Suci serta Dimas. Hanya saja mereka perlu menunggu waktu yang entah sampai kapan agar bisa mendapatkan kebahagiaan itu ”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai para readers semuanya 🤗
Perkenalkan ini adalah karya novel ke-3 Author loh 🤩
Semoga kalian menyukainya ya 🤝
Dukung Author terus dengan cara berikut :
Like 👍
Komen 📨
Favorite ❤️
Rate 🌟
Share 📲
Dan tidak lupa pula selipkan hadiahnya ya 😍🙏
Bunga, kopi atau sebagainya pun tak apa kok malah lebih bagus lagi pundi-pundi receh yang berterbangan di karyaku ini hihi 😆😜
Sayang kalian banyak banyak ❤️❤️❤️
Terima kasih semuanya 🙏🙏
Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 282 Episodes
Comments
Suryani
yg penting Dimas tetap selalu setia untuk istrinya
2023-12-14
1