“Bu Suci, tumben sebelum jam makan siang sudah di sini. Apa jangan-jangan kangen ya sama Tuan Dimas ekhem... ekhem... Aduh kayanya aku keselak deh...” ucap OB wanita lainnya.
“Ya ampun, ayo minum dulu ini hati-hati” ucap Suci yang langsung memberikan air minum kepada OB wanita itu dengan perasaan cemas.
OB yang satunya pun hanya tertawa saat melihat temannya terpaksa meminum air yang di berikan Suci untuknya.
Glek... glek... glek...
“Bagaimana, apakah masih keselak?” tanya Suci dengan wajah khawatir.
“Aduh, Bu Suci ini polos banget sih. Tadi maksud saya itu cuman bercanda gitu loh buat godain Bu Suci agar malu kaya wanita pada umumnya. Ini malah saya di suruh minum air” ucap OB wanita tersebut dengan wajah sedikit kesal.
Teman OB wanita yang tadi diberikan minum pun hanya bisa tertawa saat melihat wajah temannya yang sedikit kesal.
“Astaghfirullah, maaf ya aku tidak tahu. Kiran kamu lagi keselak jadi aku ambili minum deh hehe... Sekali lagi maaf ya” ucap Suci sambil melipat tangannya dengan wajah yang merasa bersalah.
“Aish... Ibu, tidak usah seperti ini. Saya cuma bercanda loh, lagian saya yang harusnya minta maaf sama Ibu Suci karena sudah kurang ajar meledek atasan seperti ini. Maaf ya Bu” ucap OB wanita tersebut.
“Ya, Bu. Maafkan teman saya ya Bu. Tolong jangan adukan kami ke Tuan Dimas ya, Bu. Kami takut di pecat. Saya mohon, Bu” saut teman OB wanitanya memohon melipat kedua tangannya bersamaan dengan OB wanita tersebut.
Suci yang merasa bingung pun langsung terdiam, tak lama kemudian ia berkata “Kalian kenapa? Aku tidak marah kok, lagian aku malah senang banyak orang yang mau berteman denganku di sini. Lagian kita semua sama kok, di sini yang jadi atasan kalian hanya suamiku, jadi tidak usah sungkan-sungkan sama aku ya”
Suci pun menurunkan kedua tangan mereka sambil tersenyum.
“Terima kasih ya, Bu Suci. Ibu baik banget, malah tidak merasa jijik untuk berteman dengan kami yang levelnya di bawah Bu Suci” ucap OB wanita tersebut.
“Kalian ngomong apa sih, kita semua sama kok. Bahkan sebelum kenal suami saya pun saya dari kalangan bawah. Bahkan, lebih di bawah kalian. Jadi tidak usah seperti ini, aku senang bisa berteman dengan kalian. Hoya... Nama kalian siapa?” tanya Suci sambil kembali membuatkan teh.
“Saya Tuti, Bu” ucap Tuti sambil tersenyum.
“Kalau saya Astrid, Bu” ucap Astrid yang ikut tersenyum.
“Baiklah, jadi kalian tidak usah terlalu formal sama aku ya. Anggap saja aku ini sama seperti kalian, dan jangan pernah membeda-bedakan derajat kalian. Karena semua di mata Allah itu saja. Hanya iman dan ketakwaanlah yang bisa di bedakan” jawab Suci sambil menoleh ke arah mereka dengan tersenyum.
Tuti dan Astrid pun tersenyum menatap kagum sosok atasan di depannya ini yang tidak sombong, bahkan ia sampai mau berteman dengan seorang OB yang menurut mereka jarang sekali seorang istri pebisnis yang hebat mau berteman dengan OB seperti merek.
“Hatimu sungguh sangat baik, Bu Suci. Semoga pernikahan kalian bisa awet sampai maut memisahkan. Tuan Dimas benar-benar sangat beruntung bisa memiliki wanita bidadari seperti Bu Suci ” ucap Tuti di dalam hatinya sambil menatap Suci yang sedang memasukkan gula ke dalam gelas.
“Jarang banget lihat istri pebisnis yang sangat terkenal mau berteman dengan seorang OB. Benar-benar hatinya sangat mulia, sehat-sehat ya Bu Suci. Saya doakan semoga pernikahan kalian semuanya baik-baik saja tanpa adanya pelakor atau pun orang-orang yang memiliki niat jahat sama keluarga Bu Suci ” ucap Astrid di dalam hatinya sambil tersenyum.
“Ya sudah, aku kembali ke ruangan suamiku dulu ya. Takut sudah di tunggu” ucap Suci sambil membawa gelas yang berisikan teh untuk Dimas.
“Ya, Bu. Silakan” ucap Tuti dan Astrid secara bersamaan sambil menunduk sedikit.
Suci pun berjalan keluar pantri dengan sangat anggun. Tidak sedikit laki-laki di kantor Dimas yang sangat mengagumi sosok Suci yang cantik, baik bahkan tidak pernah membedakan status semuanya.
Di mata Suci semuanya sama, itulah yang membuat Dimas sangat mencintai Suci. Suci sedikit menyapa Lisa sebelum masuk dan kembali berjalan masuk ke ruangan Dimas.
“Assalamualaikum, Mas” ucap Suci sambil tangan satunya menutup pintu.
“Waalaikumsalam, sayang” ucap Dimas sambil masih menatap laptopnya.
“Ini teh nya Mas, di minum mumpung masih hangat biar enak badan Masnya juga” ucap Suci sambil menaruh teh di meja kerja Dimas.
“Terima kasih sayang” jawab Dimas yang langsung menyeruput teh buatan Suci dengan sangat nikmat.
“Bagaimana, Mas. Apakah enak rasanya?” tanya Suci dengan wajah penasaran.
“Kok pahit ya, Dek. Memangnya kamu tambahkan apa di dalamnya?” tanya Dimas sambil melihat tehnya.
“Kok bisa pahit sih, Mas. Perasaan Suci sudah tambahkan gula deh. Jika itu garam pun pasti rasanya akan asin, bukan pahit loh” ucap Suci dengan wajah yang sangat bingung.
Dimas pun memutar kursinya untuk bisa berhadapan dengan Suci sambil memegang cangkir teh tersebut.
“Coba deh, Dek kamu melihat ke arah sini” ucap Dimas.
“Ada apa, Mas?” tanya Suci sambil menatap mata Dimas dengan wajah yang sudah benar-benar bingung.
Dimas pun tersenyum sambil kembali menyeruput teh tersebut.
Srup... srup... srup...
“Nah... Kan kalau begini rasanya benar-benar sangat manis” goda Dimas kepada Suci.
Suci yang masih belum sadar malah menjadi sangat bingung tidak karuan.
“Tadi Mas bilang pahit, kenapa sekarang manis saat Suci melihat wajah Mas Dimas sedang minum teh?” tanya Suci.
“Ya karena wajahmu terlalu manis jika di pandang sayang, bahkan senyummu itu selalu bisa membuatku jatuh cinta berulang-ulang kali” ucap Dimas sambil menaruh cangkir teh tersebut, dan menggenggam tangan Suci.
“Ya ampun, Mas dari tadi mengerjaiku iya? Astaghfirullah, aku kira tehnya benaran pahit loh. Aku sampai ke pikiran apa jangan-jangan tehnya yang salah. Ini Mas malah menggoda aku, ish... Dasar menyebalkan” ucap Suci sambil memukul kecil dada Dimas yang malah membuatnya tertawa.
Namun, tanpa di sengaja Suci terpeleset dan jatuh di pengakuan Dimas.
Ciatt !...
Dengan sigap Dimas langsung menangkap Suci, kini keadaan mereka benar-benar sangat dekat. Sehingga, hidung mereka pun saling bersentuhan yang membuat mereka bisa menghirup nafasnya satu sama lain.
Di saat Dimas ingin mencium bibir Suci, Suci pun langsung memejamkan matanya. Namun, tiba-tiba saja pintu ruang kerja Dimas di buka oleh seseorang.
“Hai Bro... Ups.. Sorry enggak lihat” ucap seorang laki-laki yang menutup pintunya kembali.
Suci yang mendengar itu pun langsung bangun dari pangkuannya Dimas dan membenarkan gamisnya. Dimas yang merasa malu hanya bisa kembali meminum tehnya.
“Mas Dimas sih... Lihat itu. Jadi malu kan Suci di kira kita lagi ngapa-ngapain sama Mas Dimas di sini" ucap Suci dengan wajah yang memerah.
“Memangnya kenapa, Dek. Wajar dong kan kita suami istri, lagian dia juga yang salah. Main masuk-masuk saja, tidak mengetuk pintu lebih dulu. Jadi jangan salahkan aku dong” elak Dimas.
“Ya sudah suruh masuk saja temannya, Suci mau ke kamar mandi sebentar” ucap suci yang langsung pergi ke kamar mandi dengan perasaan malu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai para readers semuanya 🤗
Perkenalkan ini adalah karya novel ke-3 Author loh 🤩
Semoga kalian menyukainya ya 🤝
Dukung Author terus dengan cara berikut :
Like 👍
Komen 📨
Favorite ❤️
Rate 🌟
Dan tidak lupa selipkan hadiahnya ya 😍🙏
Bunga, kopi atau sebagainya pun tak apa kok malah lebih bagus lagi pundi-pundi receh yang berterbangan di karyaku ini hihi 😆😜
Sayang kalian banyak banyak ❤️❤️❤️
Terima kasih 🙏🙏
Papaaayyy~~~ 🤗🤗
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 282 Episodes
Comments
AdindaRa
Alamaaaak. Aku jadi senam senyum sendiri ini bacanya.
2022-08-22
3
AdindaRa
Asyeeeeek. Dimas cocok gantiin Andhika di LaporPak nih 😅🤣😂
2022-08-22
2
AdindaRa
Good job, Ustadzah Suci. Kata-katanya ngena banget ☺️
2022-08-22
2