Dave kin berganti nama dengan Dave Oliver Philipe, dia akan membuat segala situs dan email serta akun lainnya dengan nama itu. Semuanya memakai nama itu, rasa dendam di hatinya dia simpan untuk nanti di kemudian hari. Berharap Javier masih tetap hidup untuk membalaskan dendamnya pada laki-laki itu.
Dia mengingat dari suara Javier itu, terdengar sepertinya Javier lebih muda dari papanya Alehandro. Mungkin sepuluh tahun atau lima belas tahun lagi, dia akan berusia tua. Dan saat itu dia akan balas dendam dengan mencari di mana keberadaannya. Membalas dendam dalam hati Dave sangat tertanam sangat dalam.
Ingatan demi ingatan juga suara minta tolong kakaknya terus terngiang di benaknya. Mateo dan Fabio mengingatkan agar selalu membuang rasa dendam secara perlahan. Namun, Dave tidak akan pernah mendengarkan ucapa Mateo maupun Fabio. Jika pun dia akan mati, maka sebelum mati dia harus membalas dendamkan keluarganya.
"Aku tidak tahu harus seperti apa kelak jika sudah besar, namun aku pasti akan mencari di mana Javier berada." gumam Dave.
Mateo memberikan akta lahir serta nama kedua orang tua baru yang akan menjadi identitas baru Dave. Kedua orang tua Dave sudah meninggal, ity benar. Tapi di Jerman, kedua orang tua Dave di buat meninggal. Sehingga dia di asuh oleh Fabio. Jadi, siapa pun akan percaya kalau Dave di besarkan karena di asuh oleh Fabio.
"Dave, ayo kita berangkat ke sekolah barumu." kata Fabio.
"Iya paman." jawab Dave.
Dia berpamitan dengan istrinya Fabio, Christine. Dia berangkat ke sekolah dengan kesua putri Fabio, Lolita dan Marline. Kedua anak Fabio berusia sembilan tahun dan tujuh tahun. Jadi Dave bisa di anggap kakak oleh kedua anak Fabio itu.
"Apa sekolahnya jauh?" tanya Dave.
"Lumayan, kamu sekolah yang sama dengan Lolita dan Marline." jawab Fabio.
"Lalu aku tingkat berapa masuk sekolahnya?" tanya Dave lagi.
"Nanti biar gurunya yang menentukan. Kamu usia sebelas tahun kan?" tanya Fabio.
"Ya, lebih paman. Dua bulan lagi aku berusia dua belas tahun." jawab Dave.
"Hemm, mungkin identitas barumu berbeda dengan usiamu sekarang." kata Fabio.
"Ya, terpaut satu tahun. Paman Mateo menulis usiaku bahkan lebih tua dari usia asliku." kata Dave lagi.
"Tidak masalah, itu lebih baik. Jadi usiamu sekarang tiga belas tahun?"
"Ya, kemungkinan nanti sekolahku akan lebih tinggi dari usiaku sebenarnya." kata Dave.
"Tidak apa, paman yakin kamu bisa menguasai semua pelajaran di sekolah." jata Fabio.
"Ya paman, semoga saja."
Pembicaraan di dalam mobil itu tidak terasa sudah sampai di depan pintu gerbang sekolah baru Dave. Fabio memarkirkan mobilnya di depan sekolah. Ketiga anak yang akan bersekolah di sana pun turun. Marline, Lolita dan juga Dave. Dave memandang sekeliling sekolah, memang jauh dari sekolahnya dulu. Sangat jauh, tetapi sepertinya Dave menyukai sekolah barunya itu.
_
Sekolah baru Dave lumayan nyaman untuk dirinya yang sekarang lebih penyendiri. Dia juga mengikuti kegiatan ekstrakurikuler dengan bela diri, karate. Dia memang berniat untuk ikut kegiatan ekskul tersebut. Di samping dia juga menjaga anak Fabio, Marline dan Lolita yang masih kecil.
Setiap hari Dave dan kedua anak Fabio berangkat bersama. Mereka semakin akrab, namun Dave tetap jadi anak laki-laki pendiam. Di kelasnya juga dia tidak banyak teman dan hanya beberapa orang saja yang dia ajak bicara.
"Dave, kudengar keluargamu sudah meninggal. Maksudku kedua orang tuamu." kata Clara teman satu kelasnya yang dekat dengannya.
"Hemm, ya. Mereka meninggal karena di ..." Dave menghentikan ucapannya.
"Kenapa?"
"Oh, mereka kecelakaan mobil." kata Dave baru mengingat tentang berkas yang dia miliki dengan identitas barunya.
"Hemm, aku turut berduka cita." kata Clara lagi.
"Ya, terima kasih Clara."
"Apa kamu nyaman sekolah di sini?"
"Ya, kenapa tanya seperti itu?"
"Karena aku selalu memperhatikanmu tidak pernah bicara dengan teman-teman lainnya. Bahkan denganku, aku yang mulai duluan. Apa kamu pemalu?" tanya Clara ragu.
"Tidak juga, aku hanya senang menyendiri." jawab Dave.
Keduanya juga asyik terlibat pembicaraan tentang sekolah. Dave juga menceritakan sedikit tentang sekolahnya dulu, dan Clara tertarik dengan Dave. Tapi Dave hanya diam saja, dia tahu tujuannya bersekolah dan juga tujuan hidupnya saat ini. Jadi, dia akan membatasi pertemanannya sekalipun itu dengan Clara saat ini.
"Dave, ayo pulang. Papa sudah menjemput kita." kata Marline.
"Oke, Marline. Maaf Clara, aku harus pulang karena paman Fabio sudah menjemput." kata Dave.
"Ya, silakan. Papaku juga sebentar lagi akan menjemputku. Emm, Dave apa bisa kita berteman baik? Maksudku berteman lebih dekat?" tanya Clara.
"Kita sudah dekat, maaf aku duluan." kata Dave.
Dia lalu pergi meninggalkan Clara yang masih bingung dengan sikap Dave yang tertutup. Dia menatap kepergian Dave yang semakin jauh. Marline menatap Clara, mata gadis itu masih tetap memandang Dave hingga masuk ke dalam mobil.
"Dave memang tertutup, dia kehilangan kedua orang tuanya. Jadi wajar jika dia selalu tertutup." kata Marline pada Clara.
"Hemm, ya. Kehilangan kedua orang yang sangat di cintai itu sangat menyakitkan. Aku mengerti Marline." kata Clara.
"Aku pamit Clara."
"Ya, hati-hati." kata Clara.
Marline pun masuk ke dalam mobil ayahnya, dia lalu melambaikan tangannya pada Clara yang sejak tadi menatap mobil itu. Dave sendiri merasa acuh dengan Clara, tak ada niat untuk berteman baik dengan Clara. Hanya Clara sendiri yang mendekat padanya.
"Dave, itu tadi teman barumu?" tanya Fabio.
"Iya paman, teman satu kelas." jawab Dave.
"Hemm, memang sebaiknya kamu punya teman Dave. Agar tidak saja jadi anak pemalu." kata Fabio.
Dave diam saja, dia memang sengaja menghindar dari pertemanan. Yang dia lakukan hanya untuk bekal di masa depannya. Belajar karate, bermain basket juga mempelajari IT di komputernya. Semua ingin dia pelajari.
Fabio memasuki rumahnya, dia melihat ada mobil yang tidak asing lagi. Mateo. Mateo datang lagi untuk keperluan dengan Dave. Dave lalu turun dari mobil Fabio, dia melangkah masuk di mana Mateo berada.
"Tuan Dave, anda sudah pulang?" tanya Mateo.
"Ya, ada apa paman?" tanya Dave.
Sepertinya Mateo membawa seseorang untuk di kenalkan padanya. Siapa dia? Pikir Dave. Dia memperhatikan orang yang bersama Mateo itu, menatap Mateo mencari jawaban siapa yang di bawa Mateo itu. Laki-laki yang di bawa Mateo seperti orang Asia, tepatnya China.
Fabio dan kedua putrinya pun masuk, dia juga heran. Siapa yang di bawa Mateo. Kedua putri Fabio di suruh masuk, Fabio dan Dave duduk saling berhadapan dengan Mateo dan laki-laki di sebelahnya. Menatap Mateo dengan pertanyaan yang hanya di ungkapkan dengan bahasa isyarat.
"Paman membawa seseorang siapa?" tanya Dave.
"Dia yang akan mengajari Anda ilmu bela diri tuan Dave. Anda bisa belajar berbagai ilmu bela diri." kata Mateo pada Dave.
"Hemm, jadi kamu menyuruh Dave mempersiapkan diri Mateo?" tanya Fabio.
"Tidak tuan Fabio, aku hanya berjaga-jaga kalau Tuan Dave ini harus belajar ilmu bela diri untuk menjaga dirinya." kata Mateo.
"Aku juga di sekolah ikut kegiatan ekskul karate. Tapi tidak apa paman, agar aku bisa belajar dengan lancar." jawab Dave.
Mateo memperkenalkan laki-laki yang di bawanya itu pada Dave dan juga Fabio. Laki-laki itu bernama Liu Xi Chuen,.
"Tuan Dave, dia Liu Xi Chuen. Anda bisa belajar bela diri dari Liu, dia bisa apa saja." kata Mateo.
"Baiklah paman, aku mengerti. Aku senang paman memberiku seseorang yang akan memberiku kekuatan dan ketangguhan." kata Dave.
"Ya, tapi Liu ini tidak bisa setiap hari ada. Anda bisa datang ke tempatnya. Di sana banyak sekali murid yang belajar karate, kungfu juga ilmu bela diri kainnya. Liu ini bisa apa saja tentang ilmu bela diri." kata Mateo.
Perbincangan mereka cukup lama, Mateo memberikan alamat di mana Liu tinggal. Memang Liu hanya memperkenalkan dirinya, ingin tahu Dave seperti apa.
_
_
_
♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 118 Episodes
Comments
Arin
critanya bgus,jelas bngt...jdi kya hdpn shari"😍
2024-01-20
0
Nunik
bagus banget sama ceritanya aku suka
2023-05-15
0
NandhiniAnak Babeh
hadir lagi ... aku simpan biar banyak... eh udah ada 5 bab nih 🤭🤭🤭
2022-07-09
0