Malu

Edward keluar dari kamar tamu, dengan kepalanya terasa cenat cenut, begitu juga kepala bawahnya. Senormalnya sebagai lelaki, ada hasrat yang terbangun ketika melihat wanita hampir tidak berbusana.

20 menit kemudian Dokter keluarga sudah datang, di dampingi Ria mengecek kondisi Ghina.

“Nanti tolong pakaikan baju hangat atau selimut tebal, biar badannya kembali hangat. Lalu usahakan kalau sudah sadar kasih minuman yang menghangatkan badan,” pinta Dokter Dimas.

“Baik Pak Dokter.”

“Bagaimana kondisinya Dok?” tanya Edward kembali ke kamar tamu.

“Sepertinya adik ini kelamaan berendam di air, tubuhnya tidak bisa menahan rasa dingin. Jadi pingsan sesaat, tapi nanti akan siuman dengan sendirinya. Untuk sementara tadi saya sudah minta ke si mbaknya untuk menyelimutinya pakai selimut tebal.”

“Saya juga akan tulis resep obat, untuk di minumnya," sambung Dokter Dimas.

“Baik Dok, terima kasih.”

Dengan memasukkan ke dua tangannya ke kantong celana, Edward menatap Ghina dari tempat dia berdiri.

Menyusahkan orang saja!

“Ria, jaga Ghina sampai siuman. Saya harus ke kantor.”

“Baik Tuan.”

Ria bergegas menyelimuti Ghina agak badannya yang dingin kembali ke suhu normal.

1 Jam kemudian......

“Eeugh...” lenguh Ghina, merasa badannya agak kurang enak.

“Non Ghina......sudah sadarkah?” tanya Ria yang sabar menemani Ghina.

“Mbak Ria.......ini badan saya kenapa?” dia melihat tubuhnya di selimuti oleh beberapa helai selimut.

“Tadi Non Ghina pingsan di bathub, bibirnya sampai biru dan badannya dingin.”

“Astaga......saya sampai ketiduran ya. Trus mbak Ria yang angkat saya dari bathub?”

“Bukan Non, saya mana kuat. Yang angkat Non tadi Tuan Besar.”

DEG

“Berarti Om Edward lihat badan saya yang..." Ghina menutup mulutnya dengan salah satu tangannya.

“Iya Non.....” Ria menganggukkan kepalanya.

“OMG.......bodohnya lo Ghina  berendem sampai pingsan,” gumam Ghina, sambil mengetuk kepalanya sendiri.

Berarti tubuh gue udah dilihat sama Om Edward.......duh malunya gue.......mau di kemanaiin muka gue kalau ketemu Om Edward.

“Non sekarang minum dulu, saya sudah buatkan jahe susu, sama makan pakai sup ayam. Biar hangat badannya dan cepat pulih."

Ghina menyandarkan dirinya setengah duduk di kepala ranjang, dan menerima minuman yang telah di buatkan Ria.

“Makasih banyak ya mbak, enak susu jahenya.”

“Mbak Ria, Om Edwardnya masih ada di mansion?”

“Sejam yang lalu sudah berangkat ke kantor bersama non Kiren.”

“Syukurlah kalau begitu.”

“Mbak sorry nanya lagi, mbak Kiren tinggal di sini juga?”

“Iya Non, Non Kiren sudah hampir setahun tinggal di sini. Kamarnya di sebelah Tuan Besar.”

“Ooooo...” membulat bibir Ghina, tak di sangka pasangan tersebut sudah satu rumah.

Ghina melanjutkan minumnya dan sarapan pagi yang telat.

Ria tanpa sengaja memperhatikan Ghina ..”Non....saya boleh nanya gak?”

“Nanya apa mbak?”

“Non Ghina....siapanya Tuan Besar?”

“Papa saya masih saudara sepupu jauh dengan Om Edward, yaa berarti saya saudaranya......yaa kayak keponakan jauhlah,” jawab Ghina sambil mengunyah makannya.

“Oh pantesan non panggil Tuan Besar.... Om.”

Ghina menganggukkan kepalanya.

“Nanti setelah makan, minum obat ini ya Non,” ucap Ria sambil menjulurkan beberapa obat.

“Loh kok minum obat mbak?”

“Tadi waktu non pingsan, Tuan Besar panggil dokter. Jadi dokter kasih obat ini untuk non minum.”

“Oooo...." Ghina kembali membulat dan meminum obatnya.

“Mbak Ria nanti kalau ada tamu yang cariin saya, tolong kasih tahu ya. Mata saya kok rasanya pengen tidur lagi.”

“Mungkin efek dari obat biar istirahat lagi. Ya nanti saya kabarin Non. Sekarang tidur aja dulu."

Ghina kembali menyelimuti tubuhnya, dan Ria kembali ke dapur bergabung dengan pelayan lainnya.

🌹🌹

“HEI......Kalian yang bertugas di dapur cepat siapkan makan siang untuk Tuan Besar!” perintah Kepala Pelayan mansion Edward.

Para pelayan tampak grabak gerubuk dapat kabar Tuan Besar makan siang di mansion, tidak biasanya makan di mansion.

“Ria.....Ghina sudah siuman?” tanya Edward saat berpas-pasan dengan Ria.

“Sudah Tuan Besar, sekarang lagi istirahat di kamar,” jawab Ria.

Selama di kantor, Edward tidak konsentrasi bekerja dan tidak tenang. Pikirannya ingin segera balik ke mansionnya. Akhirnya dia menyuruh asistennya melanjutkan pekerjaannya dan dia memutuskan untuk pulang ke mansion.

“Nanti bilang ke kepala pelayan mengantarkan makan siang saya di kamar tamu, sekalian bawa makan siang untuk Ghina,” perintah Edward.

“Baik Tuan Besar.”

Edward melangkahkan kakinya ke kamar tamu yang di tempati Ghina di lantai 1.

Ghina masih menyelimuti tubuhnya dengan selimut, hanya tampak kepalanya saja. Wajahnya sudah tidak terlihat pucat, warna bibirnya kembali merah.

Edward menghempaskan dirinya di sofa yang berada di kamar tamu tersebut.

“Permisi Tuan Besar,” sapa Kepala Pelayan bersama Ria membawakan troly makanan. Beberapa makanan di sajikan di meja sofa.

“Selamat makan siang Tuan, ada yang bisa saya bantu lagi Tuan?” tanya Kepala Pelayan.

“Cukup, kalian bisa keluar dari kamar!”

“Baik Tuan, kami permisi.”

Selepas para pelayan pergi, Edward mendekati ranjang Ghina.

“Ghina...” panggil Edward dengan salah satu tangannya menepuk pipi Ghina.

“Ghina...” panggilnya kembali.

“Mmmm......apa mbak Ria......masih ngantuk nih,” jawab Ghina dengan mata terpejam.

“GHINA.....!” suara Edward naik satu oktaf.

Ghina mulai mengerjapkan kedua matanya setelag mendengar suara pria yang menyebut namanya.

“Ooooh Om Edward!” jawab Ghina dari balik selimutnya.

“Bangun.....makan dulu!” titah Edward dengan sikap dinginnya.

“Mmmmm..... ”gumam Ghina, dia bangun dari tidurnya dan beranjak berdiri menuju sofa.

Edward sudah mulai menyantap makan siangnya, di susul Ghina ikut menyantap makan siang.

Sesekali Edward melirik Ghina yang sedang makan, sedangkan Ghina sibuk menyantap makannya.

“Saya ajak kamu makan siang bukan karena perhatian dengan kamu,” ucap Edward membuka pembicaraan.

“Jadi kamu jangan GE-ER!” ucap Edward lagi mempertegas.

Ghina tidak membalas pernyataan Edward, dan tidak menatap sedikit pun ke arah Edward. Ghina mengunyah makan siangnya dengan tenang.

“Hemmm...” Edward bergumam menunggu jawaban dari Ghina.

Merasa di acuhkan Ghina, Edward kembali menyantap makan siangnya dengan wajah kecewanya.

Sedangkan Ghina lebih sering menunduk atau memalingkan wajahnya jika sekiranya dia akan bersitatap dengan Edward.

Cepetan selesai kenapa makannya, dan keluar dari kamar ini......batin Ghina gelisah.

Ghina menyelesaikan makan siangnya lebih cepat dari pada Edward, dan segera bangkit dari duduknya menuju ranjang.

“Habis makan jangan langsung tidur, tidak baik buat lambung,” tegur Edward.

Ghina hanya mendengarnya saja tanpa menjawabnya lagi. Tidak ada yang bisa dia lakukan, akhirnya dia memilih duduk di sofa yang posisinya pas di depan televisi, dan menyetelnya.

Melihat Ghina sedang menonton tv, Edward memutuskan untuk melanjutkan pekerjaannya di ruang kerjanya.

Ah akhirnya Om Edward keluar juga dari kamar.

 

TOK......TOK.......TOK

“Masuk!” ucap Ghina dari dalam kamar.

“Permisi Non Ghina,” ucap Ria.

“Eh mbak Ria....”

“Non......di luar ada yang cariin namanya Rika.”

“Akhirnya datang juga, tapi mbak Ria gimana cara supaya bertemu dengan teman saya?”

“Begini non, nanti saya bilang sama security kalau Rika saudara saya mau jenguk. Nanti non Ghina bisa ketemu di paviliun belakang.”

“Ide cemerlang nih mbak, tapi saya kan gak tahu paviliunnya ada di mana,” bibir Ghina mengerucut.

“Saya antar non dulu ke paviliun, baru jemput teman non, gimana?”

“Oke Mbak.”

bersambung ....

Terpopuler

Comments

Rusmini Rusmini

Rusmini Rusmini

semoga gak ketahuan hihihi.... 😁😁

2024-12-31

0

Rapa Rasha

Rapa Rasha

moga aja tu mbk ria orang baik ya

2024-08-18

4

Ani Ani

Ani Ani

ada yang simpati

2024-08-17

1

lihat semua
Episodes
1 Lamaran yang tak terduga
2 Makan Siang
3 Pembicaraan 2 sohib
4 Tamu di rumah dan di sekolah
5 Datang lagi ke sekolah
6 Mansion Thalib
7 Makan Malam
8 Buat apa datang?
9 Pindah ke Mall lain
10 Wanita berkebaya
11 Karena wajah cantik!
12 Memilih pergi ...
13 Pergi dari rumah
14 Masih kabur......
15 Ditemukan
16 Kelamaan berendem
17 Malu
18 Dicariin ...
19 Kabur lagi....
20 Kembali ke rumah
21 Memajukan tanggal pernikahan
22 Pemotretan
23 Ghina Shock
24 Foto Prawedding
25 Terpaksa atau dipaksa ?
26 Berkata jujur
27 Wanita Penari
28 Menuju Hari H
29 Pernikahan
30 Tergoda
31 Sarapan Pagi
32 Welcome to the jungle
33 Perkara telepon
34 Kabar gembira
35 Me Time
36 Suasana pengantin baru
37 Malam Pertama
38 Mulai pertengkaran
39 Pertengkaran Hebat
40 Uang nafkah
41 Terluka
42 Rumah sakit
43 Siuman
44 Menantang Om Edward
45 Takkan berhenti menantang ...
46 Opa dan Oma tahu!
47 Om Edward VS Dokter Irvan
48 Hati yang memanas
49 Kepergok
50 Rahasia Kiren
51 Bunga Tulip
52 Kesempatan ...
53 Pernyataan Suka
54 Pelayan
55 Beli Handphone
56 Awal keributan
57 Melawannya
58 Bercerita tentang rasa
59 Akan menjemput Ghina
60 Mencari yang belum pergi
61 Menemukan Ghina
62 Kedatangan Opa Thalib dan Oma Ratna
63 Mimpi Buruk
64 Dia benar-benar pergi
65 Hati yang hancur
66 Hanya tinggal kenangan
67 Sarapan Pagi
68 Datang ke rumah sakit
69 Jangan coba lawan Ghina
70 Mengejarnya
71 Telepon
72 Persiapan
73 It's hard to say goodbye
74 Gadis Kecil
75 Welcome Yogyakarta
76 Berkunjung ke kampus
77 Rahasia mulai terkuak
78 Menahan emosi
79 Secangkir kopi
80 Hatimu Hatiku
81 Datang ke mansion utama....
82 Histeris
83 Nasehat Ferdi
84 Mencari bukti
85 Rumah Ghina
86 Rumah Ghina
87 Memohon
88 Surat!!!
89 Mulai usaha
90 Edward VS Kiren
91 Talak
92 Terluka
93 Henti Jantung
94 Kritis
95 Mengabari
96 Bukalah matamu
97 Aku mendengarmu
98 Bangunnya Singa Betina
99 Detak jantung berhenti
100 Berpisah
101 Hidup harus tetap berjalan
102 Calon bidadari surga
103 Makan malam bersama
104 Benci
105 Pembicaraan antara Ibu dan Anak
106 Toko Kue Gina's
107 Tak ingin bercerai
108 Pacar Mbak Ghina
109 Bertemu kembali
110 Masalah Laporan
111 Bertemu untuk bertengkar
112 Rapat Manajer
113 Ghina istri Edward
114 Perhatian Edward
115 Ungkapan hati
116 Di gerebek
117 Menolak permintaan Opa
118 Antar Ghina pulang
119 Merawat Ghina - 1
120 Merawat Ghina - 2
121 Merawat Ghina - 3
122 Aku takut
123 Kabar Pak Bowo dan Bu Sari
124 Kisah Buket Bunga Tulip
125 Pagi yang manis...
126 Kabar mengejutkan
127 Kejutan dari Opa Thalib
128 Test DNA
129 Sayang/Baby/Honey
130 Masalah tidur
131 Kedatangan Rafael
132 Akibat ciuman
133 Minta maaf
134 Membuka lembaran baru
135 Minta restu Papa Zakaria
136 Merestui
137 Akad Nikah
138 Bicara dari hati ke hati
139 Kenalan sama si Jon
140 Ada yang datang
141 Akibat kedatangan Rafael
142 Saling memaafkan
143 Cemburu
144 OM OM
145 Bahagia itu sederhana
146 Hubby
147 Mencintai suamiku
148 Berkunjung ke toko kue Gina's
149 Ketika sensasi itu datang
150 Malam pertama
151 Masih malam pertama
152 Mandi
153 Bantuin Istri
154 Mencari pengganti
155 Pacaran
156 Nonton di bioskop
157 Double Date
158 Menagih janji
159 Bikin anak
160 Dapat kabar
161 Berpisah dengan sahabat
162 Selamat Tinggal Kota Yogyakarta
163 Selamat datang di Jakarta
164 Pindah mansion
165 Promo Novel Kekasih Taruhan Tuan Bangsawan
166 Aroma bawang goreng
167 Kado untuk Oma Ratna dan Opa Thalib
168 Perkara rujak
169 Cilok
170 Feeling Istri
171 Kejutan indah
172 Menuju lahiran
173 Welcome Baby Twin
174 Intermezzo
175 Intermezzo : Dijual Ayahku Dibeli Bosku
176 NOVEL FORGETTING YOU
177 Info novel terbaru : Terpaksa Menikahi CEO Lumpuh
178 Info Novel Terbaru : Salahkah Aku Mencintaimu?
179 Info Novel : Sahabatku, Penggoda Suamiku
180 Info novel terbaru Mommy Ghina
181 Info kisah anaknya Edward dan Ghina
182 Info Karya Terbaru
183 PROMOSI KARYA TERBARU MOMMY GHINA
184 Info Karya Terbaru Mommy Ghina
Episodes

Updated 184 Episodes

1
Lamaran yang tak terduga
2
Makan Siang
3
Pembicaraan 2 sohib
4
Tamu di rumah dan di sekolah
5
Datang lagi ke sekolah
6
Mansion Thalib
7
Makan Malam
8
Buat apa datang?
9
Pindah ke Mall lain
10
Wanita berkebaya
11
Karena wajah cantik!
12
Memilih pergi ...
13
Pergi dari rumah
14
Masih kabur......
15
Ditemukan
16
Kelamaan berendem
17
Malu
18
Dicariin ...
19
Kabur lagi....
20
Kembali ke rumah
21
Memajukan tanggal pernikahan
22
Pemotretan
23
Ghina Shock
24
Foto Prawedding
25
Terpaksa atau dipaksa ?
26
Berkata jujur
27
Wanita Penari
28
Menuju Hari H
29
Pernikahan
30
Tergoda
31
Sarapan Pagi
32
Welcome to the jungle
33
Perkara telepon
34
Kabar gembira
35
Me Time
36
Suasana pengantin baru
37
Malam Pertama
38
Mulai pertengkaran
39
Pertengkaran Hebat
40
Uang nafkah
41
Terluka
42
Rumah sakit
43
Siuman
44
Menantang Om Edward
45
Takkan berhenti menantang ...
46
Opa dan Oma tahu!
47
Om Edward VS Dokter Irvan
48
Hati yang memanas
49
Kepergok
50
Rahasia Kiren
51
Bunga Tulip
52
Kesempatan ...
53
Pernyataan Suka
54
Pelayan
55
Beli Handphone
56
Awal keributan
57
Melawannya
58
Bercerita tentang rasa
59
Akan menjemput Ghina
60
Mencari yang belum pergi
61
Menemukan Ghina
62
Kedatangan Opa Thalib dan Oma Ratna
63
Mimpi Buruk
64
Dia benar-benar pergi
65
Hati yang hancur
66
Hanya tinggal kenangan
67
Sarapan Pagi
68
Datang ke rumah sakit
69
Jangan coba lawan Ghina
70
Mengejarnya
71
Telepon
72
Persiapan
73
It's hard to say goodbye
74
Gadis Kecil
75
Welcome Yogyakarta
76
Berkunjung ke kampus
77
Rahasia mulai terkuak
78
Menahan emosi
79
Secangkir kopi
80
Hatimu Hatiku
81
Datang ke mansion utama....
82
Histeris
83
Nasehat Ferdi
84
Mencari bukti
85
Rumah Ghina
86
Rumah Ghina
87
Memohon
88
Surat!!!
89
Mulai usaha
90
Edward VS Kiren
91
Talak
92
Terluka
93
Henti Jantung
94
Kritis
95
Mengabari
96
Bukalah matamu
97
Aku mendengarmu
98
Bangunnya Singa Betina
99
Detak jantung berhenti
100
Berpisah
101
Hidup harus tetap berjalan
102
Calon bidadari surga
103
Makan malam bersama
104
Benci
105
Pembicaraan antara Ibu dan Anak
106
Toko Kue Gina's
107
Tak ingin bercerai
108
Pacar Mbak Ghina
109
Bertemu kembali
110
Masalah Laporan
111
Bertemu untuk bertengkar
112
Rapat Manajer
113
Ghina istri Edward
114
Perhatian Edward
115
Ungkapan hati
116
Di gerebek
117
Menolak permintaan Opa
118
Antar Ghina pulang
119
Merawat Ghina - 1
120
Merawat Ghina - 2
121
Merawat Ghina - 3
122
Aku takut
123
Kabar Pak Bowo dan Bu Sari
124
Kisah Buket Bunga Tulip
125
Pagi yang manis...
126
Kabar mengejutkan
127
Kejutan dari Opa Thalib
128
Test DNA
129
Sayang/Baby/Honey
130
Masalah tidur
131
Kedatangan Rafael
132
Akibat ciuman
133
Minta maaf
134
Membuka lembaran baru
135
Minta restu Papa Zakaria
136
Merestui
137
Akad Nikah
138
Bicara dari hati ke hati
139
Kenalan sama si Jon
140
Ada yang datang
141
Akibat kedatangan Rafael
142
Saling memaafkan
143
Cemburu
144
OM OM
145
Bahagia itu sederhana
146
Hubby
147
Mencintai suamiku
148
Berkunjung ke toko kue Gina's
149
Ketika sensasi itu datang
150
Malam pertama
151
Masih malam pertama
152
Mandi
153
Bantuin Istri
154
Mencari pengganti
155
Pacaran
156
Nonton di bioskop
157
Double Date
158
Menagih janji
159
Bikin anak
160
Dapat kabar
161
Berpisah dengan sahabat
162
Selamat Tinggal Kota Yogyakarta
163
Selamat datang di Jakarta
164
Pindah mansion
165
Promo Novel Kekasih Taruhan Tuan Bangsawan
166
Aroma bawang goreng
167
Kado untuk Oma Ratna dan Opa Thalib
168
Perkara rujak
169
Cilok
170
Feeling Istri
171
Kejutan indah
172
Menuju lahiran
173
Welcome Baby Twin
174
Intermezzo
175
Intermezzo : Dijual Ayahku Dibeli Bosku
176
NOVEL FORGETTING YOU
177
Info novel terbaru : Terpaksa Menikahi CEO Lumpuh
178
Info Novel Terbaru : Salahkah Aku Mencintaimu?
179
Info Novel : Sahabatku, Penggoda Suamiku
180
Info novel terbaru Mommy Ghina
181
Info kisah anaknya Edward dan Ghina
182
Info Karya Terbaru
183
PROMOSI KARYA TERBARU MOMMY GHINA
184
Info Karya Terbaru Mommy Ghina

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!