Tamu di rumah dan di sekolah

“Gak ada yang jemput Ghina kok di sekolah. Ah paling itu alasan Om Edward aja mam, padahal makan siang bareng mbak Kiren,” jawab asal Ghina.

“Dah ... Ghina mau ganti baju dulu, habis itu mau bikin pesanan kue buat Bu Tayo,” Ghina menuju kamarnya.

“Ok nak, mama siapkan bahannya ya.”

“Makasih mama cantik,” sahut Ghina dari kamarnya.

Selesai ganti baju, dan makan siang Ghina langsung berkutat di dapur di bantu sama Bik Inem dan mama Sarah. Sudah hampir setahun, Ghina mulai percaya diri menerima pesanan kue mulai dari cake biasa lalu cake ulang tahun. Lumayan buat mengisi tabungannya, hobinya menjadi ladang rezeki buatnya. Dan mama Sarah sangat mendukung hobi anak perempuannya.

.

.

Menjelang malam tiba ...

 

Ghina sudah selesai membuat kue pesanan Bu Tayo, dan sekarang pergi untuk mengantar ke rumah Bu Tayo yang jaraknya hanya beberapa blok dari rumahnya.

Sekembalinya dari mengantar kue, Ghina menyipitkan matanya ketika melihat mobil mewah yang terparkir di depan rumahnya, sepertinya sama dengan mobil yang lewat di depan sekolahnya.

Buat apa Om Edward ke rumah? ... asal tebak Ghina.

Ruang tamu tampak ada orang yang berbincang-bincang.

“Kamu dari mana, Nak?” tanya Papa Zakaria yang sedang mengobrol dengan Edward.

“Habis antar pesanan kue Bu Tayo, Pah,” jawab Ghina sambil salam takzim ke papa nya. Terlihat papanya baru pulang kerja.

Mau tidak mau dengan rasa tidak senang hati Ghina mencium punggung tangan Edward di depan Papanya.

Edward terlihat tersenyum. Tanpa berbasa-basi lagi Ghina masuk ke kamarnya.

“Ayo Edward silakan dimakan cakenya,” ucap Mama Sarah mempersilahkan.

Edward segera memakan sepotong cake yang dihidangkan mama Sarah. “Cakenya beli di mana Kak Sarah, enak sekali cakenya lembut dan tidak terlalu manis.” Edward terlihat sangat menikmati suguhan cakenya.

“Cakenya gak beli, ini buatan Ghina,” jawab mama Sarah.

“Uhuk ... uhuk ... uhuk!” Tiba-tiba tenggorokan Edward tercekat mendengar cake yang dia makan buatan bocah.

“Pelan-pelan aja makannya, kita gak minta kok. Kalau mau nambah masih ada di dapur,” goda mama Sarah.

Edward mengulas senyum tipis ...

“Bang, saya mau bicara dengan Ghina bisa?”

“Tunggu biar saya panggilkan!” ujar Mama Sarah.

“Maafkan Abang, kalau anak abang masih kelihatan seperti bocah. Ghina umurnya baru 17 tahun, harus banyak bersabar menghadapinya,” pinta Papa Zakaria.

“Saya mengerti Bang.”

“Pah, Ghina gak mau keluar dari kamar. Pintunya kamarnya dikunci,” ucap Mama Sarah ketika balik ke ruang tamu.

“Mungkin Ghina kecapean, gak pa-pa besok saya jemput dia di sekolah. Kalau begitu saya pamit pulang dulu Bang Zaka, Kak Sarah,” Edward pamit pulang.

“Ya sudah, hati-hati di jalan Edward,” ujar Papa Zakaria, mengantar Edward sampai pintu mobilnya.

Dasar bocah banyak amat tingkahnya, hati Edward geram setelah menerima penolakan dari Ghina.

Mendengar suara mobil pergi dari depan rumahnya, Ghina bernapas lega, lalu dia keluar kamar karena perutnya sudah kelaparan belum sempat makan malam.

“Seharusnya kamu sopan dengan tamu yang datang ke rumah ini,” tegur Papa Zaka saat mereka sekeluarga di meja makan.

Ghina masih cuek dengan omongan Papanya, fokus dengan makannya.

“Kamu punya telinga gak Ghin! Dengar omongan Papa!”

“Ingat Edward itu calon suami kamu ...!” lanjut ucap Papa Zakaria.

“Papa ... bisa tidak membahas itu terus, Ghina pusing Pah, sekali lagi Ghina menolak perjodohan ini!” pinta Ghina berusaha berkata lembut pada papanya.

“Atau jangan-jangan Papa punya hutang besar dengan Keluarga Thalib, sampai Ghina dijodohkan dengan anak mereka?”

“Berapa Pah hutangnya, biar Ghina bekerja keras untuk melunasinya ketimbang Ghina harus menikah dengan Om Edward?”

Papa Zakaria dan Mama Sarah tersentak dengan ucapan Ghina. Tidak satu pun jawaban yang keluar dari kedua orang tuanya.

“Papa sama Mama tega menjual anaknya sendiri, atau jangan-jangan Ghina ini anak pungut!” Ghina meninggalkan meja makan, dan kembali mengunci kamarnya.

Mata mama Sarah mulai berkaca-kaca mendengar kata-kata Ghina, dan ikut meninggalkan meja makan.

Papa Zakaria terpaku di meja makan, sedangkan si bungsu Rio tidak menghiraukan dengan keadaan di meja makan barusan.

.

.

Selepas kejadian saat makan malam, pagi ini Ghina berangkat sekolah tanpa sarapan tapi membawa bekal sisa kue yang kemarin dia bikin dengan sekotak susu coklat, namun tidak berpamitan dengan mama Sarah. Sedangkan Papanya seperti biasa sudah berangkat kerja pagi-pagi untuk menghindari macetnya ibu kota.

Untungnya kegiatan hari ini tidak terlalu padat, khususnya kelas 12 tidak ada lagi materi pelajaran.

Sebagian siswa ada beberapa yang ke perpustakaan, ada juga yang menghabiskan waktu dengan temannya di kelas.

“Ada Ghina gak?” ujar Guru Piket yang masuk ke kelas Ghina.

“Ya Bu ... saya ada,” tunjuk Ghina.

“Ada tamu buat kamu di ruang tunggu,” ujar Guru Piket.

“Siap Bu, terima kasih.”

“Siapa yang mau ketemu gue di jam sekolah,” gumam Ghina sendiri, sambil melangkahkan kaki ke ruang tunggu.

Di ruang tunggu terlihat wanita cantik, dengan setelan baju kerjanya terlihat anggun duduk di kursi tunggu.

“Mbak Kiren,” sapa Ghina terheran, kenapa bisa tahu keberadaan sekolah dia.

“Ghina, Mbak mau bicara sebentar."

Ghina mendudukkan bokongnya di kursi berhadapan dengan Kiren.

“Mbak di sini mewakilkan Kak Edward, sepertinya kamu menghindari dia terus. Kamu tahukan Kak Edward itu CEO, punya kesibukan sendiri, tidak mungkin mengejar untuk ketemu kamu, harus meninggalkan pekerjaannya.”

“Tidak selamanya pria yang berjabatan CEO mengejar untuk ketemu bocah seperti kamu, yang tidak ada artinya apa-apa. Harusnya kamu mengerti dan jangan jual mahal!”

Ghina mulai melipat kedua tangannya di depan dadanya, lalu menaikkan salah satu kakinya bertumpu ke paha sebelahnya. Ditatapnya dengan tajam wanita dewasa yang ada dihadapinya.

“Lalu ...," ucap Ghina.

“Kamu harus menerima perjodohan kalian, agar Kak Edward dan aku bisa menikah juga. Dan kamu tenang saja, Kak Edward bisa membayar berapa pun yang kamu minta sebagai timbal baliknya,” jawab angkuh Kiren.

Tidak menyangka wanita yang selama ini terlihat lemah lembut di depan keluarga Thalib, bisa terlihat angkuh juga, batin Ghina

“Bilang sama kekasihmu yang CEO itu, sampai kapan pun saya tidak menerima perjodohan ini. Dan buat mbak Kiren, kenapa harus membujuk saya. Seharusnya kalau memang ingin dapat restu menikah dengan Om Edward, ambil hati kedua orang tua Om Edward. Mbak sudah salah datang ke saya.”

“Saya permisi, masih ada jam pelajaran,” Ghina meninggalkan Kiren begitu saja.

Dasar anak kurang ajar ... pandai melawan dia ... batin Kiren.

“Gak yang laki, gak yang perempuan ...satu tipe,” gerutu Ghina.

.

.

Jam pulang sekolah sudah tiba, kali ini Ghina berencana untuk mampir ke sanggar tarinya, tempat biasa dia berlatih nari.

.

.

bersambung

Terpopuler

Comments

Nic

Nic

logikanya jalan ini, ngapain sia sia in masa muda dengan menikah mudah kemudia hanya dijadikan tumbal beh kasus men

2025-01-22

0

hanie tsamara

hanie tsamara

gk yg laki..gk yg peremouan..
satu frekuensi..

makany opa thalib gk ngerestuin mrk ghina🤭🤭

2025-01-18

0

Ita Zarah

Ita Zarah

saya suka wanita yg penuh perjuang untuk hatga diri nya

2025-01-02

0

lihat semua
Episodes
1 Lamaran yang tak terduga
2 Makan Siang
3 Pembicaraan 2 sohib
4 Tamu di rumah dan di sekolah
5 Datang lagi ke sekolah
6 Mansion Thalib
7 Makan Malam
8 Buat apa datang?
9 Pindah ke Mall lain
10 Wanita berkebaya
11 Karena wajah cantik!
12 Memilih pergi ...
13 Pergi dari rumah
14 Masih kabur......
15 Ditemukan
16 Kelamaan berendem
17 Malu
18 Dicariin ...
19 Kabur lagi....
20 Kembali ke rumah
21 Memajukan tanggal pernikahan
22 Pemotretan
23 Ghina Shock
24 Foto Prawedding
25 Terpaksa atau dipaksa ?
26 Berkata jujur
27 Wanita Penari
28 Menuju Hari H
29 Pernikahan
30 Tergoda
31 Sarapan Pagi
32 Welcome to the jungle
33 Perkara telepon
34 Kabar gembira
35 Me Time
36 Suasana pengantin baru
37 Malam Pertama
38 Mulai pertengkaran
39 Pertengkaran Hebat
40 Uang nafkah
41 Terluka
42 Rumah sakit
43 Siuman
44 Menantang Om Edward
45 Takkan berhenti menantang ...
46 Opa dan Oma tahu!
47 Om Edward VS Dokter Irvan
48 Hati yang memanas
49 Kepergok
50 Rahasia Kiren
51 Bunga Tulip
52 Kesempatan ...
53 Pernyataan Suka
54 Pelayan
55 Beli Handphone
56 Awal keributan
57 Melawannya
58 Bercerita tentang rasa
59 Akan menjemput Ghina
60 Mencari yang belum pergi
61 Menemukan Ghina
62 Kedatangan Opa Thalib dan Oma Ratna
63 Mimpi Buruk
64 Dia benar-benar pergi
65 Hati yang hancur
66 Hanya tinggal kenangan
67 Sarapan Pagi
68 Datang ke rumah sakit
69 Jangan coba lawan Ghina
70 Mengejarnya
71 Telepon
72 Persiapan
73 It's hard to say goodbye
74 Gadis Kecil
75 Welcome Yogyakarta
76 Berkunjung ke kampus
77 Rahasia mulai terkuak
78 Menahan emosi
79 Secangkir kopi
80 Hatimu Hatiku
81 Datang ke mansion utama....
82 Histeris
83 Nasehat Ferdi
84 Mencari bukti
85 Rumah Ghina
86 Rumah Ghina
87 Memohon
88 Surat!!!
89 Mulai usaha
90 Edward VS Kiren
91 Talak
92 Terluka
93 Henti Jantung
94 Kritis
95 Mengabari
96 Bukalah matamu
97 Aku mendengarmu
98 Bangunnya Singa Betina
99 Detak jantung berhenti
100 Berpisah
101 Hidup harus tetap berjalan
102 Calon bidadari surga
103 Makan malam bersama
104 Benci
105 Pembicaraan antara Ibu dan Anak
106 Toko Kue Gina's
107 Tak ingin bercerai
108 Pacar Mbak Ghina
109 Bertemu kembali
110 Masalah Laporan
111 Bertemu untuk bertengkar
112 Rapat Manajer
113 Ghina istri Edward
114 Perhatian Edward
115 Ungkapan hati
116 Di gerebek
117 Menolak permintaan Opa
118 Antar Ghina pulang
119 Merawat Ghina - 1
120 Merawat Ghina - 2
121 Merawat Ghina - 3
122 Aku takut
123 Kabar Pak Bowo dan Bu Sari
124 Kisah Buket Bunga Tulip
125 Pagi yang manis...
126 Kabar mengejutkan
127 Kejutan dari Opa Thalib
128 Test DNA
129 Sayang/Baby/Honey
130 Masalah tidur
131 Kedatangan Rafael
132 Akibat ciuman
133 Minta maaf
134 Membuka lembaran baru
135 Minta restu Papa Zakaria
136 Merestui
137 Akad Nikah
138 Bicara dari hati ke hati
139 Kenalan sama si Jon
140 Ada yang datang
141 Akibat kedatangan Rafael
142 Saling memaafkan
143 Cemburu
144 OM OM
145 Bahagia itu sederhana
146 Hubby
147 Mencintai suamiku
148 Berkunjung ke toko kue Gina's
149 Ketika sensasi itu datang
150 Malam pertama
151 Masih malam pertama
152 Mandi
153 Bantuin Istri
154 Mencari pengganti
155 Pacaran
156 Nonton di bioskop
157 Double Date
158 Menagih janji
159 Bikin anak
160 Dapat kabar
161 Berpisah dengan sahabat
162 Selamat Tinggal Kota Yogyakarta
163 Selamat datang di Jakarta
164 Pindah mansion
165 Promo Novel Kekasih Taruhan Tuan Bangsawan
166 Aroma bawang goreng
167 Kado untuk Oma Ratna dan Opa Thalib
168 Perkara rujak
169 Cilok
170 Feeling Istri
171 Kejutan indah
172 Menuju lahiran
173 Welcome Baby Twin
174 Intermezzo
175 Intermezzo : Dijual Ayahku Dibeli Bosku
176 NOVEL FORGETTING YOU
177 Info novel terbaru : Terpaksa Menikahi CEO Lumpuh
178 Info Novel Terbaru : Salahkah Aku Mencintaimu?
179 Info Novel : Sahabatku, Penggoda Suamiku
180 Info novel terbaru Mommy Ghina
181 Info kisah anaknya Edward dan Ghina
182 Info Karya Terbaru
183 PROMOSI KARYA TERBARU MOMMY GHINA
184 Info Karya Terbaru Mommy Ghina
Episodes

Updated 184 Episodes

1
Lamaran yang tak terduga
2
Makan Siang
3
Pembicaraan 2 sohib
4
Tamu di rumah dan di sekolah
5
Datang lagi ke sekolah
6
Mansion Thalib
7
Makan Malam
8
Buat apa datang?
9
Pindah ke Mall lain
10
Wanita berkebaya
11
Karena wajah cantik!
12
Memilih pergi ...
13
Pergi dari rumah
14
Masih kabur......
15
Ditemukan
16
Kelamaan berendem
17
Malu
18
Dicariin ...
19
Kabur lagi....
20
Kembali ke rumah
21
Memajukan tanggal pernikahan
22
Pemotretan
23
Ghina Shock
24
Foto Prawedding
25
Terpaksa atau dipaksa ?
26
Berkata jujur
27
Wanita Penari
28
Menuju Hari H
29
Pernikahan
30
Tergoda
31
Sarapan Pagi
32
Welcome to the jungle
33
Perkara telepon
34
Kabar gembira
35
Me Time
36
Suasana pengantin baru
37
Malam Pertama
38
Mulai pertengkaran
39
Pertengkaran Hebat
40
Uang nafkah
41
Terluka
42
Rumah sakit
43
Siuman
44
Menantang Om Edward
45
Takkan berhenti menantang ...
46
Opa dan Oma tahu!
47
Om Edward VS Dokter Irvan
48
Hati yang memanas
49
Kepergok
50
Rahasia Kiren
51
Bunga Tulip
52
Kesempatan ...
53
Pernyataan Suka
54
Pelayan
55
Beli Handphone
56
Awal keributan
57
Melawannya
58
Bercerita tentang rasa
59
Akan menjemput Ghina
60
Mencari yang belum pergi
61
Menemukan Ghina
62
Kedatangan Opa Thalib dan Oma Ratna
63
Mimpi Buruk
64
Dia benar-benar pergi
65
Hati yang hancur
66
Hanya tinggal kenangan
67
Sarapan Pagi
68
Datang ke rumah sakit
69
Jangan coba lawan Ghina
70
Mengejarnya
71
Telepon
72
Persiapan
73
It's hard to say goodbye
74
Gadis Kecil
75
Welcome Yogyakarta
76
Berkunjung ke kampus
77
Rahasia mulai terkuak
78
Menahan emosi
79
Secangkir kopi
80
Hatimu Hatiku
81
Datang ke mansion utama....
82
Histeris
83
Nasehat Ferdi
84
Mencari bukti
85
Rumah Ghina
86
Rumah Ghina
87
Memohon
88
Surat!!!
89
Mulai usaha
90
Edward VS Kiren
91
Talak
92
Terluka
93
Henti Jantung
94
Kritis
95
Mengabari
96
Bukalah matamu
97
Aku mendengarmu
98
Bangunnya Singa Betina
99
Detak jantung berhenti
100
Berpisah
101
Hidup harus tetap berjalan
102
Calon bidadari surga
103
Makan malam bersama
104
Benci
105
Pembicaraan antara Ibu dan Anak
106
Toko Kue Gina's
107
Tak ingin bercerai
108
Pacar Mbak Ghina
109
Bertemu kembali
110
Masalah Laporan
111
Bertemu untuk bertengkar
112
Rapat Manajer
113
Ghina istri Edward
114
Perhatian Edward
115
Ungkapan hati
116
Di gerebek
117
Menolak permintaan Opa
118
Antar Ghina pulang
119
Merawat Ghina - 1
120
Merawat Ghina - 2
121
Merawat Ghina - 3
122
Aku takut
123
Kabar Pak Bowo dan Bu Sari
124
Kisah Buket Bunga Tulip
125
Pagi yang manis...
126
Kabar mengejutkan
127
Kejutan dari Opa Thalib
128
Test DNA
129
Sayang/Baby/Honey
130
Masalah tidur
131
Kedatangan Rafael
132
Akibat ciuman
133
Minta maaf
134
Membuka lembaran baru
135
Minta restu Papa Zakaria
136
Merestui
137
Akad Nikah
138
Bicara dari hati ke hati
139
Kenalan sama si Jon
140
Ada yang datang
141
Akibat kedatangan Rafael
142
Saling memaafkan
143
Cemburu
144
OM OM
145
Bahagia itu sederhana
146
Hubby
147
Mencintai suamiku
148
Berkunjung ke toko kue Gina's
149
Ketika sensasi itu datang
150
Malam pertama
151
Masih malam pertama
152
Mandi
153
Bantuin Istri
154
Mencari pengganti
155
Pacaran
156
Nonton di bioskop
157
Double Date
158
Menagih janji
159
Bikin anak
160
Dapat kabar
161
Berpisah dengan sahabat
162
Selamat Tinggal Kota Yogyakarta
163
Selamat datang di Jakarta
164
Pindah mansion
165
Promo Novel Kekasih Taruhan Tuan Bangsawan
166
Aroma bawang goreng
167
Kado untuk Oma Ratna dan Opa Thalib
168
Perkara rujak
169
Cilok
170
Feeling Istri
171
Kejutan indah
172
Menuju lahiran
173
Welcome Baby Twin
174
Intermezzo
175
Intermezzo : Dijual Ayahku Dibeli Bosku
176
NOVEL FORGETTING YOU
177
Info novel terbaru : Terpaksa Menikahi CEO Lumpuh
178
Info Novel Terbaru : Salahkah Aku Mencintaimu?
179
Info Novel : Sahabatku, Penggoda Suamiku
180
Info novel terbaru Mommy Ghina
181
Info kisah anaknya Edward dan Ghina
182
Info Karya Terbaru
183
PROMOSI KARYA TERBARU MOMMY GHINA
184
Info Karya Terbaru Mommy Ghina

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!