Kelamaan berendem

“Ulah apa!! .....jangan karena saya masih kecil, kalian orang dewasa berbuat sesuka hati!” nyolot Ghina.

Ting.....

Sendok makan Edward dibantingnya di piring makanya.

“Sayang, tidak usah terbawa emosi. Ghina masih anak-anak wajar kalau cepat emosi,” ucap Kiren.

“Om Edward dan mbak Kiren lah yang seperti anak kecil, tidak bisa menyelesaikan masalah. Malah orang lain menjadi korbannya!” balas Ghina tidak terima ucapan Kiren.

“Ghina.....tutup mulut kamu!” tunjuk Edward yang kembali emosi.

“Apa......Om menyuruh saya tutup mulut, lalu buat apa Om membawa saya ke sini! Seharusnya biarkan saja saya kabur, jadi Om tidak perlu mendengarkan suara saya!” tunjuk balik Ghina sambil berdiri.

“Kamu.....ya......!” Edward terpancing emosi ikut berdiri.”Sayang.....tenang......sudah duduk dulu....!” pinta Kiren sambil memegang lengan Edward.

“Ghina....jangan marah dulu. Mbak sangat mengerti perasaan kamu.”

Ghina kembali duduk tanpa putus menatap Edward.

“Ini....coba kamu baca dulu.” Kiren memberikan lembaran kertas.

Surat Perjanjian Pernikahan

“Iiissh.......,” desis Ghina, kembali meletakkan surat tersebut.

“Mbak bikin surat ini untuk memperkuat perjanjian antara kamu dan Kak Edward.”

“Intinya kamu hanya istri di atas kertas, dan istri sesungguhnya adalah mbak sendiri. Tiap bulan Kak Edward akan menafkahi kamu secara lahir, tapi tidak nafkah batin. Dan kamu tidak perlu melakukan hal-hal sebagai istri. Cukup mbak aja.”

“Jadi mbak harap kamu tahu diri saat sudah di nikahi oleh Kak Edward. Silakan kamu tanda tangani surat perjanjiannya.”

“Ciiih kalian berdua sungguh egois!” dirobeknya surat perjanjian tersebut oleh Ghina.

Wajah Edward tampak murka.

Ghina bangkit dari duduknya dan keluar dari ruang makan.....dengan langkah cepat dia mencari pintu keluar mansion.

“Mau ke mana kamu Ghina!” teriak Edward menyusul Ghina.

Langkah kaki Ghina semakin cepat, dan kedua netranya mencari pintu masuk keluar mansion Edward yang terhitung luas.

“Mau ke mana kamu!”

BUGH

Tubuh Ghina ke tarik ke belakang oleh Edward dan posisi tubuh bagian belakangnya sudah menempel di tubuh Edward.

“Kamu mau ke mana? Kali ini kamu tidak bisa kabur!” kata Edward di dekat telinga Ghina. Tubuh Ghina seketika meremang berada di pelukan Edward.

“Lepaskan Om!” Ghina mencoba mengurai pelukan Edward dari belakang.

“Tidak akan pernah kulepaskan!” Edward mulai mengangkat Ghina dan membawanya kembali ke kamar tamu.

“Breng sek kamu, Om!” tubuh Ghina meronta-ronta. Kembali mencoba melepaskan tangan Edward yang melingkar di pinggangnya.

Sesampainya di kamar, Ghina di lemparnya ke atas ranjang dan Edward menindih tubuh Ghina.

“Kalau kamu masih berusaha kabur, jangan salahkan saya akan memper kosa kamu malam ini juga!” ancam Edward.

GLEK!!

Ghina menghentikan gerakan merontanya.

“Good girl!”

Di rasa Ghina tidak meronta lagi, Edward keluar dari kamar tamu, dan menguncinya dari luar.

Hiks......malang amat nasib gue !!!

Dalam pembaringannya Ghina kembali meringkuk, menangisi nasibnya.

.

.

Pagi hari di mansion Edward...

“Non.....non....bangun non,” ujar salah satu pelayan membangunkan Ghina tidur.

Ghina mulai mengerjap-ngerjap kedua matanya, merasa ada yang membangunkannya.

“Mbak...” suara serak Ghina khas bangun tidur.

“Sudah pagi non,” ucap si pelayan.

“Mmmm.....,” gumam Ghina sambil duduk di ranjangnya.

“Mbak namanya siapa?”

“Saya Ria non..!”

“Panggil saya Ghina aja mbak Ria, jangan non. Mbak Ria boleh pinjam ponselnya lagi gak?”

“Boleh non.......ini silahkan!”

“Jangan panggil non lagi ya mbak. Mbak minta alamat mansion ini dong?”

“Alamatnya Jl. Fatmawati kavling 52.”

“Makasih mbak Ria!”

✅ 0812×××××××

Rika ini gue Ghina, mau minta tolong kirimin barang gue yang tertinggal ke alamat Jl. Fatmawati kavling 52. Makasih banyaknya sohib gue 😘😘😘.

“Mbak Ria, tadi saya wa ke teman saya tapi belum di balas. Nanti kalau dia balas. Tolong kasih tahu ke saya ya!” sambil mengembalikan ponsel Ria.

“Iya nanti saya kabari, Ghina sekarang bebersih dulu nanti di tunggu Tuan besar untuk sarapan.”

“Mbak, saya sarapan di kamar aja.”

“Nanti Tuan marah Ghin, soalnya sudah pesan seperti itu tadi.”

“Biarin aja!”

“Kalau begitu nanti saya sampaikan ke Tuan Besar, saya permisi dulu.”

“Iya mbak.”

Di samping ranjang sudah ada koper yang sangat dia kenal, sepertinya barang dia dari rumah sudah dibawakan oleh anak buah Edward.

Ghina segera membuka koper tersebut, dan memilih baju ganti. Setelahnya menuju kamar mandi.

Mata Ghina terlihat sembab, wajahnya terlihat kuyu, dipandangnya wajahnya di cermin kamar mandi.

“Malang banget nasib gue......ha....ha....ha.” gumam Ghina, menertawakan diri sendiri.

“Ghin......cukup jangan menangis, cukup air mata loe terbuang sia-sia. Loe bisa kok melewati semuanya!” gumam Ghina sendiri.

Helai demi helai pakaian yang ada di tubuhnya di lepaskannya, tinggal bra dan CD berwarna cream masih melekat di tubuhnya.

“Kayaknya berendam enak nih!”

Ghina mulai mengisi air di bathub dan memberikan beberapa tetes esensial yang tersedia di kamar mandi ke air.

“Enaknya...” gumam Ghina sendiri, setelah tubuhnya berada di dalam bathup.

Emang enaknya hidup jadi orang kaya.......mau mandi aja bisa berendem di dalam bak dulu 😋.

Satu jam telah berlalu Ghina berendam, tanpa disadari ia tertidur.

Edward berada di kamar Ghina, sudah setengah jam menunggu tapi belum juga Ghina keluar dari kamar mandi.

“Ria, siapa yang suruh bawa sarapan ke dalam kamar!” tegur Edward yang melihat Ria masuk membawa nampan yang berisi sarapan.

“Anu..Tuan......Ghina minta sarapan di kamar, makanya saya antarkan,” jawab Ria sedikit takut.

“Lain kali jangan kamu antar makanan ke kamar!”

“Baik Tuan,” nampan tersebut di letakkannya di atas nakas sebelah ranjang.

“Ck.......ini bocah lama amat mandi!” celetuk Edward.

“Coba kamu ketuk pintu kamar mandinya!”

TOK......TOK.......TOK

“Non.....non....non Ghina!” panggil Ria.

“Apa dia kabur lagi.”

“Sejam yang lalu non masih ada di kamar Tuan, baru bangun tidur.”

“Coba panggil lagi!”

“Non......non.....non Ghina!” teriak Ria dari luar pintu kamar mandi.

“Tuan.....jangan-jangan.....non di kamar mandi.” wajah Ria terlihat cemas.

“Sialan nih bocah kalau berulah lagi!” geram Edward.

“Minggir kamu!” ujar Edward minta Ria tidak berada di depan pintu.

BRAK !!!

Dengan sekali tendangan Edward, pintu kamar mandi terbuka.

“GHINA.........!” teriak Edward saat masuk ke kamar mandi, melihat Ghina memejamkan matanya, dengan bibir yang berwarna biru.

“AAKH......!” pekik Edward mengangkat tubuh Ghina dari dalam bathub.

“Non Ghina.” Ria menutup mulutnya dengan kedua tangannya melihat Ghina sudah tidak sadarkan diri.

“Ria bilang Ferdi sekarang, minta dia hubungi dokter keluarga!”

“Baik Tuan.” Ria langsung lari keluar.

Edward merebahkan tubuh Ghina yang terasa dingin ke ranjangnya.

GLEK !!!

Netra Edward membelalak melihat tubuh ramping Ghina yang nyaris tanpa sehelai kain, walau ramping ternyata padat. Tubuhnya putih mulus  terlihat terawat.

Edward dengan cepat-cepat mengeringkan tubuh Ghina dengan handuk tanpa membuka bra dan cd yang sudah basah, lalu menutupnya dengan selimut.

“Dokternya sedang di jalan Tuan,” ujar Ria yang kembali ke ruang tamu.

“Tolong kamu gantikan pakaian da lam Ghina, sekalian pakaikan bajunya!” Edward bangkit dari ranjang.

“Baik Tuan.”

bersambung ...

Terima kasih sudah mampir, jangan lupa tinggalin jejaknya ya.....biar Novelnya naik kepermukaan 😊.

Terpopuler

Comments

Rusmini Rusmini

Rusmini Rusmini

ya udh terlanjur lihat tubuh aduhai pikirannya Edward traveling kemenong menong tuh 🤭🤭

2024-12-31

0

Anonim

Anonim

Edward sudah lihat tubuh telanjangnya Ghina walaupun masih terbungkus bra dan cd aset berharganya. Bakal berkelana nantinya pikiranmu Edward.

2024-09-27

1

Behappy Kart

Behappy Kart

sorry min bahaya gak sih ini tokohnya under age bangett masih 17 kesannya kayak pedo si Edward

2024-09-25

0

lihat semua
Episodes
1 Lamaran yang tak terduga
2 Makan Siang
3 Pembicaraan 2 sohib
4 Tamu di rumah dan di sekolah
5 Datang lagi ke sekolah
6 Mansion Thalib
7 Makan Malam
8 Buat apa datang?
9 Pindah ke Mall lain
10 Wanita berkebaya
11 Karena wajah cantik!
12 Memilih pergi ...
13 Pergi dari rumah
14 Masih kabur......
15 Ditemukan
16 Kelamaan berendem
17 Malu
18 Dicariin ...
19 Kabur lagi....
20 Kembali ke rumah
21 Memajukan tanggal pernikahan
22 Pemotretan
23 Ghina Shock
24 Foto Prawedding
25 Terpaksa atau dipaksa ?
26 Berkata jujur
27 Wanita Penari
28 Menuju Hari H
29 Pernikahan
30 Tergoda
31 Sarapan Pagi
32 Welcome to the jungle
33 Perkara telepon
34 Kabar gembira
35 Me Time
36 Suasana pengantin baru
37 Malam Pertama
38 Mulai pertengkaran
39 Pertengkaran Hebat
40 Uang nafkah
41 Terluka
42 Rumah sakit
43 Siuman
44 Menantang Om Edward
45 Takkan berhenti menantang ...
46 Opa dan Oma tahu!
47 Om Edward VS Dokter Irvan
48 Hati yang memanas
49 Kepergok
50 Rahasia Kiren
51 Bunga Tulip
52 Kesempatan ...
53 Pernyataan Suka
54 Pelayan
55 Beli Handphone
56 Awal keributan
57 Melawannya
58 Bercerita tentang rasa
59 Akan menjemput Ghina
60 Mencari yang belum pergi
61 Menemukan Ghina
62 Kedatangan Opa Thalib dan Oma Ratna
63 Mimpi Buruk
64 Dia benar-benar pergi
65 Hati yang hancur
66 Hanya tinggal kenangan
67 Sarapan Pagi
68 Datang ke rumah sakit
69 Jangan coba lawan Ghina
70 Mengejarnya
71 Telepon
72 Persiapan
73 It's hard to say goodbye
74 Gadis Kecil
75 Welcome Yogyakarta
76 Berkunjung ke kampus
77 Rahasia mulai terkuak
78 Menahan emosi
79 Secangkir kopi
80 Hatimu Hatiku
81 Datang ke mansion utama....
82 Histeris
83 Nasehat Ferdi
84 Mencari bukti
85 Rumah Ghina
86 Rumah Ghina
87 Memohon
88 Surat!!!
89 Mulai usaha
90 Edward VS Kiren
91 Talak
92 Terluka
93 Henti Jantung
94 Kritis
95 Mengabari
96 Bukalah matamu
97 Aku mendengarmu
98 Bangunnya Singa Betina
99 Detak jantung berhenti
100 Berpisah
101 Hidup harus tetap berjalan
102 Calon bidadari surga
103 Makan malam bersama
104 Benci
105 Pembicaraan antara Ibu dan Anak
106 Toko Kue Gina's
107 Tak ingin bercerai
108 Pacar Mbak Ghina
109 Bertemu kembali
110 Masalah Laporan
111 Bertemu untuk bertengkar
112 Rapat Manajer
113 Ghina istri Edward
114 Perhatian Edward
115 Ungkapan hati
116 Di gerebek
117 Menolak permintaan Opa
118 Antar Ghina pulang
119 Merawat Ghina - 1
120 Merawat Ghina - 2
121 Merawat Ghina - 3
122 Aku takut
123 Kabar Pak Bowo dan Bu Sari
124 Kisah Buket Bunga Tulip
125 Pagi yang manis...
126 Kabar mengejutkan
127 Kejutan dari Opa Thalib
128 Test DNA
129 Sayang/Baby/Honey
130 Masalah tidur
131 Kedatangan Rafael
132 Akibat ciuman
133 Minta maaf
134 Membuka lembaran baru
135 Minta restu Papa Zakaria
136 Merestui
137 Akad Nikah
138 Bicara dari hati ke hati
139 Kenalan sama si Jon
140 Ada yang datang
141 Akibat kedatangan Rafael
142 Saling memaafkan
143 Cemburu
144 OM OM
145 Bahagia itu sederhana
146 Hubby
147 Mencintai suamiku
148 Berkunjung ke toko kue Gina's
149 Ketika sensasi itu datang
150 Malam pertama
151 Masih malam pertama
152 Mandi
153 Bantuin Istri
154 Mencari pengganti
155 Pacaran
156 Nonton di bioskop
157 Double Date
158 Menagih janji
159 Bikin anak
160 Dapat kabar
161 Berpisah dengan sahabat
162 Selamat Tinggal Kota Yogyakarta
163 Selamat datang di Jakarta
164 Pindah mansion
165 Promo Novel Kekasih Taruhan Tuan Bangsawan
166 Aroma bawang goreng
167 Kado untuk Oma Ratna dan Opa Thalib
168 Perkara rujak
169 Cilok
170 Feeling Istri
171 Kejutan indah
172 Menuju lahiran
173 Welcome Baby Twin
174 Intermezzo
175 Intermezzo : Dijual Ayahku Dibeli Bosku
176 NOVEL FORGETTING YOU
177 Info novel terbaru : Terpaksa Menikahi CEO Lumpuh
178 Info Novel Terbaru : Salahkah Aku Mencintaimu?
179 Info Novel : Sahabatku, Penggoda Suamiku
180 Info novel terbaru Mommy Ghina
181 Info kisah anaknya Edward dan Ghina
182 Info Karya Terbaru
183 PROMOSI KARYA TERBARU MOMMY GHINA
184 Info Karya Terbaru Mommy Ghina
Episodes

Updated 184 Episodes

1
Lamaran yang tak terduga
2
Makan Siang
3
Pembicaraan 2 sohib
4
Tamu di rumah dan di sekolah
5
Datang lagi ke sekolah
6
Mansion Thalib
7
Makan Malam
8
Buat apa datang?
9
Pindah ke Mall lain
10
Wanita berkebaya
11
Karena wajah cantik!
12
Memilih pergi ...
13
Pergi dari rumah
14
Masih kabur......
15
Ditemukan
16
Kelamaan berendem
17
Malu
18
Dicariin ...
19
Kabur lagi....
20
Kembali ke rumah
21
Memajukan tanggal pernikahan
22
Pemotretan
23
Ghina Shock
24
Foto Prawedding
25
Terpaksa atau dipaksa ?
26
Berkata jujur
27
Wanita Penari
28
Menuju Hari H
29
Pernikahan
30
Tergoda
31
Sarapan Pagi
32
Welcome to the jungle
33
Perkara telepon
34
Kabar gembira
35
Me Time
36
Suasana pengantin baru
37
Malam Pertama
38
Mulai pertengkaran
39
Pertengkaran Hebat
40
Uang nafkah
41
Terluka
42
Rumah sakit
43
Siuman
44
Menantang Om Edward
45
Takkan berhenti menantang ...
46
Opa dan Oma tahu!
47
Om Edward VS Dokter Irvan
48
Hati yang memanas
49
Kepergok
50
Rahasia Kiren
51
Bunga Tulip
52
Kesempatan ...
53
Pernyataan Suka
54
Pelayan
55
Beli Handphone
56
Awal keributan
57
Melawannya
58
Bercerita tentang rasa
59
Akan menjemput Ghina
60
Mencari yang belum pergi
61
Menemukan Ghina
62
Kedatangan Opa Thalib dan Oma Ratna
63
Mimpi Buruk
64
Dia benar-benar pergi
65
Hati yang hancur
66
Hanya tinggal kenangan
67
Sarapan Pagi
68
Datang ke rumah sakit
69
Jangan coba lawan Ghina
70
Mengejarnya
71
Telepon
72
Persiapan
73
It's hard to say goodbye
74
Gadis Kecil
75
Welcome Yogyakarta
76
Berkunjung ke kampus
77
Rahasia mulai terkuak
78
Menahan emosi
79
Secangkir kopi
80
Hatimu Hatiku
81
Datang ke mansion utama....
82
Histeris
83
Nasehat Ferdi
84
Mencari bukti
85
Rumah Ghina
86
Rumah Ghina
87
Memohon
88
Surat!!!
89
Mulai usaha
90
Edward VS Kiren
91
Talak
92
Terluka
93
Henti Jantung
94
Kritis
95
Mengabari
96
Bukalah matamu
97
Aku mendengarmu
98
Bangunnya Singa Betina
99
Detak jantung berhenti
100
Berpisah
101
Hidup harus tetap berjalan
102
Calon bidadari surga
103
Makan malam bersama
104
Benci
105
Pembicaraan antara Ibu dan Anak
106
Toko Kue Gina's
107
Tak ingin bercerai
108
Pacar Mbak Ghina
109
Bertemu kembali
110
Masalah Laporan
111
Bertemu untuk bertengkar
112
Rapat Manajer
113
Ghina istri Edward
114
Perhatian Edward
115
Ungkapan hati
116
Di gerebek
117
Menolak permintaan Opa
118
Antar Ghina pulang
119
Merawat Ghina - 1
120
Merawat Ghina - 2
121
Merawat Ghina - 3
122
Aku takut
123
Kabar Pak Bowo dan Bu Sari
124
Kisah Buket Bunga Tulip
125
Pagi yang manis...
126
Kabar mengejutkan
127
Kejutan dari Opa Thalib
128
Test DNA
129
Sayang/Baby/Honey
130
Masalah tidur
131
Kedatangan Rafael
132
Akibat ciuman
133
Minta maaf
134
Membuka lembaran baru
135
Minta restu Papa Zakaria
136
Merestui
137
Akad Nikah
138
Bicara dari hati ke hati
139
Kenalan sama si Jon
140
Ada yang datang
141
Akibat kedatangan Rafael
142
Saling memaafkan
143
Cemburu
144
OM OM
145
Bahagia itu sederhana
146
Hubby
147
Mencintai suamiku
148
Berkunjung ke toko kue Gina's
149
Ketika sensasi itu datang
150
Malam pertama
151
Masih malam pertama
152
Mandi
153
Bantuin Istri
154
Mencari pengganti
155
Pacaran
156
Nonton di bioskop
157
Double Date
158
Menagih janji
159
Bikin anak
160
Dapat kabar
161
Berpisah dengan sahabat
162
Selamat Tinggal Kota Yogyakarta
163
Selamat datang di Jakarta
164
Pindah mansion
165
Promo Novel Kekasih Taruhan Tuan Bangsawan
166
Aroma bawang goreng
167
Kado untuk Oma Ratna dan Opa Thalib
168
Perkara rujak
169
Cilok
170
Feeling Istri
171
Kejutan indah
172
Menuju lahiran
173
Welcome Baby Twin
174
Intermezzo
175
Intermezzo : Dijual Ayahku Dibeli Bosku
176
NOVEL FORGETTING YOU
177
Info novel terbaru : Terpaksa Menikahi CEO Lumpuh
178
Info Novel Terbaru : Salahkah Aku Mencintaimu?
179
Info Novel : Sahabatku, Penggoda Suamiku
180
Info novel terbaru Mommy Ghina
181
Info kisah anaknya Edward dan Ghina
182
Info Karya Terbaru
183
PROMOSI KARYA TERBARU MOMMY GHINA
184
Info Karya Terbaru Mommy Ghina

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!