“Atau di elektrik.“
“Listrik?“
“Ya. Tapi ini alatnya bagus lo.“ Jadi bukan sekedar semacam tespen atau drei doang. Namun lebih pada alat yang bisa membangkitkan listrik sekaligus bulu roma. Sehingga orang bakalan saying jika mesti membuang benda tersebut kala rusak. Dan mending memperbaiki saja ke bengkel elektrik itu untuk kembali normal. Walau harganya tak murah. Tapi jika dibandingkan dengan harga beli, tentu masih bisa di perhitungkan. Sehingga terasa lebih menguntungkan kalau alat rusak itu diperbaiki saja. Apalagi bila mesin tersebut di buat oleh pabrik ternama. Pastinya mahal harganya.
“Bengkel itu.“
“Iya.“ Namanya bengkel kan banyak ada mobil ada motor, juga komputer. Walau itu biasanya di sebut laboratorium. Namun fungsinya sama saja dengan bengkel. Hanya terasa lebih keren saja. Soalnya bengkel banyak terdapat di pinggir jalan. Baik itu besar atau kecil. Yang mewah juga tak sedikit. Namun karena kebanyakan demikian saja, maka terkesan yang disebut bengkel itu seperti yang di tepi jalan tersebut. Padahal elektrik juga bengkel. Bisa tegangan rendah atau tinggi. Yang tinggi biasanya lebih keren. Hanya kalau rendah, lebih mudah mencari pekerjaan. Atau kalau tak dapat, bisa usaha sendiri. Makanya terkadang untuk jurusan tersebut banyak yang diburu, dibanding arus tinggi yang keren kalau berada di suatu perusahaan ternama. Yang pastinya untuk masuk saja tak mudah. Jadi lulusannya banyak yang nganggur karena menunggu dipanggil perusahaan besar tersebut. Jadi terkesan karena lama tak bekerja itu yang membuat orang-orang mengira dia menganggur. Dalam jumlah besar, maka sudah barang tentu stigma itu yang kemudian melekat dalam suatu jurusan tersebut yang enggak di terima di perusahaan yang diinginkan.
“Kesetrum enggak.“
“Ya coba saja. Bagaimana rasanya.“ Namanya pekerjaan ya beresiko. Menulis terkadang kena tinta. Tukang bangunan bisa jadi sewaktu-waktu kejatuhan bata. Tukang ledeng bisa kena air sampai kembung. Maka kalau berhubungan dengan listrik, bisa saja kesetrum. Bagaikan kesetrum cinta yang berjuta rasanya.
“Kalau getar.“
“Mendingan hati-hati jadi nggak kena.“ Apa-apa kalau hati-hati kan nggak kena. Main bola bila hati-hati maka tak akan kena tendang lawan. Main bangunan, jika hati-hati juga nggak bakal di semen teman. Atau main gundu, nggak akan kena lempar matanya. Yang penting hati-hati saja. Segala pekerjaan bakalan sukses dengan hasil yang nyata dan keamanan badan tentunya lebih terjamin di bandingkan dengan kerja yang ceroboh. Namanya sudah ceroboh, apa-apa juga bakalan gawat. Sebab manusia bukan dari mesin, yang terkadang bisa menjerit jika kena yang keras –keras.
“Tapi takutnya kena,“ ujar Kintoko yang pernah kena begituan rasanya kaget dan gemetar. Melebihi orang habis kencing. Dan berikutnya enggan lagi untuk merasakan hal demikian. Jangankan kena, menyentuh saja ogah.
“Orang yang kerja banyak dan pada nggak kena kok. Kan mereka sudah hati-hati. Tiap hari jumpa. Makanya bisa mengantisipasi bagaimana supaya tidak sampai getar apalagi kejet-kejet. “
Memang menyeramkan. Apalagi jika di bagian dinamo itu. Mesti membongkar lilitan yang panjang banget. Kawat. Kemudian di lepas satu demi satu pada bagian gulungan itu. Lalu di pasang lagi. Di ganti dengan yang baru. Makanya pemasangannya lama. Kemudian baru di tes dengan alat. Baru di kenakan pada listrik betulan. Sampai terputar. Kalau sudah demikian, baru di kasihkan pada yang punya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 118 Episodes
Comments