“Lo kok sepi?“ setelah memarkir kendaraan di dekat warung itu, mereka masuk. Langsung mencari penjualnya. Biasanya dagangan itu mereka bawa saat senja dating. Tak pernah berjualan malam. Hutan. Sepi. Tak banyak yang berhenti. Makanya dengan rombong bambu, atau wadah plastik yang di rekatkan pada motor, mereka mengangkuti barang-barang itu. Kalau di tinggal takutnya hilang. Ada yang tega membobol pintu kokoh terbuat dari kayu yang sekali congkel bisa lepas. Walau kalau tanpa kesengajaan tentunya bakalan tak terbuka meski oleh angina kuat.
“Maklum warung di hutan.“ Kalau di pasar baru ramai. Karena banyak penjual dan sudah pasti berbagai jualan tersedia. Ini hutan. Kecuali pasar di hutan, atau pasar di gunung baru seram.
“Nah itu penjual nya.“ Keluar dari pintu yang sedikit menepi posisinya. Sebagai tempat supaya dagangan mudah di pajang pada gantungan atau untuk berbagai keperluan masak siap saji. Tap[I biasanya memang di kasih tempat buat menggantung dagangan dari Sesetan makanan ringan supaya tampak dari kejauhan kalau warung tersebut benar-benar masih komplit.
“Apa?“
“Ada kopi?”
“Ada. Yang bukan kopi juga ada.“ Tentu saja ada susu, jahe, jahe susu, kopi susu, serta susu kental manis. Yang semuanya serba berada dalam saccet yang tentunya mudah dalam membuat.
Dibuat dua kopi. Hanya menggunakan saccet tergantung pada dinding tersebut, terus di seduh. Pakai air yang baru dipanaskan dari kompor. Supaya baik jalannya.
Di taruh nya dua kopi di dekat Kintoko. Lalu pemilik warung itu kembali asik dengan kegiatannya. Baik itu mencuci perkakas, menata kelapa muda, atau cuma duduk santai tanpa perlu memperhatikan yang beli. Ini supaya para pembeli juga bisa menikmati hari dengan santai, tanpa risih karena di lihat oleh penjual seakan-akan tengah berharap mendapat bayaran. Atau tak hendak membayar karena tanggal terlalu tua untuk anak muda terlalu muda. Jadi untung yang Cuma sedikit itu bakalan sirna dengan hutang nya benda tak seberapa mahal itu untuk tempo yang tak pasti. Yang jelas kalau dibiarkan akan merasa nyaman kala menikmati, sebab daerah tersebut sudah menjadi kebiasaan saling mempercayai satu sama lain bila mana mereka saling membutuhkan dan ada kalanya bisa dimintai bantuan untuk satu urusan tertentu yang dirasa bisa di lakukan oleh orang tersebut.
“Ini aku kasih kopi. Setelah minum bisa membandingkan dengan bunga di depan pasti aromanya sama,“ jelas Kintoko pada Luhkita. Kopi sekarang memang enak-enak dan aromanya macam-macam. Walau yang paling mahal aroma luwak. Nah itu yang prosesnya unik, unik juga harganya. Serta cara menikmatinya juga asik.
Setelah minum.
“Aku ambil gorengan ini ya?“
“Los. Ini hari milik kita.“ Baru ada beberapa saja. Ada tahu berontak, mendoan lebar, selebar dua telapak tangan, lalu bala-bala yang isi irisan wortel, bukan gorengan daging udang. Pokoknya serba nikmat. Menikmati makanan hangat di suasana sunyi hutan. Apalagi hutan itu demikian rimbun, walau sebagian sedang di buka untuk di ganti tumbuhan kurang produktifnya dengan tanaman lain yang bermanfaat atau biji nya diremajakan kembali, dan kali ini belum ada remaja-remaja nya. Yang jelas tanaman-tanaman mengerikan itu di buat supaya bumi ada hijau-hijaunya tidak semua serba gedung yang tak hijau. Kecuali satu dua yang kehabisan cat warna dan di ganti warna hijau daun.
Dilanjutkan perjalanan. Setelah kopi-kopian itu habis semuanya dan membayar dengan ikhlas.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 118 Episodes
Comments