“Heh.“
“Eh kaget.“
“Kaget kan lu?“
“Hooh. Serem sih lu,“ kata Kintoko melihat ada orang yang tiba-tiba mendekatinya. Langsung terpikir yang enggak-enggak. Banyak kisah tentang orang demikian, yang bakalan merampas barang berharga milik orang daerah, sehingga bakalan sedih meringis, bahkan naif.
“Ah masa. Apanya?“
“Itu gondrong.“
“Di kira rampok ya?“
“Hooh.“
“Padahal gue tukang ojek. Yang tengah berbaik hati hendak mengantar tujuan kemana anda hendak pergi.“
“Kok serem? Gondrong.“
“Itu karena belum cukur saja. Mau kemana sih?“
“Kesana.“ Kintoko hanya main tunjuk saja seraya memberikan alamat rekannya yang hendak dia minta bantuan. Dia langsung percaya saja. Dalam pikirannya tak semua orang jahat. Tentunya kalau jahat, maka sudah tak bakalan lama tinggal di daerah ramai yang penuh dengan aturan dan norma. Sehingga akan saling mengontrol untuk satu hal yang tak wajar dan mengganggu kehidupan orang lain. Aturan di buat untuk itu. Sehingga banyak orang yang tentunya nyaman dengan situasi demikian. Dan seperti kali ini, kalau dia orang tak benar, tentu dia juga tidak berada di sini untuk waktu yang lama.
“Ya ayo, ku antar.“
“Ya nggak mau.“
“Kenapa?“
“Jauh.“ Kintoko membayangkan, walau masih satu nama kota, tapi untuk ukuran yang dia ucapkan, pastinya memerlukan waktu. Meskipun sampai, tapi lama. Bahkan tempat yang dituju itu, bisa dijangkau dengan hanya jalan kaki. Apalagi jalan di dalam kota ini, juga sangat bagus. Di pagi yang indah ini, tentu jalan-jalan sangat asik. Sekaligus menyehatkan. Hanya untuk badan yang semalaman naik kendaraan, walau bisa tidur, namun bukan kondisi terbaik. Jadi akan lebih sehat jika istirahat memulihkan badan yang tulang-tulangnya saling bertemu kala terjadi goncangan dalam bus tadi malam.
“Kan bisa bayar mahal.“
“Itulah yang aku tak ada duit,“ terang Kintoko.
“Ya sudah, mending kita ngopi-ngopi saja, ya kan?“ ujarnya memberi solusi, agar hari yang indah untuk pertama kalinya menginjak di daerah yang lain, akan terasa sangat hangat demi pagi itu.
“Mana?“
“Tuh, banyak yang jual.“
Dipanggil penjual kopi yang di gendong. Disitu banyak jenis-jenis kopi. Ada yang merah, coklat, hitam. Banyak. Memang dalam mencari rejeki tak sedikit orang yang rela berbuat demikian. Sudah pagi, dingin mesti siap membawa barang yang tak ringan, demi beberapa uang yang bermakna bagi keluarga yang di tinggalkan. Untuk pertama kalinya tentu tak banyak, bahkan mungkin hanya satu. Namun melihat banyak peminat, maka beberapa orang ikut-ikutan, sehingga sekarang menjadi semacam tradisi, kalau menginjak kaki di daerah itu sudah pasti ada yang melakukan hal demikian.
Bawa termos isi air panas. Sekuatnya saja. Nanti kalau habis langsung isi ulang. Baik memasak, atau cuma menaruh yang dari galon hot saja.
Ibu itu segera mengambil gelas plastik yang jumlahnya banyak. Disusun dalam suatu tempat yang saling berhimpitan. Kemudian mengambil kopi saccet yang di sukai penggemar. Lalu di tuang ke gelas itu. Barulah di masuki air panas dari termos yang dari bibir termos itu mengucur air dengan di pompa pada bagian penutup atas nya.
“Nah gini kan asik.“
“Iya.“
“Sambil makan tuh. Sudah ada nasi, ketupat, juga roti kemarin.“
Dinikmati air itu. Sedikit mahal. Namun untuk sekali waktu yang sedingin pagi ini, rasanya tak masalah untuk sekalian sarapan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 118 Episodes
Comments