“Lo, sudah sampai,“ ujar temannya yang dengan sabar menunggu orang dari kampung yang katanya memang mau ke situ. Bagaimanapun kalau satu kampung biasanya saling kenal. Dan akan saling bantu sebisa yang dilakukan. Kalau tidak bisa ya sudah. Buat apa dipaksakan. Hanya akan memakan kesehatan diri sendiri. Dan itu kemudian berhubungan juga dengan waktu yang mestinya buat bekerja.
“Iya nih,“ ujar Kintoko sembari meletakkan tas beratnya. Lumayan capek dari jauh sana menjalani perjalanan yang melelahkan. Seberapa nyaman pun masih saja ada waktu yang melelahkan. Apalagi memang kendaraan yang di tumpangi itu demikian saja. Bukan yang khusus untuk perjalanan nyaman dalam jarak yang panjang. Karena ada kalanya perjalanan panjang diimbangi dengan situasi yang dibuat demikian indah. Kalau dengan cara ini, maka keletihan di kurangi seminimal mungkin. Maka tidak jarang walau beberapa orang melakukan perjalanan sangat jauh namun bisa beristirahat dengan damai.
“Bagaimana, bisa tidur?“ ujar temannya. Walau tentu hanya sekedar. Karena setahu dia kalaupun Cuma dalam perjalanan demikian akan sulit sekali untuk istirahat. Jangankan istirahat Cuma duduk saja sudah lumayan. Karena meskipun mata terpejam namun pikiran terus berputar. Tak bisa begitu saja melupakan sekeliling. Maka tak heran jika walau semalaman terlihat lelap, namun kala bangun justru kliyengan, pusing, migrain dan segala penyakit seketika di rasa. Itu karena istirahat yang kurang layak. Apalagi ini angkutan umum, walau di ruang yang sengaja di buat nyaman pasti tetap saja ada rasa yang kurang tepat. Dan sebisa mungkin di buat ruangan nyaman pada suatu kendaraan tetap saja tak bisa. Walau titik terkecil sekalipun masih ada ganjalan yang sedikit menyimpang itu. Karena memang ukurannya termasuk kecil. Beda dengan pesawat sebesar bumi, walau goncangan dan putaran sangat cepat, tapi tak terasa jika diri terus melayang mengitari semesta yang luas.
“Ya begitulah. Nggak bisa lelap tapi. Tiap ada jalan rusak langsung saja ikut terjaga. Padahal baru saja mulai bisa memejamkan mata. Atau saat lelap, langsung sampai di suatu perhentian guna istirahat, makanya perjalanan itu demikian payah. Untuk Cuma sekali. Kalau setiap malam, bisa menguras kesehatan orang itu pastinya,“ terang Kintoko yang berusaha menghilangkan penat. Pinggang dan kepala masih sedikit pusing. Tentu akibat perjalanan melelahkan itu. Dia merasa walau bisa terpejam namun pikiran masih berjalan terus seiring berputarnya roda yang sangat panjang daya tempuhnya. Untuk berikutnya istirahat saja sudah lumayan menyembuhkan. Tak perlu meminum obat. Selagi masih kuat. Obat itu kalau untuk meringankan derita saja. Juga sugesti kalau sudah merasa meminum. Tapi kali ini yang dia butuhkan adalah istirahat nyaman.
“Ya sudah, istirahat dulu.“
“Iya. Thanks.“
“Dari tadi sih nggak kemana-mana. Cuma duduk terus.“ Kintoko terus cerita. Semenjak awal sampai tujuannya ke kota hanya sekedar untuk mencari berbagai pengalaman. Walau sebenarnya untuk mencari nafkah. Karena untuk ukuran seusia dia mencari pengalaman tentunya hanya persentase yang kecil saja, karena sudah banyak yang mesti dipertimbangkan. Kalau masih muda mencari pengalaman memang diperlukan demi masa depan. Tapi jika usia sudah demikian panjang maka untuk kapan lagi pengalaman itu bisa bermanfaat. Makanya kurang tepat jika demikian. Tapi pengalaman memang diperlukan. Hanya waktunya panjang atau tidak. Atau bahkan tak sama sekali dipergunakan. “Tapi begitu capek juga.”
“Iyalah semalaman.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 118 Episodes
Comments