“Loh kok suasananya begini bang?“ terasa aneh. Suram-suram. Mencekam. Dan kabut seakan menyelimuti daerah yang semula terang benderang itu.
“Yah tak ada. Kemana lagi dia?“ Semakin terkejut Luhkita saat menoleh ke samping tak ada apapun di tempat duduk sopir. Dia tak tahu kapan Kintoko meninggalkan tempat tersebut. Dasar lelaki tak bertanggung jawab. Disaat genting begini malahan pergi. Tapi mau bagaimana lagi. Yang jelas kini dia kesunyian. Merasa sendiri, dan entah kenapa rasanya seperti berada dalam kulkas. Dingin, mencekam.
Duk.
“Waduh.“ Belum usai rasa terkejutnya, di atas atap kendaraan terdengar suara aneh. Seakan ada benda jatuh. Dari suaranya Nampak sangat berat benda tersebut. Namun dia tak mampu melihat apa-apa. Tak bisa. Dia mesti keluar untuk menoleh pada atap kendaraan. Sedangkan hal ini tak mungkin. Dia masih sangat ketakutan. Jangankan untuk keluar, menatap sosok tersebut saja sudah tak kuasa.
“Waa….“ Kemudian dia menjerit. Takut, sangat takut. Dan memang hanya itu yang bisa dia lakukan. Padahal baru saja dengan tatapan. Bukan dengan hal lainnya. Belum lagi kalau mahluk tersebut menyerang. Tapi kalau sudah sampai menerjang, keadaan akan bertambah gawat. Dan bisa jadi semua bakalan terlambat. Itu yang mesti dihindari. Dan supaya kejadian semakin buruk tak kembali dating, mesti ada tindakan mendahului.
“Gawat ada mahluk menyeramkan.“ Nampak di depannya sebuah bayangan. Itu tadi yang menimbulkan suara nampaknya. Dia sekarang berada di atap mobil. Keadaan bertambah mencekam. Pemikiran untuk lebih dahulu kabur sudah tak ada. Yang kali ini tersisa hanyalah bagaimana supaya bisa terhindar dari keadaan yang lebih buruk.
“Kunci pintu ah.“ Segera dia mengunci pintu mobil tersebut. Rasanya lebih aman. Bagaimana bisa masuk. Untuk membuka pintu kendaraan sulit. Karena selain memang di tahan, juga keadaan pintu tersebut yang kurang bagus. Tentunya akan semakin sulit.
Mahluk itu berusaha membuka pintu tersebut. Namun seperti dugaan semula, membuka pintu dengan penahan dari dalam tentu bakalan tak semudah yang di bayangkan. Kenyataannya mahluk itu hanya berputar saja di sekitar kendaraan. Mencoba membuka lagi, tak bisa. Lalu berjalan berkeliling untuk mendobrak masuk. Sekali-sekali dibenturkan tangan kuatnya pada badan mobil.
Kemudian mahluk tersebut hilang dari tatapan Luhkita. Entah kemana. Barangkali naik kea tap kendaraan. Atau langsung menelusup ke balik semak belukar. Yang terang kali ini sudah tak terlihat. Harapan Luhkita semoga saja si mahluk benar-benar meninggalkan tempat tersebut serta tak kembali lagi. Sehingga untuk sementara rasanya sudah aman.
“Yah dia memecahkan kaca mobil.“ Dengan cakar kuatnya, manusia serigala itu berhasil merobek kaca depan. Hingga kuku-kuku jemarinya menembus kaca transparan tersebut. Rupanya dia terus berusaha menerobos masuk ke mobil yang kuat. Sehingga harapan satu-satunya dari mahluk itu adalah dengan memecahkan kaca mobil.
“Mending lari. Mencari bang Kintoko,“ ujar Luhkita. Dia semakin panik saat melihat tangan si mahluk berhasil berada di dalam mobil seraya menggapai-gapai ke arahnya. Jarak tak terlampau panjang. Bisa saja akan segera menjangkau nya. Keadaan semakin gawat.
“Bang tunggu!“ Segera Luhkita keluar paksa mobil tersebut. Aneh, pintu yang biasanya sulit di buka, kini dengan mudahnya dia dobrak. Kemudian keluar dan lari sekuat tenaga ke arah pepohonan hutan di sekitar mobil berhenti. Disana dia bisa menyembunyikan diri. Pohon besar dan semak yang rapat nampaknya bisa membuat dia terlindung.
Dia mencoba melongok ke arah mobil nya. Disana mahluk itu menoleh kesana - kemari untuk mencari posisi nya. Dalam keremangan malam, terlihat mahluk tersebut begitu mengerikan. Dengan mulut menganga yang memperlihatkan taring tajam serta sanggup merobek apapun. Serta tatapan mata yang juga tajam. Seakan tak lepas dari tatapannya benda sekecil atau sosok yang tengah dia cari. Bahkan seakan bercahaya kala memantulkan sinar yang tertangkap oleh mata itu. Dengan kondisi demikian maka mata tersebut terasa semakin mengerikan.
“Gawat di hutan bisa tersesat aku.“ Sekarang Luhkita bertambah panik. Hutan tersebut semakin gelap saja dalam pandangannya. Yang semula Nampak hijau menggoda mata, kali ini gelap. Yang Nampak hanya bayang-bayang pohon yang tak jelas.
Nampak mahluk itu menuju ke arah dia. Langkahnya pelan. Seakan terus berusaha mendapatkan posisi Luhkita. Baru setelah tahu, akan dengan cepat menerjang.
Dicari pepohonan besar untuk berlindung. Bebatuan kalau ada, atau menelusup semak belukar gatal yang penuh dengan ilalang serta duri katimusa. Kesemuanya itu seakan tak ada arti. Dimana mahluk tersebut terus berusaha mendapatkannya. Berkali-kali dia mencoba beralih posisi. Setelah dari balik pohon, kala tempat tersebut di tuju si mahluk, dia menuju ke semak belukar yang rapat. Begitu tempat tersebut juga di hampiri, dia akan menuju ke pohon yang lain, supaya tak tertangkap, lalu dicabik-cabik, atau di seret masuk ke dalam hutan menuju ke sarangnya. Tentu akan semakin parah jika keadaan mengerikan tersebut terjadi. Mengingat dia sendiri, serta perlawanan pastinya taka da artinya. Dari pandangannya saja sudah terlihat jika mahluk tersebut sangat kuat. Dia bisa bayangkan jika serigala saja sudah sangat kuat, apalagi ini mahluk astral yang tengah mencari kekuatan dengan kondisi badan seperti manusia, namun kepala serigala. Nampaknya ilmu orang itu demikian tinggi. Dan kemampuannya tentu tak bisa di ragukan lagi.
“Gawat… Ah kembali saja ke mobil. Disana kayaknya lebih aman. Daripada disini malah terlalu terbuka. Sekali ketahuan, bisa langsung celaka ini.“ Kembali berlari menghampiri mobil. Untung kendaraan itu masih ada di situ. Tidak seperti kisah lain yang langsung taka da. Baik itu lenyap dari tatapan, atau Cuma di dorong oleh mahluk jatuh ke jurang. Yang terang kali ini benda itu ada di hadapannya.
Langsung menerobos masuk ke pintu depan. Kembali dia kunci pintu tersebut. Dan diam menunggu siapa tahu berikutnya ada kendaraan lewat yang bisa dia mintai tolong. Aneh sejak awal pada jalanan yang biasanya ramai itu mendadak senyap. Entah pada lewat jalur mana kendaraan itu. Padahal biasanya tiap menit pasti ada yang melintas. Baik itu kendaraan besar, maupun kendaraan ringan. Kali ini tak ada. Bahkan setah dia taka da jalur lain di sekitar situ. Mungkinkah mereka menerobos melewati jalan setapak hutan yang sulit di lalui.
“Hrr….“ Mulut menyeringai tersebut telah ada di depannya. Luhkita langsung beringsut ke belakang mobil, mencoba bersembunyi dan menjadikan kursi sebagai tameng jika mahluk tersebut masuk.
“Yah dia di depan dan mencoba memecahkan kaca mobil!“
Mahluk itu terus mengorek-ngorek kuku tajamnya melewati kaca depan yang sudah retak. Sehingga tak berlangsung lama, kaca depan itu terkuak lebar. Dan siap di masuki tubuh menyeramkan nya itu. Di dalam mobil tersebut, yang ada hanya ketakutan hebat. Yang kemudian tak bisa berbuat banyak. Hanya kengerian dan teriakan yang tersisa.
“Wa…“
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 118 Episodes
Comments