“Dah makan,“ ujar Luh yang melihat Kintoko seakan hanya menatap saja apa yang tersaji di depannya. Walau kursi meja demikian bersih dan semua itu terhampar di depannya itu.
“Sebentar dong. Pedes ini.“
“Nggak doyan pedes ya. Kayak anak kecil.“
“Sembarangan. Ya doyan lah. Cuma kalau pedes banget ya enggak,“ ujar Kintoko yang terus mengusap air mata akibat keluar terus. Maklum. Ukuran pedes tak semata sama anak kecil. Kalau anak kecil memang kebanyakan tak suka pedes. Walau sudah ada yang doyan. Apalagi kalau di pedesaan, masih bayi juga bakalan di kasih sedikit cabai. Katanya buat latihan. Sehingga agak gede sedikit sudah doyan pedas. Entah mengapa. Mungkin biar mencarikan makan tidak rewel. Jadi sudah bisa memakan makanan buat orang tua yang sanggup di makan anak kecil. Dan tidak repot mencari makanan yang khusus. Apalagi di dunia perkampungan yang terkadang mencari makan sulit. Jangankan mencari bubur makanan yang khusus untuk anak, beras saja sulit. Kalaupun ada buat bayi paling di bikin bubur dengan dikasih bumbu, maka sudah nikmat. Dan layak di perut.
“Makanya latihan.“ Ketika pedas ada yang dilatih. Naik kuda juga bisa di latih. Olah raga hantam bola bisa juga. Apa-apa serba bisa dilatih. Tak terkecuali dengan makan pedas. Makanya hingga tua bisa makan pedas. Harapannya kalau kena pedas sedikit tak mesti harus sakit perut dengan berkali-kali ke belakang. Namun semua itu tinggal yang memasak saja supaya rasanya tak seperti kena balsam. Sangat menyengat di lidah.
“Ini kepedesan.“ Seraya melet-melet menahan rasa yang mengiba itu. Begitu saja sudah merasakan demikian. Beda dengan yang telah biasa. Alah bisa karena biasa. Makanya jika terbiasa makan pedas, untuk hal yang Cuma sedikit, seperti kena jepret karet, kena semplak pemukul lalat, tak bakalan merasa pedes. Cuma paling jika ada orang tua bersuara. Baru pedes.
“Tuh kan.“
Setelah selesai memakan makanan cepat saji sembari mengusap air mata yang membuat mata menjadi merah merona. Lalu langsung minum air teh lemon yang sedikit asam supaya ada rasa di lidah. Sehingga tak terlampau manis.
Setelahnya keluar. Sudah bayar tadi. Ambil makan langsung bayar. Kalau tidak nggak akan di kasih. Apalagi di bungkusnya. Hanya akan di diamkan. Sampai pegel.
“Ngebut ini.“ Secepat orang tadi yang cepat tanpa apa-apa. Makanya mesti cepat. Apa-apa harus trengginas. Cekatan. Tak boleh lemah. Jadi tak harus merasakan di kejar-kejar hutang terus. Hutang baru ngebut. Ini mesti cepat. Tak bisa pelan.
“Iya.“ Sehingga berbagai desa terlampaui dengan segera. Tak menunggu waktu lama sudah melampaui banyak daerah. Apalagi kali ini jalanan sepi. Sehingga tak banyak halangan yang merintangi perjalanan mereka. Seperti jalan rusak atau jembatan putus. Karena sudah biasa hal demikian terjadi di lintas luar kota ini. Mengingat bencana besar namun perbaikan tak pasti. Dananya tak mencukupi. Hingga demikianlah, pembangunan yang sudah bagus itu hanya berlangsung beberapa waktu saja, tanpa bisa dinikmati kelanjutannya karena kurangnya anggaran dalam perbaikan untuk tempo yang tak pasti. Sehingga untuk daerah demikian bakalan lamban pembangunannya. Dan sudah merasa senang kalau jalanan itu pernah halus. Tanpa memikirkan bagaimana kelangsungan selanjut nya untuk kehidupan sehari-hari yang banyak menggantungkan jalanan ini.
“Hati-hati. masuk batas hutan.“
“Oke.“
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 118 Episodes
Comments