“Yuk makan dulu,“ ajak Luhkita sembari memegang perut yang jika tak terus sebentar kemudian, bakalan bunyi seakan keroncong monosuko yang syahdu bunyinya, walau melilit-lilit. Sebelum kejadian mencemaskan terjadi, makanya di dahului dulu gerakan cepat agar semua tidak terjadi, yang bakalan sedikit malu kalau di depan orang bunyi, padahal yang bunyi perut bukan kentut. Dengan asam lambung yang ikut naik juga. Pedih perih rasanya.
“Makan lagi?“
“Ya lah. Sudah cair dana gula.“ Lumayan sembari membawa uang yang segepok itu. Bisa tuh dibelikan macam-macam.
“Oke, kemana?“ tanya Kintoko. Inginnya sih langsung pulang biar kendaraan yang bukan milik nya lagi itu bisa segera di berikan ke pemilik sah nya. Lalu setelahnya santai, biar tidak kepikiran. Mau kemana-mana tenang. Mau ke kota, mau mencari kerja, atau cuma leyeh-leyeh, tak ada beban lagi.
“Mie ayam. Ada teman yang juragan mie.“
“Masa itu.“
“Lumayan enak.“
“O.“ Kintoko mengangguk. Dia paham akan keinginan tersebut. Juga paling dia nanti ikutan. Bagaimana tidak. Mampir di tempat enak begitu. Lagian dia juga memegang duit. Rasanya kalau bepergian tidak ada uang, sedikit kacau nanti. Walau segala sesuatu sudah ada yang menjamin, tapi jika hendak melakukan untuk diri sendiri serta menunggu orang lain yang membayari, tentu akan butuh banyak hal yang diperhatikan. Masalah enak enggaknya, kemudian cocok tidak, serta ada orangnya tidak. Siapa tahu dia tengah berada di suatu temat dan enggan mendekat, maka akan sulit. Juga jika masih ada kesibukan, harus menunggu purna juga. Makanya akan nikmat kalau semua bisa dilakukan sendiri karena sudah ada persiapan dari rumah dengan bekal yang buat berjaga-jaga itu. Dan nanti tinggal minta ganti jika hal itu berhubungan dengan urusan kendaraan.
“Ada bonus es nya pula.“
“Begitu ya. Tapi agak kenyang.“
“Kalau begitu, kita mampir di rumah cepat saji barat jalan saja ya, biar bisa pesan sambal terasi,“ ujar Luhkita yang rupanya sering mampir ke tempat begituan. Jadi dia paham betul akan menu yang tersaji di dalamnya. Juga rasa dan bentuk nya. Sehingga nanti tinggal tunjuk saja, kemudian langsung membayar, maka bakalan sudah ketahuan akan rasa serta seberapa muat ukuran perut hanya demi kali itu semata.
Kintoko setuju saja. Lagian cuma mengantar. Kalau banyak komplain nanti tidak di pakai lagi. Kan bisa gawat. Seakan memutus tali rejeki sendiri. Lebih baik begitu menurut saja sejauh bila dilakukan. Juga bukan suatu hal berat. Lain jika melakukan hal yang di luar kebisaannya, maka bisa terjadi tawar menawar atau siap tidaknya gua menyetujui usulan itu. Bagaimana pun hal ini diluar rencana awal. Yang bisa saja di tolak mentah entah dengan alasan supaya waktu tak terbuang percuma.
“Sini banyak. Ada minumannya juga. Kalau masih kenyang bisa tuh cuma pesan minuman doang.“ Sekarang serba praktis. Daging-daging itu di taruh pada tempat dengan kaca transparannya. Sehingga selain penjual, pembeli juga bisa langsung melihat, sehingga akan tertarik untuk mengambil. Apalagi warnanya yang dibuat mentereng, menambah daya Tarik untuk segera mencicipinya. Kemudian di taruh banyak-banyak daging-daging dengan harga yang berbeda-beda sesuai ukuran daging itu.
“Terserah kau saja lah.“
“Nah gitu, makanya diem. “
“Oke. “
Merekapun pesan makanan ayam sama sambal terasi yang sangat pedas. Enak.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 118 Episodes
Comments