“Hei.. hei…“
“Bang!“
“Ngapain sih kamu?“
“Hah…“
“Gejol-gejol tak karuan. Bahkan kakimu sampai menginjak-injak rem gas ini. Mobil kan jadi anjut-anjutan,“ ujar Kintoko. Aneh memang. Tidur-tidur, tapi kakinya sampai menjulur jauh menabrak-nabrak kaki orang yang tengah menyetir. Kan kacau jadi jalannya.
“Wah gue mimpi,“ keluh si Luhkita. Sembari mengusap muka dan berusaha lebih sadar kalau kali ini dia hanya berada dalam kendaraan yang masih melaju. Bukan berada di alam aneh yang tengah sendirian dengan mahluk mengerikan pengejar nya.
“Mimpi-mimpi di mobil. Sempat-sempatnya tidur luh.“
“Bagaimana lagi namanya kecapekan.“
“Haduh.“
“Yuk istirahat dulu. Kita mampir di warung itu yang ada umbul-umbul merah nya.“ Disitu ada warung dari anyaman bambu yang sengaja di buat. Dengan di sampingnya terdapat umbul-umbul yang tinggi.
“Oke.“
Merekapun kembali membelokkan mobilnya ke pelataran sebuah warung tengah hutan yang sangat sunyi, sepi, mencekam namun ramai pengunjung. Warung-warung ini banyak jumlahnya di tepian jalan aspal sepanjang jalur hutan itu. Dimana kebanyakan terbuat dari papan-papan kayu atau anyaman bambu. Dengan atap genting dan seng. Tak ada yang permanen. Semua itu sengaja di buat karena ijinnya memang demikian. Mungkin supaya jika sudah tak terpakai, tanah serta bangunan tersebut mudah di bongkar. Jadi sisa-sisa bangunannya taka da lagi. Sehingga tanah dengan mudah di olah menjadi sebentuk benda yang berguna. Tinggal mencangkul, menaburi pupuk, maka bisa subur kembali. Berbeda kalau sudah di buat permanen. Selain menghancurkannya susah, juga tanah kurang subur. Jadi terbengkalai dan sulit di olah dan alih fungsikan. Paling yang permanen hanya pabrik pengolahan getah pinus dan karet yang memang mesti kuat. Walau masih di area hutan. Bangunan ini sudah ada sejak jaman kolonial Belanda. Juga masa pendudukan jepang tetap eksis dengan para bala tentara yang di rekrut dari daerah jajahan. Seperti Korea, Formosa, atau Semenanjung Korea. Meskipun pemimpinnya tetap dari Jepang.
“Eh pesan.“
“Tidak! Kenyang Gue.“
“Ya sudah duduk saja.“ Mereka menuju ke sebuah gazebo kecil dari papan juga dengan di bentuk sedemikian rupa jadi layak untuk duduk-duduk. Nyaman rasanya. Makanya walau sampai malam di situ tetap nyaman. Dengan alas kayu yang di buat seperti panggung. Jadi tak menyentuh tanah yang gatal. Lagipula selalu dibersihkan. Sembari menikmati udara sejuk hutan yang penuh pepohonan hijau serta memanjakan mata. Juga sesekali memandang kendaraan lalu lalang walau berada di hutan, tapi sangat ramai. Ada kalau satu menit pasti melintasi kendaraan. Maklum jalan itu merupakan satu-satunya yang terbagus dan paling layak di lewati antar kota. Selain itu sudah lebar. Kalaupun ada yang rusak, tambal sulam, namun masih bisa di pilih bagian mana yang nikmat.
“Nggak pesan nih, mumpung saya disini lo,“ ujar mbak penjaga warung berusaha merayu supaya yang duduk itu sudi pesan. Soalnya itu bangunan memang sengaja dibuat agar warung juga laku. Bukan hanya untuk duduk-duduk semata. Kalau ingin duduk sih mending di tepi jalan sembari nongkrong, atau dekat air yang jernih dan tenang sembari memandang ikan-ikan ceria.
“Enggak.“
“Wah. “
Datang lagi si mbak nya sembari menawari. Padahal banyak makanan. Ada kelapa muda, ada es saccet an. Juga gorengan beraneka bentuk.
“Pesan dong.“
“Enggak. Gue belum lapar.“
“Yah duduk doing.“
“Sebentar doang juga.“
Akhirnya terus pulang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 118 Episodes
Comments