“Bener nih, nggak jadi ngojek,“ ujar si Tukang sembari terus merayu. Barangkali mau. Kan lumayan untuk hari sepagi itu sudah ada pemasukan.
“Enggak, jauh,“ kata Kintoko. Berkali juga dia ungkapkan tak ingin naik kendaraan tersebut. Selain repot juga tentu biayanya bakal mahal.
“Kan dibilang, bisa bayar mahal,“ ujar tukang ojek sembari melancarkan terus kata-kata ajakan. Kalau ada duit, apa yang tidak. Tidak ada kata jauh untuk waktu sekarang. Dalam artian apalagi untuk jarak yang hanya dalam kota, dengan kendaraan yang kini terparkir di luar sana itu, dengan mudah bisa di lewati dalam waktu tak terlampau lama. Beda dengan jaman dahulu. Untuk menjangkau sudah merupakan pemikiran tersendiri.
“Tak ada.“
“Ya sudah. Naik bus saja.“ Memang itu tujuannya. Kendaraan itu selalu penuh. Dan banyak peminatnya. Apalagi di kota ramai begini. Kalau Cuma jenis angkutan kecil tak bakalan muat untuk membawa para penumpang yang saling membutuhkan.
“Berapa?“
“40 palingan.“
“Mahal.“
“Kan bisa, kartu itu dipakai berkali-kali. Itu paling murah. Bahkan isi ulangnya lebih gede, boleh cepek, limpul, atau bahkan hangus. Juga bisa membantu ibu-ibu itu.“
“Kenapa?“
“Dia, biasanya menumpang ke orang, hanya demi bisa bayar murah, supaya turun di jalan yang dekat dengan tujuannya.“ Lumayan untuk jarak yang sebenarnya tak terlampau jauh. Namun demi menghemat waktu, agar bisa sampai sesuai dengan target. Serta tak terlalu capek amat, maka naik kendaraan itu. Sebelumnya mudah saja. Membayar harga murah. Sesuai tarif. Namun sekarang semua tak bisa. Akan diberlakukan pembayaran memakai kartu. Sehingga bagi pemilik alat transportasi itu tak rugi amat. Bahkan memperoleh keuntungan. Karena ada beberapa diantara pemilik kartu tersebut yang tak menghabiskan saldo di dalamnya. Akibat berbagai faktor. Salah satunya karena sudah jauh dari daerah perkotaan. Sehingga sudah tidak berlaku lagi. Andaikan habis pun sudah ada untung buat pemilik kartu. Itulah peliknya memakai sesuatu yang bukan uang. Terkadang hanya berlaku di lokasi tertentu.
“O gitu.“
“Hooh. “
“Ya sudah, beli di loket, dah naik kan.“
“Iya.“
“Itu kaya langganan. “
“Nih, gua ikut bayar 4000,“ ujar ibu-ibu yang ingin ngirit. Makanya dia nebeng sama orang yang beli kartu. Karena jika tak di pakai lagi, maka akan habis sejumlah uang itu. Kalau aturannya sih semestinya tak boleh. Namun karena masih pagi, sepi, maka larangan itu dianggap lalu saja. Juga sudah kenal. Sudah watak ibu-ibu itu yang ingin hemat sedikit.
“Segitu.“
“Kan kalau pagi murah, tergantung waktu.“
Bus lewat. Dan masuk. Langsung penuh tempatnya. Maklum memang sudah gilirannya. Kalaupun belum ada orang, maka bakalan berdiam untuk istirahat bagi si sopir. Kalaupun parker dan melaju pelan, akan menyuruh orang yang sudah kerjaannya demikian, agar si sopir bisa istirahat. Sebab kalau tidak, dia sendiri yang repot. Mesti mengawasi terus kendaraan, sementara gilirannya masih panjang, namun biar lancer, mesti mengikuti terus bus itu sesuai dengan jarak amannya.
“Kok masuk sini.“ Ada yang main tegur. Begitu melihat nyelonong saja. Mumpung pintu terbuka. Lagi pula di pintu satunya penuh dengan antrian orang yang juga mau masuk.
“Kenapa?“
“Ini khusus cewek. Sono no di belakang.“
Ada tulisannya. Tertempel di kaca bus.
“Oh iya. Tak nampak dari jauh. Terutama buat yang tak biasa.“
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 118 Episodes
Comments