“Beli.“
Kintoko menghampiri tempat penjualan tiket bus antar kota antar propinsi dan antar kampung. Biasa di kampung begitu yang ada hanya tiket bus. Bahan untuk kereta tak ada loket nya. Jalur hanya untuk di lewati saja. Kalau ingin naik mesti ke luar kota yang jauh dari jangkauan walau melewati rel tersebut berulang kali. Jadi itulah alternatif yang bisa di raih. Selain kendaraannya mudah menjangkau ke berbagai tempat yang agak sulit, juga tak perlu banyak kendala kala membuat jalan. Dan tak heran jika angkutan tersebut banyak sekali yang membuka cabang di tempat tersebut. Semua kini saling berebut rejeki dengan menawarkan berbagai keunggulan yang dimiliki oleh perusahaan tersebut. Asal mendapat banyak penumpang maka sudah untung.
“Apa?“ ujar si pegawai yang cantik sekali bahkan kelebihan bahenol.
“Tiket ke kota.“
“150.“
“Nggak bisa kurang nih?“ ujar Kintoko mencoba menawar. Apalah arti harga kalau tak di tawar. Makanya dia mencoba siapa tahu bisa dapat yang murahan. Maklum biasanya kan hanya Sembilan puluh, seratus. Hanya karena pandemi saja semua serba naik. Yang semestinya harga segitu, bisa dua kali lipat. Ini juga mendingan agak turun. Kalau pas sepi malahan sampai 200. Karena penumpang sengaja di kurangi, serta harga-harga naik. Juga akibat satu deret bangku itu hanya berisi satu orang saja. Itu kalau mau. Kalau menolak karena dianggap tak menguntungkan, lebih baik libur dulu. Tapi karena kepentok kebutuhan, membuat alat moda transportasi itu juga menyetujui aturan tersebut. Walau banyak kejanggalan yang di dapat akhirnya. Baik saat berangkat, di jalan, maupun setelah sampai. Itu semua terjadi karena begitu ketat nya aturan.
“Enggak.“
“Kita satu kampung lo. Tetanggaan,“ ujar Kintoko terus merayu. Siapa tahu ada sedikit potongan harga. Maklum lagi miskin. Harta segitu lumayan banyak.
“Tetangga, tetangga. Karcis sama saja,“ ujar si cewek yang tak perduli. Kalau bukan dia yang beli, di belakangnya kan masih banyak. Bahkan jika melebihi kapasitas nanti akan mendatangkan armada lain yang satu nama, guna mengangkut sisa yang masih ada itu. Jadi semua bisa mendapat tempat untuk menuju ke lokasi tujuan sehingga tujuannya tercapai dengan hasil memuaskan untuk kemudian melaksanakan kegiatannya sembari menikmati hari dari hasil bekerja itu.
“Payah luh jadi anak,“ ujar Kintoko mangkel. Sulit sekali membuat anak itu percaya. Ini masih di kampung, belum lagi nanti pada dunia kerja sesungguhnya yang pasti bakalan tak kalah sulitnya untuk mendapatkan sebuah kesempatan saja.
“Nggak mau ya udah.“
“Ya udah, sini aku beli. “
Akhirnya beli satu doang. Itu juga termasuk mahal. Lebih murah beli siomay. Maklum keadaan begini. Apalagi begitu banyak yang sudah sangat membutuhkan. Sebelum akhirnya bakalan di tutup kembali untuk satu peristiwa yang sama walau berbeda penyakit.
“Mana nih bus?“
“Sebentar. Nunggu,“ ujar Mbak nya agar sabar kala menunggu kendaraan besar yang belum sampai. Belum lagi nanti di jalanan yang bakalan berebut dalam menjangkau tujuan. Disana saling adu cepat walau nanti menuju ke titik yang sama. Semua demi sampai dengan hasil yang memuaskan. Tidak bagus rasanya kalau mengebut di jalan raya. Tapi kalau selalu di lampaui bus lain yang tujuannya sama juga bikin gondok. Seakan jalannya kayak kura-kura saja. Padahal kan kura-kura kalau adu cepat melawan garuda bakalan menang.
“Nunggu waktu keberangkatan, apa nunggu penuh.“
“Dua-duanya haha…“
Kintoko duduk di bangku tunggu di belakang sebuah agen bus tersebut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 118 Episodes
Comments