Bus berjalan. Mengikuti alur jalanan yang aneh. Terkadang halus. Terkadang ada jalan tambal sulam. Yang membuat bus menggelinjang.
“Yuk istirahat.”
Bus berhenti. Pada tengah jalan. Maklum bakalan semalaman. Biasanya sebelum masuk ke tol yang taka da perhentian. Langsung masuk terminal kota nanti. Walau ada rest area, namun di rasa memberatkan buat pemilik bus. Juga bagi penumpang kebanyakan enggan turun. Banyak faktor. Kalau masih di sini, kan bisa mengatur. Biasanya pada sebuah restoran yang sudah di pesan oleh para sopir. Teristimewa jika restauran itu satu PO dengan pemilik bus. Maka akan semakin mudah dalam pelayanannya. Sehingga sopir dan kernet berada pada sebuah ruangan khusus. Sedangkan para penumpang mencari sendiri makanan apa yang digemarinya. Maklum biasanya kegemaran penumpang berbeda-beda. Juga menyesuaikan isi kantong yang menipis, karena belum mendapat apapun dari kota.
Setelah dari belakang itu, Kintoko masuk ke restauran. Sudah banyak yang masuk. Kebanyakan yang belum sarapan. Jadi disini bakalan di lampiaskan segala hasrat itu.
“Dah beli apa?“
“Apa ya, mahal-mahal.“ Cuma melihat-lihat saja di luar kaca itu. Padahal banyak makanan yang tersaji. Ada ayam. Sapi. Bebek. Semua goreng. Bahkan lalapan. Kalau sayur lalap yang mentah banyak. Tapi seperti ikan mentah di sini jarang. Nggak kayak di luar negeri yang bisa makan ikan mentah tapi dengan perlakuan istimewa dengan higienis yang bagus. Di sini jika makan daging mentah rasanya tak biasa. Jadi kebanyakan tak mau makan. Lebih baik makan ikan yang di masak daripada daging segar begitu yang masih utuh. Karena tak biasa saja. Walau banyak lalapan mentah dari tumbuhan yang pada doyan. Meskipun ada juga sebagian yang beranggapan kalau sayur pun jika belum di masak maka tak akan suka. Tiap orang pemikirannya bermacam-macam.
“Nggak beli.“
“Nanti aja lah.“
“Atau kita di emperan saja.“
“Murah kah?“
“Tak semurah kalau bikin sendiri sih, tapi itu sudah sedikit murah jika dibandingkan di dalam rumah makan ini.“ Biasanya 3000 jadi 5rb. Atau kopi yang Cuma seceng bisa jadi 5rb. Itu lumrah di tempat jauh demikian. Maka
“Ya ayo, kita sembari duduk. “
Disitu sudah banyak yang mengantri. Namun penjualnya cekatan. Sehingga antrian tak demikian panjang. Juga apa yang dipesan memang tak memerlukan waktu banyak. Memang lokasi ini diperuntukkan buat mereka-mereka yang enggan makan. Baik belum lapar, atau memang taka da duit. Makanya di cari solusi demikian. Supaya tetap ada yang diambil, walau tak mahal. Nanti si penjual di luar itu juga membagi keuntungan dengan pemilik rumah makan. Atau bahkan si pemilik warung itu yang memberi modal pada si penjual agar bisa memanfaatkan situasi yang sedikit itu. Sehingga tetap ada keuntungan. Walau yang di jual di luaran merupakan benda yang tergolong murah. Karena harga tergantung pada lokasi berada.
“Pesan.“
“Apa?“
“Baso.“
“Antri yah.“
Cuma memesan mie seduh rasa baso. Tinggal menuangkan kuah baso saja sudah. Mie itu sudah kemasan. Dalam kemasan gelas plastik. Jadi mudah membuatnya. Tinggal buka penutup, di campur bumbu. Tunggu beberapa saat langsung di seruput.
“Minumnya apa nih?“
“Kopi.“
“Aroma melati?“
Kopi juga apa yang ada. Sudah pakai saccet. Dimasukkan ke cangkir, langsung di seduh. Tanpa perlu di aduk.
Bus jalan Lagi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 118 Episodes
Comments