“Bang!“
Seorang gadis memanggil. Dia mendekati duda itu yang tengah bersih-bersih mobil. Meskipun bukan miliknya lagi, kini.
“Apa?“ jawab Kintoko.
“Mau ke kota ya?“ tanya Luhkita.
“Iya. Ada apakah?“
“Ini aku bawakan kue.“ Dibawa suatu bungkusan dari kertas putih. Dan rotinya warna hijau lengkap dengan meses sebagai toping nya.
“Pisaunya mana?“
“Tak ada.“
Maka di potong pakai garpu. Bentuknya jadi tak karuan. Namun rasanya tetap sama. Roti. Dengan lahap, di lahap nya kue itu bulat-bulat. Mumpung ada. Entah siapa yang tengah ulang tahun. Yang jelas kali ini suatu kesempatan yang barangkali di lain waktu sama sekali tak menemukan. Maklum sendiri. Sebentar kemudian, tentu bakalan pergi jauh, ke kota besar untuk mencari penghasilan yang layak. Sesuai dengan UMR yang berlaku di daerah maju yang tentunya bakalan lebih besar dari di sini. Nanti uang di sana bisa di bawa pulang sebagai tabungan. Kan lumayan. Uang kota sungguh sangat besar kalau dimanfaatkan di desa. Beda halnya dengan uang sini. Mobil yang segitu, untuk biaya di kota, paling hanya beberapa waktu saja langsung ludes. Belum lagi kalau ada masalah dengan orang-orang nakal yang suka mengambil tas. Ya kalau cuma mengambil, kalau sampai kena tonjok dan bonyok, maka bakalan menambah sial. Sudah sulit mencari bekal, sampai disana hanya ludes saja.
“Boleh mengantar ku dulu tidak?“ kata Luhkita setelah semuanya aman. Roti ludes, dan yang dikasih senang.
“Wah, mobil sudah aku jual,“ ujar Kintoko. Bagaimana lagi. Butuh. Mobil yang unik dan antik tersebut serta dibuat pada masa jaman tak mengenakkan dan telah lumayan lama bersamanya itu, kali ini telah pindah tangan. Tinggal menunggu diambil saja. Bagaimana tidak unik, kalau semua pintunya sulit di buka dari dalam. Dan si sopir mesti turun dulu untuk membuka kunci pintu dari luar. Itu untuk semua pintu selain milik sopir. Itulah juga yang menjadikan mobil tersebut serasa unik. Kunci ada pada sopir. Bukannya sekali tekan tombol di bagian supir, namun sopir mesti melakukan ritual memutari mobil, supaya bisa membuka setiap pintu nya dari luar. Namun itu masih terbilang lumayan, daripada mesti membawa palu untuk menggetok kaca baru bisa menarik tuas pintu mobil, maka akan timbuk kerepotan yang mesti membawa ke bengkel segala.
“Ke kota sebentar saja,“ kata gadis itu terus berusaha supaya bisa diantar hingga tujuan nya tercapai. Seperti anak kecil saja kalau meminta mainan, maunya bisa dapat. Baik itu di HP maupun pada game watch yang populer. Semua mesti hari itu.
“Mau apa sih?“ tanya Kintoko. Kalau bukan hal terlampau penting, tentunya dia bakalan menolak secara halus sebelum secara kasar. Sebab itu yang sudah di uangkan sejak awal, jika ini sudah bukan miliknya lagi. Dia tak mau mencederai kendaraan, terlebih bagi si pemilik yang sudah membelinya dengan berbagai harapan. Yang tentunya menginginkan segala yang terbaik yang bisa dia dapatkan. Karena terlanjur percaya. Dengan harga segitu, apa yang di dapat semestinya sesuai dengan pengeluaran tersebut. Barang sesuai harga. Atau harga akan mengikuti kualitas barang. Itu umum terjadi bagi para pembeli yang menginginkan kepuasan dalam memiliki benda yang dibeli tersebut.
“Menjual gula, disuruh bapak,“ jelas gadis itu. Biasa hasil panenan dari kebun sedikit melimpah. Kalau di jual pada orang dekat, paling hanya untung sedikit. Beda kalau langsung ke kota. Namun demikian jika hasil tak banyak juga akan habis pada perjalanan atau transpor saja. Sementara jika semua jumlahnya lumayan maka akan bisa menjadi keuntungan yang begitu besar untuk bisa dimanfaatkan demi memenuhi kebutuhan kesehariannya nanti. Dan kali ini apa yang sudah dikumpulkan itu lebih dari cukup. Yang jika di pakai sendiri paling hanya beberapa buah saja. Kalau dibiarkan benda begitu juga sudah tak bagus kualitasnya, malahan lebih buruk lagi kalau busuk. Walau benda itu terkenal akan keawetannya, namun yang namanya bahan makanan tentu ada batas waktunya. Dan ini yang dihindari para penderes, penyadap air kelapa. Supaya kualitas gula juga bagus terus, sehingga dipercaya orang-orang di luar sana. Sebab kalaupun laku, dalam satu kali penjualan dengan harga yang tinggi, tentu orang pembeli juga akan berpikir ulang jika mesti membeli lagi untuk satu barang yang tak menguntungkan. Ini juga yang bisa dianggap memutus rejeki sendiri. Makanya bagi para pencari rejeki itu mesti dijaga agar bisa tetap saling bisa berkomunikasi juga berbisnis dalam kondisi yang sama-sama menguntungkan. Ini yang kemudian bakal menjadi hal yang langgeng serta bisa dipertahankan.
“Bagaimana ya, sudah aku jual ini. Aku bersihkan juga sudah.“ Tunjuk Kintoko pada benda yang masih ada basah-basahnya setelah dia main semprot dengan di bersihkan pakai lap basah kemudian lap kering sekalian sehingga semakin mengkilat tanpa debu dan kotoran membandel. Walau belum sempat memakai salju dan poles semir, setidaknya sudah layak untuk diserahkan ke tangan kedua agar merasa puas mendapat barang yang bagus itu.
“Bagaimana lagi, perlu ini,“ ujar Luhkita yang sangat berharap. Kalau tak perlu mungkin juga enggan. Apalagi sampai mengeluarkan ongkos. Sebab nanti dia bisa memakai untuk segala keperluan jika benda itu laku. Dia mesti meminjam kendaraan juga agar bisa ada kelebihan untung, jadi selain sebagai uang saku juga bisa di tabung demi masa depan. Masa belakang, ya depan.
“Ya lah.“
“Entar aku kasih ongkos.“
“Ya kalau tanpa ongkos, mana mau aku,“ kata Kintoko yang sudah biasa demikian. Mengantar, maka akan ada uang. Karena dari situ juga ada rejeki tambahan. Namun kali ini sedikit berbeda. Karena mobil sudah di jual. Ada tanggung jawab lebih yang mestinya dia lakukan buat si pemilik sekarang. Beda kala masih menjadi miliknya, itu bisa dilakukan sesukanya. Walau ada kecenderungan jika benda pribadi tentu lebih baik dalam menanganinya. Karena sudah terbiasa memegang, juga tahu kelemahan kendaraan itu. Beda dengan jika benda milik orang lain, kebanyakan akan sembrono, walau bisa juga akibat belum paham akan sesuatu yang menjadi masalah di kendaraan tersebut. Semisal untuk kecepatan yang butuh gas kenceng, itu juga tak dipahami kalau bukan pemiliknya jika suatu gas tak bisa lebih panjang di ukuran tertentu, tapi saat pengereman lebih kencang. Dan bagi pemilik akan bisa menanganinya sehingga tak perlu terlampau di habiskan kemampuannya. Yang tak tahu, pastinya asal main tekan saja. Karena kebiasaan di setiap kendaraan memang demikian. Hal ini tentu di luar kebiasaan tersebut.
“Itulah makanya.“ Dengan senang hati, gadis itu pulang ke rumah untuk mempersiapkan segala sesuatunya demi perjalanan panjang ke kota nanti.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 118 Episodes
Comments