“Yuk berangkat,“ ujar Luhkita yang merasa kalau semua barang sudah siap dan tak ada yang terlupa. Semua gula yang di pak dalam plastik ukuran besar telah memenuhi kendaraan kol sewaan itu.
“Wih bawa apa itu?“ tanya Kintoko yang melihat cewek itu masih menenteng barang di pangkuannya, pada dekat sopir. Tempatnya menjadi agak sempit karena ada tambahan barang tersebut.
“Bekal dikasih mama.“ Biasa orang tua selalu kepikiran kalau anaknya hendak pergi. Walau sebenarnya tak terlampau lama nanti. Ini mungkin bagi dia barangkali saja kendaraan tak sempat berhenti. Maka bisa langsung mengambil makanan sebelum perut sampai bunyi. Kan malu di kira kentut. Padahal suara perut yang bunyi akibat kurang isi.
“Oh. Banyak amat.“
“Iyalah, biar tidak kelaparan.“
“Apa aja itu?“
“Ini ada kue kering bagelen, gorengan, sama roti jigong.” Sebenarnya masih banyak lagi yang lain, tapi tak sempat terbawa. Takut merepotkan orang lain. Ini saja sudah demikian banyak. Roti-roti serta jajanan pasar tak sempat dibawa. Padahal masih banyak di rumah tadi.
“Air minum mineralnya yang belum.“ Kalau makan kering-kering begitu, bakalan seret tenggorokan jika tak di gelontor pakai air putih higienis. Makanya sebelum pegang persiapan tersebut tak berani makan. Bisa juga membawa botol yang ada talinya buat dikalungkan ke pundak, supaya selalu bersama tubuh, dan tak hilang di taruh sembarangan.
“Entar mampir di mini market, beli yang gede.“ Biasa hal yang lumrah kalau bepergian. Apalagi sekarang dimana-mana banyak tempat seperti itu yang serba praktis. Walau harganya lebih mahal, namun karena mudah dan seakan tak sulit membuat tempat tersebut banyak yang bertahan, bahkan terkadang menggusur yang pasaraya atau swalayan besar yang justru kalah saing. Seperti saat ini, jika hendak bepergian mampir sebentar sudah bisa membawa kebutuhan yang sangat diperlukan. Tak perlu mesti masuk ke lahan parkir dulu yang ribet terutama untuk kendaraan besar begitu. Jika masuk sudah sulit keluarnya juga ribet mesti melewati darah sempit serta ramai takut menyerempet atau bersenggolan yang tak menyenangkan.
“Yuk berangkat sebelum mobil ini diserahkan sama pembeli.“ Nanti sebentar jika sudah beres tentu akan langsung di serahkan dan di tinggal minggat saja ke kota. Tinggal memikirkan bagaimana bisa bertahan hidup, bahkan untuk menambah penghasilan kelak. Kalau belum diserahkan, padahal sudah di bayar, maka akan jadi pemikiran. Belum lagi kalau sampai di tanya terus. Bisa-bisa HP selalu bunyi nanti. Akan risih di telinga. Mau di angkat membosankan tidak diangkat bikin bingung jangan-jangan berita penting. Makanya bertambah nyesek kalau sudah demikian.
“Yuk. Kan sebentar ini.“
Mereka berangkat dengan kecepatan tinggi. Di tikungan saja sampai 80 km per jam. Apalagi kalau uma jalan lurus, baru... agak pelan, soal nya banyak truk besar.
Baru sampai hutan.
“Hati-hati bang, hutan angker.“ Luh khawatir. Banyak kejadian aneh disitu soalnya. Jangan sampai terkena pada mereka. Setidaknya nanti mobil itu tak jadi pindah tangan bisa gawat.
“Ah masa.“
“Klakson tiga kali bang.“ Masih tetap khawatir. Itu juga yang kata orang-orang tua mesti dilakukan. Semacam permisi atau numpang lewat pada para penghuni hutan yang tak nampak di dunianya. Jangan-jangan mereka tengah asik kongko-kongko yang membuat mereka tak nyaman kala ada yang melintas tersebut tanpa disertai sopan santun.
“Ada- ada aja lu.“
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 118 Episodes
Comments