Baru sampai di sebuah pohon besar pada deretan makam. Ada anak muda dengan motor menyalip.
“Hei ayo balap!“ ujar anak muda itu yang langsung ke depan nya. Seakan tidak takut dia. Dengan kepala yang terbuka dan knalpot di geber-geber. Maklum anak jaman kini yang apa-apa selalu mendahulukan keberanian di bandingkan otak. Tak mengerti kalau hal demikian sama sekali tak perlu, bahkan bisa membahayakan. Tapi mereka seakan tak perduli, dengan jiwa mudanya selalu bangga dengan hasil maksimal yang di peroleh walau itu demikian saja.
“Wah nantang dia!“ Kintoko mangkel dengan anak muda demikian. Sudah bunyinya mengganggu orang. Anaknya semrawut dan membuat takut orang-orang yang tengah lalu-lalang. Kalau tak di kalahkan, atau di lawan, bakalan semakin kacau dia. Bahkan dia juga merasa demikian, meskipun duda tetapi tetap saja jiwa muda nya muncul begitu saja, yang membuat dia melayani apa yang di inginkan si orang Bengal tersebut.
“Kejar!“ Terjadilah kejar mengejar. Dengan kecepatan maksimal yang bisa di lakukan oleh kendaraan yang tak bisa dikatakan muda seperti semangat anak muda kota itu. Namun selalu berada di belakang motor itu. Kalau hampir terkejar, dia menggeber gas nya . Dan suara kembali riuh rendah. Motor itupun melesat jauh. Seakan tak ingin lawannya mendekati atau bahkan Cuma terlihat saja. Apalagi dia sangat hafal betul dengan kondisi jalan yang menjadi lokasi anak muda tersebut. Sehingga tiap titik dari jalanan halus itu mudah dia lampaui. Seakan dia bangga berhasil membuat orang di jalanan muak dan melayani apa yang diinginkannya untuk berpacu dengan waktu dan melatih dalam keberanian.
Ternyata mobil semakin seak seok. Berat juga gas kendaraan tersebut. Meskipun mesin lebih besar. Namun ukuran juga pengaruh di jalanan yang serba sempit begitu. Belum lagi tingkat keramaian yang begitu parah. Membuat meski hati-hati jika tak ingin terjerumus.
“Wah, ternyata kota sulit di taklukan.“
“Dia roda dua sih. Kita empat ya kalah.“
Bahkan kali ini anak muda jagoan itu hilang di suatu tikungan, serta tak terkejar lagi. Dia begitu bangga dengan keunggulan kendaraan kecil yang sangat lincah begitu.
“Lah kok dia berhenti di perempatan dengan orang mengenyot pluit.“ Pada suatu persimpangan ramai di mana terlihat anak muda itu dengan motornya yang di tuntun orang.
Mereka melanjutkan jalan yang sudah tak seberapa jauh dan langsung membelok pada suatu toko dengan dagangan gula merah tersebut. Kota ini sudah ramai. Juga sudah terlampau siang. Sehingga apa yang ada di kanan kiri mereka sudah buka semua, serta menjadi kan jalanan serta sekitarnya demikian heboh.
“Kita sampai.“
“Oke.“
“Aku kasih dulu ya?“
“Ya.“
Langsung terjadi dialog yang alot antar kedua penjual dan pembeli.
“Bagaimana?“
“2000.“
“Pokoknya 1950.“
Keduanya ngotot.
“Tidak mau ya sudah.“
“Wah payah kota memang sulit di taklukkan.“
“Bener kan?“
Setelah terjadi sedikit adu argumen itu, langsung diturunkan barang-barang dari mobil. Kintoko sedikit membantu anak buah toko yang sangat cekatan dan seakan tak kenal lelah sampai habis isi dalam mobil tersebut. Kemudian di timbang ulang. Supaya hasil dari perhitungan rumah dengan di lokasi tetap sama. Jadi tak ada penyimpangan data.
“Yuk pulang.“ setelah selesai semuanya. Serta mendapat uang hasil penjualan itu.
“Mampir tempat tadi.“
“Ya lah.“
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 118 Episodes
Comments