Malam itu aku masih ketakutan setelah insiden hantu janin tempo hari. Mas Raihan malah sudah tertidur pulas di sampingku. Sudah beberapa hari ini dia selalu pulang ketika sore hari.
Tapi kala malam tiba, mas Raihan lebih suka tidur lebih dulu. Jarang sekali mau berbagi kehangatan atau hanya sekedar mengobrol seperti malam-malam sebelumnya. Kalau kutanya pasti jawabannya selalu lelah karena pekerjaan.
Satu dua hari masih okelah. Tapi kalau hal itu berlanjut, sudah bukan lelah lagi namanya. Pasti ada sesuatu dengan mas Raihan.
Seperti kemarin malam. Aku hanya memancingnya mengajak melakukan ritual malam, tapi langsung ditolak mentah-mentah dengan alasan lelah. Itu sangat aneh. Selama kami menikah, tidak sekali pun suamiku menolak ajakanku.
Keesokan harinya saat dia berangkat bekerja, diam-diam aku mengikutinya menggunakan motor matic milikku. Rasa penasaran terus bergelayut dalam pikiran. Membuatku nekat melakukan apa saja demi menjawab perasaan itu. Daripada hanya diam di rumah, dan diganggu oleh makhluk astral terus, mendingan aku ikut mas Raihan ke tempat kerja saja.
Selalu kujaga jarak aman motorku dari mobil yang dikendarainya agar tidak ketahuan. Pemberhentian pertama adalah sekolah Althaf. Sejauh ini semua nampak aman terkendali. Namun saat mas Raihan berhenti di sebuah lahan proyek, aku mengerutkan dahi.
Bukannya mas Raihan bekerja di luar kota? Atau dia sudah dipindahkan proyek? Tapi kenapa mas Raihan tidak memberitahuku?
Mas Raihan bekerja sebagai mandor bangunan yang biasa bekerja dimana saja tergantung proyek yang dia kerjakan.
Anehnya mas Raihan mendapat proyek baru dalam waktu dekat ini. Masa iya proyek itu sudah selesai? Yang kutahu membuat unit perumahan itu memakan waktu yang tidak sebentar. Masa iya mas Raihan tidak menyelesaikan proyek yang di luar kota, lalu pindah ke sini? Dimana jarak tempat kerjanya yang sekarang ini tak jauh dari tempat tinggal kami. Bahkan hanya beberapa menit dari sekolah Althaf.
Hingga siang hari semua berjalan dengan lancar. Tapi saat makan siang tiba, terlihat mas Raihan pergi ke sebuah kafe tak jauh dari tempatnya bekerja. Dia duduk sendirian. Tak berselang lama, seorang wanita muda berpakaian modis menghampiri, lalu duduk di seberang meja suamiku.
Aku yang berada dua meja dari tempat mereka duduk, kepalang geram dibuatnya. Nampak wanita muda itu sangat akrab dengan suamiku. Siapa dia sebenarnya? Apakah mas Raihan bermain api di belakangku?
Berani-beraninya mas Raihan mempermainkanku!
Sebenarnya bisa saja aku langsung melabrak mereka berdua. Tapi aku masih memiliki etika untuk tidak mempermalukan diri sendiri di depan umum. Apalagi ini menyangkut masalah rumah tanggaku.
Entah apa yang mereka bicarakan. Aku tak bisa mendengarkan dengan jelas karena jarak yang menghalangi. Selesai makan mereka berjalan beriringan menuju keluar kafe. Aku pun segera menyusul.
"Mbak! Mbak! Tunggu!"
Ku dengar seseorang memanggil dari arah belakang. Namun saat menoleh tidak ada siapapun yang terlihat baru saja memanggilku. Semua orang fokus dengan santapan di meja mereka masing-masing.
"Mbak!"
Suara itu lagi.
Ku edarkan pandang menyapu setiap sudut kafe. Dan barulah kutahu, di ujung sana ada seorang wanita dengan gaun putih kusam sedang menatapku tajam dengan lingkar hitam di sekitar matanya. Rambutnya yang panjang terlihat awut-awutan tak karuan. Bibirnya yang sobek ke atas hingga sejajar dengan telinga, terlihat tersenyum ke arahku.
"Kyaaa!" jeritku histeris.
Membuat seluruh isi kafe terkejut. Menghujamkan tatapan anehnya padaku yang sudah lari pontang-panting ke luar kafe. Tawa melengking masih terdengar nyaring hingga aku benar-benar keluar dari sana.
"Setan sialan!" umpatku, mengatur nafas saat baru sampai di parkiran.
Kepalaku celingukan mencari seseorang. Barulah kutahu jika aku sudah kehilangan jejak mas Raihan dengan wanita muda itu.
"Dasar ja lang!"
Entah berapa umpatan yang sudah keluar dari mulut ketika aku memutuskan untuk pulang. Sebelum tancap gas ke arah rumah, aku menjemput Althaf dulu di sekolah daripada dia pulang naik angkot.
Karena sekolahnya menerapkan sistem full day, pukul 3 tepat Althaf baru keluar dari area sekolah. Dua jam sudah aku menunggu di luar gerbang. Jujur, aku sedang tak ingin sendirian di rumah. Jatahku untuk melihat makhluk halus hanya sekali dalam sehari. Tidak lebih. Kumohon.
"Loh, Mama? Tumben." Althaf keheranan melihatku menjemputnya. Soalnya jarang sekali aku yang menjemput. Biasanya ini tugas mas Raihan, kalau pekerjaannya sedang senggang.
"Lagi mood aja. Buruan naik!" suruhku yang sudah jengah berada di sini. Bokongku pun sudah panas rasanya, terlalu lama duduk di jok motor.
Althaf segera mematuhi instruksiku.
"Lain kali gak usah jemput, Ma. Tuh, kulit Mama jadi item kebakar matahari," kelakar Althaf dalam perjalanan.
"Iya, Sayang," sahutku setengah hati.
Moodku tiba-tiba hancur. Melihat suami yang paling kupercaya ternyata dekat dengan wanita lain di luar rumah. Juga dengan kulitku yang langsung gosong karena matahari. Sialnya aku lupa memakai baju panjang saat keluar rumah tadi. Karena terlalu fokus pada mas Raihan.
Semoga besok aku bisa mendapatkan kejelasan dengan apa yang aku temui tadi. Aku berniat untuk menguntit suamiku lagi esok hari.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
Ririt Rustya Ningsih
gk usa tanya suami...bukanya kamu gk ada bedanya...
2022-11-08
1
Author yang kece dong
Lanjut kak Ran maru semangat 😍🤭
2022-07-04
1