13. Jangan Lakukan

Pagi ini setelah selesai sarapan, aku mengantar kepergian mas Raihan dan Althaf sampai di depan rumah dengan sedikit rasa tidak tenang. Suamiku sudah mulai dengan proyek barunya di luar kota.

Sedangkan Althaf sekarang sudah jadwalnya untuk memasuki sekolah. Sudah menjadi kebiasaan jika berangkat, Althaf selalu diantar oleh papanya. Tak lupa, aku terus mendoakan yang terbaik untuk mereka.

Belum sampai melangkahkan kaki menjauh dari ruang depan, telingaku mendengar pintu rumah di ketuk oleh seseorang.

Siapa gerangan? Apa mas Raihan melupakan sesuatu? Atau ada barang Althaf yang ketinggalan?

Ceklek.

Aku yang semula bersemangat—mengira yang mengetuk pintu tadi adalah suamiku—sontak kembali lunglai saat orang menyebalkan itu muncul di hadapanku. Siapa lagi kalau bukan Bryan.

Meski sudah mendengar kisah hidupnya yang memilukan, tapi sikapnya tetap tidak berhasil menarik simpatiku sama sekali.

"M-mas? Apa yang—"

Aku panik saat melihat Bryan langsung merangsek masuk ke dalam rumah, sebelum aku persilahkan. Tidak sopan sekali dia.

"Mas Bryan! Suamiku lagi gak ada di rumah. Kalau ada urusan silahkan kembali nanti jika dia sudah pulang. Tolong keluar—Kyaaa!" jeritku, karena tiba-tiba saja Bryan memelukku dengan erat.

Ku dorong saja badan besarnya itu sekeras yang kubisa. Namun percuma. Tenaganya terlalu kuat.

"Tolo—mphh .... "

Sialan.

Langsung dibekapnya mulutku, ketika baru saja berniat untuk mengeluarkan suara 5 oktafku, guna meminta bantuan. Meski itu hal yang percuma, karena tak yakin orang-orang di sini mau keluar dari rumah mereka atau tidak. Seenggaknya aku sudah berusaha.

Lelaki itu semakin brutal saja, dia mengancamku dengan pisau lipat yang disembunyikan di dalam saku celana panjangnya. Dengan pasrah aku hanya bisa menurut saat dia mengunci diri bersamaku di dalam kamar yang biasa kugunakan dengan mas Raihan.

"Bryan, stop! Jangan lakukan itu .... " lirihku dengan tangis yang sudah pecah, menyayat hati.

Sekuat apapun memberontak, aku hanya seorang wanita lemah yang takut menghadap maut. Masih banyak hal yang belum sempat aku persiapkan. Masih ingin berkumpul dengan orang-orang yang kusayangi.

Kamar itu menjadi saksi bisu, betapa bejatnya Bryan. Memperdaya wanita yang masih berstatus istri orang untuk melayani hawa nafsunya.

Bryan meninggalkanku begitu saja setelah nafsunya terpenuhi. Membuatku hampir pingsan karena permainannya yang tak kenal ampun. Entah sudah berapa jam dia memperdayaiku.

Kini aku lebih memilih menenggelamkan diri dalam selimut sambil menangis sesenggukan. Tidak memperdulikan badanku yang masih polos tanpa sehelai benang pun. Aku sudah berdosa pada mas Raihan, suamiku.

Tak menyangka hal naas ini akan terjadi padaku. Bagaimana jika pak Kades tahu perbuatan bejat putranya? Bisa-bisa dia dicabut dari jabatannya sebagai kepala desa.

Awas saja. Tunggu pembalasanku, Bryan.

...----------------...

Tok Tok

"Mama? Mama di dalam? Al masuk, ya?" Suara Al bagai masuk ke dalam alam bawah sadarku.

Dengan otomatis aku menyahut, " Ya."

Setelah kepingan peristiwa buruk yang baru kualami, kesadaranku mulai kembali.

"Eh, tunggu sebentar, Al," ralatku ketika sadar aku belum berpakaian sama sekali.

Segera kupungut pakaian yang berserakan di ujung kasur, lalu memakainya dengan segera. Takut Althaf akan membuka pintu tiba-tiba.

Ceklek.

"Al, udah pulang?" tanyaku berusaha tersenyum meski hati teramat sakit.

"Mama, kok matanya sembab? Habis nangis, ya?"

Deg.

Kenapa Al sejeli itu? Aduh, bagaimana aku menjelaskannya?

"E-enggak, Mama tadi ... Kelilipan. Iya—Gak sengaja kelilipan pas beres-beres rumah," elakku, berharap Al percaya.

Kepala Althaf mengangguk, seperti ayam mematuk makanannya.

"Oh, kirain kenapa. Mama belum masak, ya? Al laper," keluh Althaf, mengelus perutnya.

"Astaga! Mama sampai lupa. Maaf ya, Al. Mama tadi ketiduran. Mama masakin sekarang. Sabar, ya? Cepet, kok." Serentetan alasan kukeluarkan.

Aku pun segera meluncur ke dapur. Namun rasa perih di bawah sana sedikit menghambat performaku.

Bryan sialan. Ulahnya sudah membuat bagian itu lecet. Kasar sekali permainannya. Tak terhitung sudah berapa tanda yang ia buat di tubuhku.

Ingin sekali aku mengadu pada mas Raihan. Tapi bagaimana perasaannya nanti? Ada sedikit rasa takut juga dengan ancaman Bryan sialan itu. Aku harus bagaimana sekarang?

Krusak Krusak

Aku menghentikan pergerakan mendengar sesuatu di lemari bawah tempat peralatan dapur disimpan. Mungkin ada tikus di dalam sana. Aku meraih sapu di sampingku untuk berjaga-jaga. Dengan sangat hati-hati kubuka pintu lemari yang sudah usang itu.

Kriieettt ....

"Astaghfirullah!" pekikku terkejut, sebuah kepala penuh darah yang sudah menghitam langsung menyembul dari dalam sana.

Mau berlari pun aku tak sanggup. Selain perih di tempat itu, kakiku juga tak bisa diajak kompromi. Dia malah tremor dengan hebatnya.

"K-kamu ... B-Bagas?" Kucoba berinteraksi dengannya.

"Sakit, Tante. Tolong Bagas .... " Mulut mungil bocah itu mulai bergerak. Air mata sudah menetes dari kedua sudut matanya.

Aku sedikit membungkuk agar dapat mendengar ucapannya lebih jelas.

"Bagas kenapa? Siapa yang sudah berbuat jahat sama kamu, Nak?" Hatiku mulai terenyuh melihat wajah menyedihkan di hadapanku.

"Pak Ka—"

"Mama!"

"Astaghfirullah! Althaf?! Bisa gak sih, gak ngagetin Mama? Bisa-bisa Mama jantungan tahu!" Reflek aku memutar badan, sambil membentak Althaf yang tiba-tiba datang dengan menepuk bahuku.

Badanku sampai terlonjak dibuatnya. Bagian bawahku otomatis kembali terasa perih karena gerakan yang spontan itu.

"M-maaf, Ma." Althaf menunduk takut.

Hatiku sedih melihatnya. Menyesal sudah membentak dia tadi. Kurengkuh tubuh anakku ke dalam pelukan hangat. Sembari membelai lembut surainya. Menyalurkan rasa sesal dan sedih yang bersarang dalam hati.

"Maaf. Mama gak sengaja bentak, Al tadi."

Althaf mendongak. Menyaksikan air mata yang sudah tumpah mengaliri pipi. Dijulurkan tangannya untuk menyeka air mataku.

"Aku gak apa-apa, kok. Mama gak usah mellow gini. Masa gitu aja nangis bombay?"

Sontak saja kueratkan pelukanku. Bagai menyalurkan segala rasa perih yang kurasa. Andai saja dia tahu apa yang baru saja aku alami. Hal itu lebih dari sekedar mellow.

Terpopuler

Comments

💞Amie🍂🍃

💞Amie🍂🍃

suka banget sama nama pemainnya , apalagi althaf

2022-11-23

2

lazy

lazy

makin seruuuuuu

2022-07-05

1

Author yang kece dong

Author yang kece dong

Lanjut othor...

2022-06-28

2

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!