Mas Raihan sama sekali tak menyinggung masalah tadi malam. Apa Bryan sudah menjelaskan padanya, jika tak ada apa-apa di antara kami? Aku pun enggan bertanya pada suamiku.
Tak ingin mengungkit kejadian itu lagi. Biarlah seperti ini dulu. Toh, tak ada yang berbeda dengannya. Mas Raihan bersikap biasa saja, seperti tak terjadi apa-apa.
"Mas berangkat kerja dulu, ya?" pamitnya, ketika aku sedang berada di dapur sedang mencuci piring bekas sarapan tadi.
"Iya, Mas. Hati-hati di jalan."
"Al juga pamit, Ma." Althaf yang baru muncul langsung menyalimi tanganku, lalu menciumnya.
Kuusap rambutnya dengan lembut, sembari berucap, "Belajar yang bener, Al."
"Siap, Ma."
Aku tak mengantar mereka sampai depan. Lagi-lagi morning sickness menghambatku agar standby di dapur saja.
"Huek!"
Hendak berbalik untuk mengambil handuk di ujung ruangan, mendadak seseorang menerobos dapur tanpa pintu itu. Dengan cepat, sontak kedua tangan kekarnya menghimpit tubuhku ke arah tembok. Deru nafasnya yang memburu membuat bulu kudukku seketika meremang.
Dan terjadilah hal yang sama seperti tempo hari. Tenagaku yang belum pulih sehabis mengeluarkan seluruh isi perut, membuatku hanya bisa menerima perlakuan tak senonohnya dengan pasrah.
Seperti sebelumnya, saat lelaki brengsek itu sudah puas dengan hasratnya, dia meninggalkanku begitu saja tanpa sepatah kata pun keluar dari bibirnya.
Yang bisa kulakukan hanya menangis. Sungguh menyesali diriku yang tak bisa berbuat banyak. Meski hanya sekedar mempertahankan harga diri pun aku tak mampu. Dasar payah.
Meringkuk di atas lantai tanpa sehelai benang pun, tak membuatku berniat menghentikan tangis pilu dari relung hatiku yang terdalam. Jiwaku terluka dengan perbuatan bejat Bryan padaku. Tapi aku bisa apa?
Perut yang mulai terasa perih melilit tak kuhiraukan, hingga benda cair hangat keluar dari bawah sana membuatku tersentak. Rasa sakit yang kurasa semakin menjadi. Seolah aku disiksa secara perlahan oleh rasa sakit yang teramat sangat pada perutku.
"Arghhh!" erangku tak mampu menahan perut yang serasa diaduk-aduk.
Tak lama, segumpal daging keluar begitu saja dari inti tubuhku. Entah berapa tetes darah yang keluar menyertainya. Karena sekarang aku sudah berbaring di atas kubangan darahku sendiri.
Kututup mata sejenak untuk mengumpulkan tenaga, seraya terengah mengatur irama nafas yang sempat tersendat. Barulah kutahu, janin yang sedang tumbuh di rahimku, kini sudah berada di luar. Tepat di antara kedua kakiku.
Aku ... Keguguran?
Baguslah. Aku tak perlu menyembunyikan kehamilan lagi dari suamiku. Tidak harus merawat anak dari lelaki brengsek macam Bryan. Kali ini aku harus berterima kasih padanya. Karena ulahnya sendirilah, kini anaknya mati sia-sia.
Kebencian saat mengingat lelaki itu menggerakkan tubuhku untuk bangkit. Aku segera membersihkan diri, lalu membereskan segala kekacauan di lantai dapur. Tak lula, jasad janin itu pun sudah kubungkus dengan secarik kain.
Entah keberanian dari mana, aku berani menggali tanah di samping makam keramat itu. Untung saja suasana sedang sepi. Semua pintu dan jendela tertutup rapat. Ku yakin tak ada yang mengetahui aksi nekatku ini.
Selesai menguburkannya, kuletakkan batu berukuran sedang sebagai penanda. Karena aku sengaja membuat kuburan janin itu rata tanpa gundukan. Agar tidak menimbulkan kecurigaan siapapun. Terlebih mas Raihan yang sering datang ke sini untuk menabur bunga.
...----------------...
Drrtt ... Drrtt ....
Notifikasi masuk menggetarkan ponsel yang tergeletak di atas meja nakas. Secepat kilat kuraih benda pipih itu. Berharap mas Raihan yang mengirimi chat untuk mengabarkan alasan kenapa jam segini dia belum pulang.
Ujung bibirku tertarik ke atas saat nama 'my hubby' tertera pada layar. Baru kali ini dugaanku tepat.
Namun tak berselang lama bibirku kembali melengkung ke bawah. Menghela nafas kasar, sebab membaca pesan darinya.
Dia tidak bisa pulang lagi malam ini.
Huftt ....
Meski kecewa, tapi aku harus ikhlas. Demi memenuhi kebutuhan kami, dia rela bekerja siang-malam tak kenal lelah.
"Semoga keringatmu menjadi berkah, Mas .... " lirihku.
Mengingat ini sudah tengah malam, segera kutarik selimut, lalu menenggelamkan diri di dalamnya, mencoba mengarungi bahtera alam bawah sadar. Mengabaikan ketukan di luar jendela kamar yang dari tadi mengusik malam tenangku.
Aku bisa mengabaikan eksistensi mereka, selama mereka tidak langsung muncul di hadapanku.
"Mama .... "
Masih bisa kudengar suara lirih dari luar sana. Siapa itu? Kenapa memanggil mama? Apa dia memanggilku? Jangan-jangan dia ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
Shyfa Andira Rahmi
boddoohh.....
2024-04-22
0
Ririt Rustya Ningsih
perempuan bodoh ...knpa mengalami pelecehan cuman diem aja
2022-11-08
3
Author yang kece dong
Aduh thor... 😨😢
2022-07-01
2