15. Dia Sudah Meninggal

Sudah genap seminggu, namun aku masih saja terbaring di atas kasur. Bukannya membaik, kesehatanku malah semakin buruk saja.

"Huekk!"

Saat ini aku tengah mengeluarkan isi perut di wastafel dapur. Tak sanggup jika harus merayap ke kamar mandi meski jaraknya dekat. Perutku rasanya mual sekali, padahal aku belum sempat makan apa-apa. Semua makanan yang disodorkan mas Raihan selalu aku tolak. Belum makan saja aku sudah mual, apalagi jika perutku diisi.

Tentu saja mas Raihan tak akan menyerah untuk menyuruhku mengisi perut. Aku hanya beralasan jika ingin makan sendiri, agar dia tidak terus memaksa. Selera makanku benar-benar buruk saat ini.

Mas Raihan sedang mengantar Althaf ke sekolah, membuatku harus merayap untuk sampai ke kamar.

Grep.

"Eh?"

"Mari kubantu," tawar Yati yang entah datang dari mana, langsung menahan tubuhku yang hampir saja limbung karena tak kuat lagi untuk berpegang pada dinding.

Dia menuntunku untuk kembali berbaring di atas ranjang. Lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh ringkihku sebatas dada.

"Terima kasih," ujarku padanya.

"Sama-sama, Via." Yati tersenyum manis sekali.

"Maaf, selalu merepotkanmu."

"Tak masalah. Kita 'kan tetangga. Sudah seharusnya saling tolong-menolong."

Kami pun melanjutkan obrolan kesana-kemari untuk menghilangkan sepi. Seperti biasa, aku akan terlelap mengabaikan Yati yang masih asyik berkicau.

Mas Raihan yang selalu membangunkanku untuk makan. Setelah itu aku tak menjumpai Yati lagi. Aneh juga. Dia seperti menghindari suamiku. Belum pernah kulihat mereka berdua saling sapa.

...----------------...

Di hari ke 13 kondisi badanku sudah lebih baik. Meski belum sembuh sepenuhnya. Selera makanku pun mulai membaik. Malah sekarang aku lebih menginginkan suatu makanan yang terlintas di benakku.

Seperti kali ini. Tiba-tiba saja aku sangat menginginkan martabak manis rasa kacang. Padahal sebelumnya aku sangat anti kacang, karena bisa menyebabkan jerawat bandel tumbuh di permukaan kulit wajahku yang mulus, semulus porselen yang baru dipoles.

Aku makan dengan begitu lahap, bahkan satu kotak kuhabiskan sendiri tanpa tersisa. Sekarang ini aku duduk santai di depan rumah sembari menikmatinya.

Suasana sepi desa ini lama-lama menjadi hal biasa bagiku. Ku lirik rumah Yati yang pintu dan jendelanya masih tertutup rapat. Tumben sudah dua hari ini tetanggaku itu belum menampakkan batang hidungnya.

Apa dia baik-baik saja? Atau dia jatuh sakit juga?

Rasa penasaran memanduku untuk menyambangi kediamannya. Tak apalah, kali ini aku tidak membawakan sesuatu untuknya. Aku hanya ingin mengecek keadaannya. Tubuhku belum kuat jika harus berdiri terlalu lama untuk memasak makanan.

"Eh, Mbak Via, ya? Mau kemana?" Suara dari arah belakang menghentikan langkahku yang baru akan memasuki pekarangan rumah Yati.

Aku menolehkan kepala pada sosok wanita setengah baya itu. Tak kusangaka dia mengingat namaku. Kami hanya bertemu beberapa kali di pasar sebelum aku jatuh sakit. Setahuku bu Ratih ini tinggal di dekat rumah pak Kades.

"Mbak Via sakit? Kok, wajahnya pucat banget?" tanya bu Ratih, mendekatiku.

"Iya nih, Bu. Tapi, sekarang sudah mendingan."

"Kenapa gak istirahat saja? Lah, ini mau kemana?"

"Mau ke rumah Yati, Bu," beberku.

Raut wajah bu Ratih sontak berubah. Bibirnya berkedut seolah ingin memberitahukan sesuatu padaku.

"Ada apa, Bu?"

"Mbak Via belum tahu, ya?"

"Tahu apa?"

Bu Ratih sedikit mencondongkan badannya ke arahku. Lalu berbisik, " Yati dan suaminya sudah meninggal seminggu yang lalu. Mayat mereka ditemukan tergeletak di atas kasur. Ada warga yang melapor jika mencium bau bangkai dari rumah ini."

Bu Ratih menjeda cerita beberapa saat untuk mengambil nafas. Aku tetap setia menyimak dengan gemuruh jantung yang sudah tak karuan lagi.

"Pak Kades dan beberapa warga berinisiatif untuk mengecek rumah ini. Mereka yang pertama kali melihat, mengira Yati dan suaminya sedang tidur. Tapi bau bangkai menyengat itu ternyata berasal dari keduanya. Kemungkinan mereka sudah meninggal tiga hari sebelum ditemukan. Keduanya meninggal secara misterius. Sepertinya mereka mendapat kutukan. Hih, serem," lanjut bu Ratih, mengendikkan bahunya beberapa kali.

Kepalaku semakin pening saja setelah mendengar cerita itu. Bu Ratih ini memang biang gosip. Apakah aku harus percaya dengan ucapannya barusan?

"T-tapi, Bu. Selama aku sakit, Yati datang setiap hari untuk menjengukku. Jadi, maaf saja ya, Bu. Kalau mau mengada-ngada tentang kematian seseorang itu gak baik—"

"Dibilangin gak percaya. Mungkin yang datengin kamu itu arwahnya Yati yang mau pamitan."

Deg.

B-benarkah itu?

Mulut wanita tua itu seenaknya saja kalau bicara. Jelas-jelas yang datang ke kamar itu Yati yang selama ini aku kenal. Bukan—

Eh, tunggu.

Mas Raihan selalu mengelak jika aku bertanya tentang Yati yang tidak berpamitan padaku jika akan pulang sehabis menjengukku.

Apa jangan-jangan yang dikatakan bu Ratih tadi ada benarnya juga?

Jadi, Yati dan suaminya sudah meninggal?!

Seketika tubuhku terasa lemas, kemudian ....

Brughh!

"Eh, Mbak Via!"

Terpopuler

Comments

Ning Hari Mulyana

Ning Hari Mulyana

Sepertinya Via hamil...?! 🤔🤔🤔

2022-10-06

0

lazy

lazy

beneran bikin merinding sam bikin kepo ada apakah?????

2022-07-05

1

Author yang kece dong

Author yang kece dong

Lanjutk kak othor,,,hayoo di datengin arwah apa orang 😱

2022-06-29

1

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!