Jendela yang kupandangi mulai mengembun. Menandakan seberapa dinginnya udara di luar. Hujan memang baru saja reda. Menyisakan genangan becek di setiap jalan berlubang di luar sana.
"Kamu gak mau istirahat dulu?" Mas Raihan datang dari arah belakang, memasang selembar selimut tebal pada belakang tubuhku.
"Mas?"
"Apa, Dek?"
"Mas sudah tahu berita tentang tetangga kita?" tanyaku, tanpa mengalihkan pandangan dari jendela.
Terdengar suara langkah kaki yang mendekat. Kedua tangannya hangat itu diletakkan pada masing-masing pundakku.
"Kamu sudah tahu, Dek? Kalau tetangga kita—"
"Sudah meninggal 'kan, Mas?" selaku tak sabar.
Anggukan kepala mas Raihan nampak dari kaca jendela yang kupandangi.
"Tapi kenapa Mas gak ngomong sebelumnya ke aku?"
Mas Raihan beranjak ke samping badanku, kemudian berjongkok sambil menggenggam jemari yang kuletakkan di atas paha.
"Mas cuma gak ingin kamu kepikiran. Biar kamu bisa cepet sembuh. Mas kangen sama Via yang bawel, aktif, gak bisa diem. Kalau kamu sakit terus, Mas juga tersiksa, Dek."
Saat mendengarnya, air mataku lolos begitu saja tanpa bisa kutahan. Tidak seharusnya aku marah pada suamiku yang begitu baik.
"M-maaf .... " lirihku.
Mas Raihan berdiri. Didekapnya kepalaku dalam pelukannya.
"Gak perlu minta maaf. Gak ada yang salah di sini. Tidur, yuk?"
Ajakan Mas Raihan kutanggapi dengan anggukan. Suamiku pun mengangkat tubuhku ala bridal style menuju singgasana kami malam ini.
"Kalau mau berkunjung ke makam tetangga kita, besok Mas bisa antar," tawar Mas Raihan sebelum memejamkan mata.
"Makasih, Mas."
Kami pun saling memeluk. Menyalurkan kehangatan dari tubuh, sebelum akhirnya menyambut mimpi kami masing-masing.
...----------------...
"Huekk!"
Sudah kesekian kalinya aku harus berusaha mengeluarkan isi dalam perutku pagi ini. Badanku sudah merasa baikan, tapi kenapa rasa mual ini tidak hilang juga?
Mual ini pun hanya terjadi ketika pagi menjelang. Setelahnya bagai hilang ditelan waktu. Perasaan yang sama ketika pertama kali hamil Althaf.
Deg.
Jangan bilang kalau aku hamil anaknya Bryan?
Astaghfirullah .... Amit-amit, jangan sampai itu terjadi.
Aku bahkan tak ingat apakah dia waktu itu mengeluarkannya di dalam atau di luar. Duh, kenapa bodohku ini semakin berkembang, sih?
Hanya ada satu cara untuk membuktikan gagasan itu. Untung saja aku masih menyimpan testpack di dalam lemari pakaian.
Bergegas ke kamar tidur, kutuju lemari pakaian yang terletak di sudut ruangan. Saat kubuka lemari bercat putih itu, sebenarnya di sela bagian bawah ada sepasang mata yang terus mengamatiku. Sesuatu bersemayam di sana.
Tapi, aku tak peduli. Tanganku mengurai tumpukan pakaian yang sudah terlipat rapi itu satu-persatu. Hingga bungkus plastik berbentuk persegi panjang mengenai ujung jari.
"Nah! Ini dia!" Senangnya, akhirnya benda itu ketemu juga. Kupikir sudah hilang atau aku yang lupa menaruhnya.
Setelah benda yang kucari berada dalam genggaman, segera kututup pintu lemari, lalu melesat menuju ke kamar mandi untuk memakainya.
Rangkaian proses sudah kulakukan. Kini hanya tinggal satu langkah lagi. Hatiku sudah dagdigdug menunggu hasilnya. Harap-harap cemas menunggu.
Hal ini lebih mendebarkan daripada melihat rapot Althaf yang kuyakin selalu memuaskan. Aku lebih memilih untuk menutup rapat mataku. Sangat khawatir ketakutanku jadi kenyataan.
Satu. Dua. Tiga. Akhirnya kuberanikan diri membuka mata guna melihat hasilnya. Dan ....
Alhamdulillah ....
Seketika tubuhku merosot. Menangis sejadi-jadinya. Entahlah, aku harus senang atau bersedih. Testpack di tanganku menunjukkan dua garis merah. Yang artinya aku sedang hamil.
Yang kutahu, kehamilan adalah rejeki. Allah memberikan berkah kepercayaan pada kita untuk menjaga titipannya. Haruskah aku bersyukur saat ini?
Raunganku lebih memilukan dari pada saat Bryan memaksaku tempo hari. Jika mas Raihan tahu yang sebenarnya, aku takut dia akan menceraikan istri yang tak bisa menjaga kehormatannya sepertiku ini.
Untung saja sekarang aku tengah sendirian di rumah. Setelah memastikan kesehatanku, mas Raihan akhirnya kembali bekerja menyelesaikan proyeknya yang sempat tertunda. Jam segini, Althaf juga masih berada di sekolah.
Jadi aku tak perlu khawatir, bila ada telinga lain yang mendengar tangisan piluku. Sekitar dua jam sudah, aku menangisi kemalangan nasibku. Selama itu pula aku terus mengurung di dalam kamar mandi hingga mataku membengkak.
Saat ini aku tak punya seseorang untuk membagikan keluh kesah dalam hati. Maka dari itu, aku pun mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat Dhuha. Berharap setelahnya hatiku bisa lebih tenang. Kucurahkan segala gundah dalam untaian doa.
Dan, mengenai tetangga ....
Sejak aku mendengar berita kematian Yati dan suaminya, dia sudah tak lagi menampakkan diri di hadapanku. Apa bu Ratih benar, kehadirannya saat itu adalah cara Yati untuk berpamitan denganku?
Dan tentang kematian keduanya yang misterius, aku no komen. Haruskah aku percaya dengan kutukan makam di samping itu?
Tak lupa, kukirimkan doa untuk mendiang Yati dan suaminya. Semoga segala amal ibadah dan perbuatan keduanya diterima di sisi Tuhan.
Al Fatihah ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
Shyfa Andira Rahmi
Aamiin...🤲🤲
2024-04-22
0
Author yang kece dong
Lanjut othor
2022-07-01
1