Keesokan harinya aku kembali bertamu ke rumah Yati. Dengan dalih bersilaturahim sekalian mengantar makanan untuknya. Tapi tujuan utamaku adalah mengorek fakta yang disembunyikan oleh tetanggaku itu.
Aku yakin jika Yati ini mengantungi beberapa informasi mengenai desa, dan makam misterius itu. Apakah aku harus menumbalkan seseorang untuk mendengarkan ceritanya?
Ayolah, tentu saja aku tak percaya dengan hal seperti itu. Kematian akan dialami setiap orang. Dan setiap orang akan menjemput ajalnya sesuai dengan takdir yang sudah tertulis saat dia dilahirkan.
"Harusnya gak usah repot-repot, Via. Beneran, deh." Yati nampak sungkan menerima rantang berisi makanan dariku.
"Gak masalah, Yat. Santai saja," sahutku sambil meletakkan bokong di atas sofa.
Tak lama Yati datang dari dapur dengan nampan berisi minuman, lalu meletakkannya di atas meja. Bersamaan dengan dia yang mendudukkan diri di sampingku.
"Silahkan."
"Terima kasih." Aku mengambil segelas jus buatannya, lalu meminumnya.
"Aku senang bisa dekat dengan tetangga sebelahku. Gak seperti kebanyakan orang-orang di desa ini yang selalu menutup rapat-rapat rumah mereka," keluhku, memulai aksi.
"Sebenarnya, dulu desa ini ramai. Seperti desa-desa lainnya. Tapi semenjak kejadian itu. Semua berubah," papar Yati. Nampaknya dia mulai terhanyut dalam permainanku.
"Kejadian apa?" pancingku.
"Meninggalnya menantu pak Kades."
"Menantu pak Kades? Maksudnya istinya mas Bryan?"
"Kamu sudah tahu?" Yati nampak terkejut.
"Dia cerita sendiri."
"Gak biasanya Bryan mau mengungkit mengenai mendiang istrinya pada pendatang baru." Yati menatapku heran.
"Entah," tukasku sambil mengedikkan bahu.
"Istri Bryan meninggal dua jam setelah mereka resmi menjadi sepasang suami istri. Gak ada angin, gak ada hujan tiba-tiba dia pingsan. Lalu setelah dilarikan ke rumah sakit dia dinyatakan sudah meninggal karena serangan jantung. Padahal sebelumnya Sekar gak punya riwayat penyakit apapun."
"Sekar?"
"Sekar, nama mendiang istri Bryan. Sahabatku semasa sekolah."
"Innalillahi wa innalillahi rojiun .... "
"Tapi arwahnya gak tenang sampai sekarang."
"M-maksud kamu?"
"Arwahnya mengutuk seluruh warga desa yang menghadiri acara pernikahannya, juga yang menceritakan kisahnya pada orang lain. Dulu aku gak percaya. Karena aku tahu betul siapa Sekar. Makanya aku mencari tahu penyebab kematiannya. Seseorang memberitahuku. Hingga kutukan itu akhirnya terjadi padaku juga."
"Banyak orang di desa ini yang terbukti kena kutukan Sekar. Sampai orang-orang desa ini memilih berdiam diri di dalam rumah daripada gak sengaja keceplosan mengungkit tentang Sekar," lanjut Yati, mendengar itu membuatku semakin bingung saja.
"Tunggu. Kutukan? Maksudnya apa? Aku gak ngerti."
"Siapapun yang menceritakan kisah dibalik meninggalnya Sekar harus menumbalkan seseorang, supaya kutukannya gak sampai pada—Maaf, aku harus ke belakang."
"Eh?" Aku memandangi kepergian Yati dengan mulut yang sudah terbuka, siap untuk dimasuki cicak.
Saat sedang serius-seriusnya mendengarkan, Yati malah menghentikan cerita begitu saja. Sepertinya dia sudah bercerita terlalu jauh.
Aku mengerti sekarang. Kata 'menumbalkan seseorang' tentu saja menjurus pada makam di samping rumahku jika menurut cerita Yati kala itu.
Kepercayaan yang aneh. Tapi setidaknya aku sudah sedikit menemukan titik terang tentang makam itu. Jadi, makam di samping rumah itu bukan makam kosong. Melainkan makam Sekar, mendiang istri Bryan.
Dan, alasan kenapa mendiang istrinya dimakamkan di sana. Karena pemilik pertama rumah itu adalah Bryan. Aku mengetahui hal itu dari mas Raihan kemarin.
Niat Bryan ingin membina rumah tangga di rumah yang sekarang ini aku tinggali. Namun, takdir berkata lain. Manusia hanya bisa berencana, Tuhan lah yang berkehendak.
Aku pun memilih untuk pamit, mengingat kondisi Yati sepertinya tidak baik-baik saja setelah membocorkan beberapa fakta padaku tadi. Sebenarnya aku tak tega juga dengannya. Mau bagaimana lagi, aku kadung penasaran.
"Eh, Mas? Kok udah pulang?" tanyaku, saat melihat mas Raihan sudah ada di dalam kamar sedang rebahan di atas kasur.
"Iya nih. Kerjaannya gak terlalu banyak. Beberapa hari ke depan sepertinya Mas bakal pulang malam. Malah bisa saja gak pulang ke rumah."
"Lah? Kenapa, Mas?"
"Mas ada proyek baru di luar kota. Makanya gak bisa sering-sering pulang kalau kerjaan belum selesai."
"Yah ... Kalau malam aku tidur sendiri dong," rengekku.
"Kan ada Althaf."
"Althaf lebih suka tidur sendiri di kamarnya, Mas."
"Mas bakal berusaha biar bisa pulang terus. Tapi gak janji."
Aku merengut.
Bukan apa-apa. Setelah omongan Yati mengenai mata batin tempo hari, aku jadi was-was jika makhluk tak kasat mata itu menampakkan wujudnya tiba-tiba. Bukannya aku mempercayai ucapannya mentah-mentah, antisipasi itu juga perlu, 'kan?
Saat akhirnya malam tiba, kami melakukan ritual sebelum tidur seperti biasanya. Aku terus memeluk tubuh suamiku. Berharap menemukan kehangatan lebih di sana. Tak ingin momen ini akan berakhir begitu saja.
Entah kenapa, aku merasa akan kehilangan kebersamaan seperti ini kedepannya. Semoga hanya perasaanku saja.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
💞Amie🍂🍃
hadir lagi kakak
2022-11-23
0
lazy
duh aku mah bakal ngikut kerja ajalah
2022-06-29
1
Author yang kece dong
Lanjutkan othor...😍 semangat
2022-06-28
1