Tok Tok
"Assalamu'alaikum .... " salamku, mengetuk pintu rumah tetangga sebelah.
Ini sudah ke tiga kalinya aku mengetuk sembari mengucap salam. Lama sekali mereka keluar. Tidak tahu apa kakiku sudah pegal.
Tanganku yang menenteng rantang makanan pun sudah mulai kesemutan. Aku berinisiatif untuk mengucapkan terima kasih pada tetangga sebelah karena sudah membantuku kemarin, dengan membawakan beberapa masakan buatanku hari ini.
Ceklek.
Akhirnya pintu terbuka juga. Wajahku yang semula jutek, langsung berubah cerah.
"Eh, Via? Silahkan masuk. Maaf lama. Lagi sibuk beres-beres," beber Yati yang sudah menampakkan diri dari balik pintu yang terbuka separuhnya.
"Iya, tidak apa-apa."
Saat memasuki rumah, hawa aneh tiba-tiba menyelimuti. Mungkin saja aku belum terbiasa dengan rumahnya, pikirku.
"Aku bawakan makanan. Sekaligus mau berterima kasih karena sudah menolongku kemari." Kusodorkan rantang pada Yati.
"Sama-sama, Via. Sudah jadi kewajiban untuk menolong tetangga. Gak perlu repot-repot segala. Setiap hari juga boleh. Hehe."
Saat Yati pamit ke dapur, aku memutuskan melihat-lihat rumahnya sebentar. Rapi dan bersih, itulah kesanku setelah melihatnya lebih detail. Hingga sesuatu di atas meja sana mampu mengalihkan perhatianku.
Ku amati bingkai foto itu dengan seksama. Di foto itu ada Yati, seorang pria yang aku pikir itu suaminya, dan seorang anak laki-laki.
Yang menjadi pusat perhatianku adalah wajah bocah ini seperti tidak asing. Tapi dimana aku bertemu dengannya?
Kepala!
Kepala di dapur dan tayangan televisi semalam. Ya, bocah inilah yang aku lihat.
Astaga! Jangan-jangan ...
"Via!!"
"Astagfirullah!" Aku memekik memegangi dada sambil berbalik saat seseorang menepuk keras bahuku.
"Yati?! Ngagetin aja!" sungutku, mengatur irama jantung yang sontak berdetak tak karuan.
"Jangan melamun. Kamu itu hobi atau gimana? Pantes mereka suka gangguin kamu."
"Mereka?" Terasa ambigu dengan ucapan Yati barusan.
Yati terlihat salah tingkah. Seperti sudah membocorkan sesuatu yang dia tahu.
"Duduk dulu, Via."
Kami pun duduk bersebelahan di salah satu sofa. Sudah ada dua gelas teh hangat, juga beberapa camilan di meja. Akun bahkan tidak tahu sejak kapan Yati menyiapkan semua ini.
"Yat .... " panggilku membuka percakapan, sebab kami saling diam untuk beberapa saat.
"Ya, Via?"
"Foto itu .... " Ekor mataku melirik ke arah foto yang tadi aku perhatikan.
"Oh, itu foto keluarga kecil kami."
"Anak laki-laki itu?"
"Dia Bagas. Anak kami."
"Wah, anak kita sama-sama cowok. Kapan-kapan boleh dong kenalan sama Althaf. Dia suka punya teman baru."
"Ide yang bagus. Tapi, sayangnya Bagas sudah meninggal, Via."
Deg.
"M-maaf. Aku gak bermaksud—"
"Gak apa. Maklum kalau hanya bertanya. Bagas meninggal karena dijadikan tumbal oleh makam di samping rumahmu itu."
Lagi-lagi aku terkejut dibuatnya. Dugaanku tidak salah. Tayangan televisi sialan itu juga terbukti. Apakah aku harus percaya jika makam itu benar-benar memakan tumbal?
"T-tapi bagaimana bisa? Pantas saja aku selalu mendapat gangguan. Aku juga beberapa kali sempat melihat Bagas." Aku menurunkan nada bicara ku di akhir kalimat.
"A-apa?!" Netra Yati sontak melebar.
"Sebenarnya selama ini aku selalu mendapatkan teror dari makhluk halus. Ku pikir mereka penunggu rumah yang aku tinggali. Tapi itu sangat mengganggu. Mereka sering menampakkan wujudnya di hadapanku. Juga makhluk hitam yang—"
"Gak mungkin. Orang-orang yang pernah menghuni rumah itu rata-rata mendapat gangguan, makanya gak ada yang betah tinggal di sana. Tapi hanya sekedar suara dan bayangan saja. Gak ada yang sampai melihat wujud makhluk itu." Yati menatapku heran.
"Apa kamu indigo?" Yati mendekatkan wajahnya.
Hampir saja aku tertawa mendengar pertanyaan itu.
Yang benar saja. Aku yang selalu berpikir rasional tentu tak pernah berpikir memiliki hal semacam itu. Bahkan aku masih belum percaya dengan beberapa gangguan yang aku alami disebabkan oleh makhluk halus penunggu rumah.
Yang kutahu, dunia kita berbeda. Selama tak saling menggangu semuanya akan damai, meski kita hidup berdampingan sekalipun.
"Apa kamu pernah mandi di Sendang Wangi?"
Pertanyaan yang sukses membuat wajah remehku menegang. Yati dapat melihat raut wajahku yang berubah itu dengan mudah.
"Sudah kuduga," tebaknya.
"Memang kenapa?"
"Itu salah satu larangan di desa ini, Via."
"Apakah mandi adalah suatu larangan?" tanyaku, sedikit geram.
Yati mendengus, "Yang dilarang itu mandi di Sendang Wangi. Barang siapa yang berani mandi di sana. Mata batinnya akan terbuka. Jika orang itu kuat melihat hal-hal yang sebelumnya tak pernah terlihat, itu tak jadi masalah. Tapi jika gak kuat, orang itu bisa gila. Bahkan yang lebih parahnya, dia akan bunuh diri. Makhluk astral di sini tidak main-main, Via."
OMG! Apakah aku harus mempercayai ini? Jadi, mata batinku terbuka?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
Ning Hari Mulyana
Itulah akibat orang yg dibilangin sukanya "NGEYEL".
2022-10-06
2
lazy
jadi si mama tidack halu
2022-06-29
1
Author yang kece dong
Lanjut semangat othor...😍
2022-06-28
1