Bab 18

Kondisi Bunda Indri semakin memburuk, penyakit yang di derita nya sudah sangat menjalar kemana-mana dan tidak mendapatkan penanganan sejak dulu.

Delima, Alfans, Ayah dan Raka duduk menunggu Dokter kembali dari ruangan. Mereka duduk dengan gelisah, apalagi Delima dan Ayah, mereka seperti orang yang sangat kebingungan.

"Ya Allah, berikanlah kesehatan untuk Bunda" lirih Delima bangkit dari duduk nya.

Delima menatap ruangan tersebut dengan nanar, bahkan bahu nya sudah bergetar karena menahan tangisan yang akan pecah.

Alfans mendekati nya, dia lalu memeluk Delima dengan erat. Dan, pecahlah tangisan Delima di pelukan Alfans.

Ceklek.

Pintu ruangan terbuka, Dokter keluar bersama dengan salah seorang perawat. Mereka keluar dengan wajah lelah dan menunduk.

"Bagaimana Dok?" tanya Ayah Deni yang sudah ada di samping Delima bersamaan dengan Raka.

"Maaf Tuan, kami sudah menyelamatkannya dengan semampu kami. Namun, keadaan Nyonya sudah parah dengan penyakitnya, Nyonya Indri meninggal dunia, Tuan" jelas Dokter dengan penuh sesal dan helaan nafas kasar.

Deg.

Deg.

"Ti tidak mungkin" ucap Ayah Deni dengan air mata yang menetes.

Raka langsung memeluk sang Opa, dia menangis di pelukan Opa nya.

Terlihat Delima juga menangis di pelukan Alfans dengan histeris, mereka tidak menyangka bahwa Bunda Indri akan pergi secepat ini.

"Bundaaaa" lirih Delima dengan terus terisak.

"Dok, biarkan kami melihat nya untuk terakhir kali" ucap Ayah dengan lirih.

Dokter mengangguk, dia kemudian memberi jalan untuk ke empat orang yang sedang berduka.

Asisten Ayah Deni pun memberi kabar ini pada Randi sesuai arahan dari Alfans.

**

Berita meninggalnya Istri dari seorang Deni Saputra sudah terdengar kemana-mana.

Karangan bunga, pelayat dan ucapan belasungkawa pun sudah terdengar memenuhi mansion Saputra. Mobil jenazah datang dengan beberapa mobil lainnya di belakang, para penjaga pun membantu membawa jenazah masuk ke dalam rumah Ayah Deni.

Terlihat Delima yang terus menangis di pelukan Alfans. Raka pun tak melepaskan pelukannya dari Alfans, meski disana ada Papa kandung nya.

Semua orang melihat bagaimana terpuruk nya Delima dengan kehilangan sosok mertua yang sudah dia anggap Ibu kandung sendiri.

Deni Saputra sendiri menguatkan hati dan diri, dia terlihat tegar meski menahan tangisannya. Dia duduk di samping jenazah Istri tercinta nya.

Terlihat Randi menangis dengan pilu saat sang Bunda meninggalkannya, dia bahkan terisak di pelukan Vini sang Istri.

"Kenapa Bunda pergi secepat ini, padahal Randi mau mengatakan bahwa Vini sedang mengandung anak Randi, Bunda" racau Randi dengan terisak.

Raka langsung menatap Papa nya dengan tatapan yang entah.

*

Proses demi proses berjalan dengan lancar, dan semua keluarga sudah tiba di pemakaman keluarga Saputra.

Raka memeluk Opa nya, sedangkan Alfans sendiri tidak melepaskan Delima begitu saja yang sedang terpuruk.

Acara terakhir pun sudah selesai, satu persatu meninggalkan pemakaman dan hanya menyisakan Delima, Raka, Alfans, Ayah Deni serta Randi dan Vini.

Delima jongkok di depan pusara mertua nya, dia mencium nya dan menangis sejadi-jadi nya disana.

"Bunda, aku yakin Bunda sudah bahagia. Aku ikhlas Bunda" ucap Delima dengan pelan.

"Ikhlaskan Bunda mu, Nak. Dia pasti sudah bahagia di sana bersama dengan yang lebih berhak atas dirinya" ucap Ayah Deni mengusap lembut kepala Delima.

"Ini semua salah mereka Ayah, jika Bunda tidak pergi ke Jepang maka dia tidak akan kelelahan dan tidak akan pergi meninggalkan kita" sentak Randi yang memang masih tak terima Bunda nya meninggal.

"Apa maksud kamu?" tanya Delima bangkit dari berjongkok nya.

Vini tersenyum sinis pada Delima, dia lalu merangkul tangan Randi dengan manja.

"Ya memang karena menjenguk kamu dan anak kamu Bunda jadi kelelahan, dia masuk Rumah sakit setelah pulang dari Jepang" jawab Vini dengan sinis.

Deg.

Delima menatap Ayah mertua nya, namun hanya gelengan kepala saja yang dia dapatkan.

"Bukan karena Delima, namun karena Putra nya" ucap Ayah Deni dengan tegas dan datar.

Hah.

Randi menatap Ayah dengan seksama, dia tidak terima dengan ucapan Ayah nya.

"Ayo pulang, Ayah akan ceritakan semua nya. Dan ada yang Ayah mau bicarakan" ajak Ayah Deni pada semua nya.

Ayah Deni merangkul pundak sang Cucu, dia lalu melangkah ke arah mobil yang sudah ada Asistennya disana.

Kemudian semua nya juga ikut masuk ke dalam mobil yang membawa mereka kesana tadi.

Vini menyunggingkan senyuman kecil nya, dia berpikir bahwa Ayah mertua nya akan memberikan seluruh harta nya pada sang Suami, Randi.

Perjalanan dari pemakaman sangat lancar karena memang masih jam kantor. Suasana jalanan pun lumayan lenggang dan mempercepat perjalanan mereka.

Setelah tiba di mansion Saputra, mereka langsung duduk di ruang tamu sesuai perkataan Ayah Deni.

"Ck, kalian itu belum sah Suami Istri kenapa terus berpelukan" celetuk Randi dengan ketus.

Delima dan Alfans saling pandang dan malah mengeratkan pelukannya.

"Tidak apa, yang penting jangan Suami orang saja" balas Delima dengan santai.

"Sial" batin Randi dongkol.

Brak.

Ayah Deni memberikan surat pada Randi dan Raka satu persatu. Dengan penuh semangat Vini menyuruh Randi membaca nya.

"Itu adalah surat wasiat Ayah dan Bunda, disana juga ada bukti bahwa kami sangat sadar membuat nya. Dan ada bukti berupa Vidio jika memang kurang percaya" jelas Ayah Deni.

Randi langsung membuka nya, berbeda dengan Raka yang menatap Mama nya terlebih dulu.

"Bukalah Nak, mungkin kamu berhak tahu" ucap Delima lembut.

Raka mengangguk, dia lalu membuka nya dan membaca dengan seksama.

Brak.

"Kenapa bagian Mas Randi hanya 30%, Ayah" ucap Vini tak terima.

"Karena memang dia pun sudah setuju bahwa yang 70% untuk Putra nya, Raka" balas Ayah Deni dengan tegas.

"Ya aku menerima nya, sayang" timpal Randi saat melihat sorot mata tajam sang Istri.

"Gak bisa begitu, aku juga sedang hamil anak mu sekarang" bentak Vini.

Randi menghela nafas, dia teringat akan perbincangannya tempo lalu bersama dengan kedua orangtua nya.

"Bunda mu sudah meminta agar kamu meninggalkan wanita itu, tetapi kamu tak mau dan memilih mengikhlaskan warisan itu untuk Raka. Kamu sendiri juga memilih pergi padahal tau Bunda mu sangat menyayangi mu, Randi" jelas Ayah Deni.

"Dia bahkan sampai sakit karena memikirkan mu yang tak mau mengalah untuk kesehatan Bunda mu sendiri, kamu terlalu egois dan mementingkan wanita itu" ucap nya lagi dengan sorot mata yang tak bersahabat.

"Karena memang aku Istri nya, Ayah. Harus nya aku juga kebagian karena aku menantu Ayah" balas Vini dengan lugas.

"Memang nya saya merestui kalian? Menantu saya hanya satu dan hanya Delima saja. Cucu saya juga satu dia hanya Raka saja, karena apa? Karena Randi di vonis tidak akan memiliki keturunan kembali setelah kecelakaan saat Raka umur 1 tahun" tegas Ayah Deni membuka rahasia besar mereka.

Deg.

Deg.

.

.

.

.

.

.

.

Terpopuler

Comments

Maria Magdalena Indarti

Maria Magdalena Indarti

wow.... betul kan Gini hamil anak laki-laki lain bukan Randi. rasakan randi

2025-03-20

0

Malis Rahasya

Malis Rahasya

hahaha beneran mandul pelakor/Facepalm//Facepalm//Facepalm/

2024-12-02

0

G** Bp

G** Bp

jreng² rahasia apa lagi ini.klu Randi ga bisa mempunyai keturunan lagi disaat Raka berumur 1 THN lalu yg dikandung sama Vini anaknya siapa???

2024-05-23

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!