Bab 3

Delima masih diam saja dengan mematung, bahkan dia tidak bisa merasakan saat tubuh nya di geser oleh Putra nya, Raka.

"Papa, Tante Vini" ucap Raka dengan raut wajah memerah dan mengepalkan tangannya.

Raka lalu membalikan tubuh nya dan menatap sang Mama yang menangis dengan pandangan terluka.

"Ayo pergi, Ma" ajak Raka dengan menyeret tangan sang Mama.

Delima sadar, dia lalu menyeka air mata nya dan berlalu dari sana bersama dengan sang Putra, Raka.

"Sayang, tunggu dulu" teriak Randi dengan menggema.

Randi tidak bisa mengikuti nya karena dia masih telanjang dan dengan gerakan cepat dia meraih pakaiannya untuk di kenakan kembali.

"Bagaimana ini, Mas?" tanya Vini dengan panik.

Randi hanya diam saja, dia lalu beranjak pergi dari sana untuk mengejar anak dan istri nya.

"Tunggu Mas, aku ikut" teriak Vini dengan berlalu juga.

"Ayo cepat" balas Randi.

Lalu keduanya langsung saja pergi dari perusahaan, mereka akan langsung menuju ke Rumah milik Randi karena Istri dan anak nya pasti kesana.

Setelah kedunya duduk di dalam mobil, Randi langsung melajukannya dengan kecepatan yang cukup tinggi.

Sedangkan di depan ruangan Randi, Asistennya hanya menggelengkan kepala dan berucap syukur.

"Ini karma buat kalian, kurang apa Bu Delima? Padahal dia sudah baik dan juga cantik, tetapi dengan bdooh nya Pak Randi malah terpincut wanita lain dan sial nya wanita itu sahabat Bu Delima" gumam Asisten Randi dengan tersenyum kecut.

Dia memilih mengerjakan pekerjaannya lagi, dia merasa bersalah pada Istri Bos nya karena hanya bisa diam saja saat dirinya di khianati. Namun sekarang semua nya sudah terbongkar dan terlihat oleh mata kepala Delima dan bahkan Putra nya, Raka.

**

Randi dan Vini langsung saja masuk ke dalam Rumah, terlihat disana sangat sepi dan hanya ada pelayan saja.

"Bi, dimana Delima dan Raka?" tanya Randi pada pelayan yang disana.

"Belum pulang Tuan, mungkin lagi di jalan" jawab pelayan dengan sopan.

"Baiklah" ucap Randi dengan mengusap wajah nya kasar.

Randi lalu melangkah ke ruang tamu, disana Vini sudah menunggu nya dengan wajah cemas nya juga.

"Bagaimana Mas?" tanya Vini bangkit dari duduk nya.

"Tidak ada, entah kemana mereka" jawab Randi dengan menghembuskan nafas kasar.

Randi mendudukan tubuh nya di atas sofa, dan di ikuti oleh Vini juga di samping nya. Bahkan Vini memeluk tubuh Randi dan di biarkan saja oleh Randi.

Ceklek.

Pintu utama terbuka dan munculah Delima bersama Raka yang mana membuat Randi gelagapan karena sedang berpelukan dengan Vini.

"Papa" teriak Raka penuh dengan emosi dan kekecewaan.

"Pergi ke kamar dulu, Nak" ucap Delima lembut.

Raka mengangguk, dia lalu menatap sang Papa dan Tante nya dengan sorot mata tajam.

Setelah kepergian Raka, Delima duduk di hadapan keduanya dan menatap keduanya dengan tatapan kecewa.

Vini hanya bisa menunduk dan meremas ujung kemeja kerja saja, dia sangat enggan menatap wajah Delima sahabat nya.

"Sejak kapan?" tanya Delima dengan dingin.

"Sayang, Mas bisa jelaskan semua nya. Itu hanya salah paham saja" ucap Randi dengan membela diri.

Heh.

Delima menatap Randi dengan tajam namun terlihat sangat jelas bahwa tatapan itu sendu dan kecewa.

"Salah paham? Salah paham dimana nya? Apa kalian melakukan hubungan intim dengan saling menikmati bahkan mende*ah dengan jelas itu salah paham?" tanya Delima kembali dengan penuh penekanan.

"Iya Delima, itu semua salah paham. Kami di jebak dan di beri obat perang*ang" timpal Vini.

Brak.

"Kalau kalian di jebak kalian tidak akan saling menikmati dan langsung ada disini, kalian pasti akan terus menerus melakukan hal menjijikan itu di ruangan laknat itu" teriak Delima dengan penuh amarah.

"Aku tanya sekali lagi, sejak kapan?" teriak Delima kembali.

Randi menatap Delima yang sedang menahan amarah dan air mata nya, dia ingin sekali memeluk dan menenangkannya.

"2 tahun terakhir" jawab Randi dan Vini dengan lirih.

Deg.

Tes.

Tes.

Air mata yang sejak tadi di tahan pun menetes juga, hati Delima remuk dan dia merasakan sesak di dada nya. Delima meremas dada nya dengan air mata yang terus menetes.

"Maafkan aku, sayang" ucap Randi menatap Delima dengan menyesal.

Plak.

Plak.

"Ayah, Bunda" lirih Randi menatap kedua orangtua nya yang datang dengan penuh emosi.

"Entah kenapa Bunda mu merengek ingin kesini, dan ternyata saat kami tiba kami di suguhi kenyataan ini" bentak Ayah Randi dengan penuh kemarahan.

Vini sendiri tak kalah terkejut nya dari Randi saat melihat sosok kedua orangtua Randi. Di bahkan menundukan pandangannya saat Bunda Randi menatap nya tajam.

"Pantesan saja Bunda selalu khawatir akan Istri mu, Ran" ucap Bunda dengan segera menghampiri Delima yang menunduk dengan tangisan terisak.

Bunda memeluk tubuh sang menantu dengan erat, pecahlah tangis Delima yang sejak tadi dia tahan. Delima menumpahkan semua nya di pelukan sang Ibu mertua, tubuh nya bahkan bergetar karena tangis yang memilukan.

"Mama" teriak Raka saat melihat Mama nya menangis di pelukan sang Oma.

"Opa, kenapa Mama menangis?" tanya Raka dengan memegang tangan sang Opa yang ada di hadapannya.

Ayah Randi hanya bisa diam, Raka bukan lagi anak kecil yang bisa di bohongi. Dia sudah besar dan sebentar lagi akan masuk ke sekolah menengah pertama.

Raka lalu menatap Papa nya, dia mengepalkan tangannya dengan sorot mata tajam.

"Papa jahat, Papa kenapa membuat Mama menangis, hah? Apa ini semua karena Tante Vini?" teriak Raka dengan lantang di hadapan wajah Randi.

"Raka" bentak Randi tak sadar.

Raka terperanjat, dia lalu memeluk Opa nya yang berada di dekat nya.

"Nak, pergilah bersama Bibi ke kamar, hmm" ucap Delima dengan tersenyum.

Raka tidak bisa menolak, dia lalu memanggil pelayan.

"Raka benci Papa, Papa jahat, Papa kasar" teriak Raka kembali dengan wajah kecewa nya.

Deg.

Randi langsung mengutuki dirinya yang tak bisa menahan emosi. Dia menatap Putra nya dengan pandangan nanar.

*

Setelah cukup tenang, Delima menyeka air mata nya dan melepaskan pelukannya pada sang Mertua.

"Vini, kamu itu wanita dan kamu itu sahabat dekat Delima. Tapi kenapa kau malah menusuk Delima seperti ini?" tanya Bunda Randi dengan sinis.

"Apa kurang selama ini Delima memberimu pasilitas dan uang? Apa kamu tidak ingat bagaimana Delima menyelamatkan mu dari rumah bordi* itu?" tanya nya kembali dengan pandangan tak suka.

Vini hanya diam dengan tangan mengepal saja, dia bahkan tak berani menatap Delima yang ada di hadapannya.

"Bun, ini semua hanya salah paham" ucap Randi dengan kukuh.

"Cukup Mas" bentak Delima berdiri dari duduk nya.

Delima menatap Suami nya dengan pandangan sendu, sedih dan kecewa. Dia mengatur nafas nya yang memburu karena emosi sudah menguasai diri nya.

.

.

.

.

.

.

.

.

Terpopuler

Comments

asmaul husnah

asmaul husnah

hadew Randi bikin gedekkk ajaaaa

2024-05-23

0

G** Bp

G** Bp

salah paham kok sampai berhubungan intim dan selama 2 THN lg.ininbkn salah paham tapi mmg dah demen...

2024-05-23

0

Dewi Nurlela

Dewi Nurlela

lama bgt salam fahamnya ya sampe dua tahun

2024-04-11

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!