Bab 15

Ke esokan pagi nya, Randi berangkat ke Rumah sakit yang sama dengan sang Bunda. Randi menggandeng tangan Vini penuh dengan senyuman, bahkan sejak dari Rumah pun senyuman tersebut sudah mengembang.

"Bahkan kau semakin mesra dengan Istrimu setelah tau bahwa dia bersalah" gumam Ayah Deni yang melihat ke arah Putra nya.

"Sekarang semua terserah kamu saja, Ran. Ayah dan Bunda sudah lelah mengingatkan mu akan ke licikan Istri mu" gumam nya lagi.

Ayah Deni berlalu kembali ke ruangan dimana Istri nya di rawat. Dia sebenarnya ingin memberitahu Delima, namun sekarang dia sedang fokus akan lomba Raka.

"Cepatlah sadar, setelah itu kita pergi menemui Delima dan menetap disana bersama nya" gumam Ayah Deni menatap sang Istri dari luar ruangan.

*

Sedangkan di ruangan Obgyn, Vini baru saja di periksa oleh Dokter kandungan. Dan hasil nya adalah positif, Vini dinyatakan hamil dan berusia 5 minggu.

Tentu saja kabar itu membuat Randi bahagia bukan main, dia akan menjadi sosok Ayah.

"Ayo kita temui Ayah dulu, sayang" ajak Randi.

"Iya Mas, aku juga ingin Ayah tahu bahwa kita akan mempunyai Anak" balas Vini tersenyum.

Randi menganggukan kepala, dia lalu menggandeng tangan sang Istri dan menuju ke ruangan dimana Bunda nya di rawat.

***

-Osaka, Jepang.

Delima duduk berdampingan dengan Alfans, mereka melihat Raka yang sedang berlomba di hadapannya. Namun gerakan Delima yang terlihat gelisah mengganggu Alfans yang sedang fokus menatap ke depan.

"Ada apa, hmm?" tanya Alfans lembut.

"Entahlah, aku merasa perasaan tak enak begini. Entah kenapa kepikiran Bunda terus" jawab Delima dengan lirih, bahkan air mata nya akan menetes.

Alfans menggenggam tangan Delima lembut, dia menyeka air mata yang sudah menetes.

"Tenanglah, kita berikan semangat terlebih dulu untuk Raka. Setelah selesai lomba Raka kita tanyakan pada Tuan Deni, oke" bujuk Alfans.

"Iya, entah kenapa Ayah seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Aku takut Bunda kenapa-napa" ucap Delima kembali.

Dengan ragu Alfans memeluk Delima supaya ia bisa tenang, dia tidak mau membuat Raka pecah konsentrasi nya.

Deg.

"Nyaman sekali" batin Delima memejamkan mata nya.

Tanpa sadar, Delima melingkarkan tangannya di pinggang Alfans dan menenggelamkan wajah nya di dada bidang nya.

Eh.

Alfans kaget saat Delima membalas pelukannya, namun dia merasa sangat bahagia karena hal ini. Alfans mengscup puncak kepala Delima dengan lembut.

Raka yang memang melihat nya pun tersenyum saja, kemudian dia fokus kembali akan perlombaannya agar menang dan membuat sang Mama bahagia.

Beberapa saat kedua nya menikmati pelukan hangat dan nyaman tersebut, bahkan Alfans sangat enggan melepaskannya.

"Ehemm, maaf" ucap Alfans setelaj mereka melepaskan pelukannya.

"Tak apa" balas Delima tersenyum kikuk.

"Terimakasih karena berkatmu aku sudah tenang" ucap Delima pelan.

Alfans mengulum senyum nya, dia hanya mengangguk dan membawa tangan Delima ke dalam genggamannya kembali.

Lalu kedua nya fokus kembali pada Raka, Delima merasa lebih baik lagi dan memberikan Raka semangat dengan tersenyum.

Hingga acara selesai, Delima dan Alfans menunggu Raka di luar gedung. Raka akan berpamitan pada kawan dan guru pembingbing nya lebih dulu sebelum pergi bersama dengan Alfans dan sang Mama.

Ke juaraan pun akan di beritahu 2 hari kemudian, karena belum selesai dari sekolah lainnya.

*

"Mama, Paman" panggil Raka.

"Hai anak jagoan" ucap Alfans dengan tersenyum.

Raka hanya terkekeh kecil, dia kemudian memeluk Mama nya dan bergantian pada Alfans.

"Kau sangat hebat, Nak. Mama bangga padamu" ucap Delima dengan mengecup kening Raka lembut.

"Terimakasih, Ma. Do'a dan suport Mama yang membuat aku sampai sekarang" balas Raka tersenyum.

Alfans tersenyum, entah kenapa dia merasa sangat beruntung karena mencintai Delima yang sangat lembut. Bahkan Raka pun tidak terlihat mirip Ayah kandung nya, hanya saja ke tegasannya mirip Randi.

"Terimakasih Paman karena mau menemani Mama" ucap Raka menatap Alfans tulus.

"Paman akan menjaga, menemani dan membuat kalian tersenyum. Karena kalian adalah sumber kebahagian dan semangat Paman" balas Alfans memeluk Raka kembali.

"Bisakah memanggil Paman, Papa?" tanya Alfans lembut.

Raka mengangguk, namun dia juga menatap sang Mama dan hanya di balas anggukan oleh Delima.

"Tentu saja, jangan buat Mama nangis ya, Pa" ucap Raka tegas.

"Siap komandan" balas Alfans.

Kemudian kedua nya tertawa bersama, hanya Delima saja yang mengulum senyum dengan tingkah kedua nya.

"Ayo berangkat" ajak Alfans dengan meraih tangan Delima.

"Lets Go" balas Raka semangat.

Alfans akan membawa Delima dan Raka untuk jalan-jalan, setelah nya dia juga akan membawa keduanya untuk makan malam di Restoran yang sudah di pesan oleh Alfans sendiri.

Sepanjang jalan, Raka terus saja bercerita dengan Alfans yang sedang menyetir. Delima hanya menggeleng saja, dia memilih diam dan memejamkan mata nya karena semalam dia kurang tidur.

"Semoga Ayah dan Bunda tidak kenapa-napa, kenapa perasaan ku tidak enak terus ya" batin Delima kembali.

Hingga tanpa sadar Delima pun tertidur karena memang lelah, Alfans yang melihat nya hanya tersenyum kecil, bahkan dia sempat mengusap kepala Delima lembut.

"Papa, kenapa tadi Mama menangis?" tanya Raka berbisik.

"Dia teringat akan Oma kamu, Nak" jawab Alfans ikut berbisik.

Raka diam, dia juga sebenarnya merasa khawatir dan entah apa penyebab nya.

"Bagaimana kalau besok kita ke Indonesia saja, mumpung aku libur 1 minggu" usul Raka.

"Boleh, nanti kita bicarakan pada Mama ya" balas Alfans.

Raka mengangguk, lalu ia duduk kembali dengan rapih, dia mengotak-ngatik ponsel yang di genggaman nya.

Sedangkan Alfans fokus pada jalanan dan Delima sendiri sudah terlelap.

"Seperti nya memang ada yang terjadi pada Tuan Deni dan Nyonya Indri, aku harus mencaritahu nya sebelum memutuskan pulang" batin Alfans.

Hingga tak berselang lama, mobil yang Alfans kendarai pun sudah tiba di Taman yang sangat enak di pandang.

"Pa, bangunkan Mama. Aku ingin membeli itu dulu dan nanti kita duduk di kursi itu" ucap Raka sambil menunjuk ke arah penjual jajanan dan kursi dekat dengan Danau.

"Baiklah Boy" balas Alfans.

Raka kemudian keluar dari dalam mobil, menyisakan Delima dan Alfans saja.

Alfans menatap Delima yang masih terlelap dengan damai, ingin sekali rasanya dia memeluk dan mencium Delima.

"Huh kenapa kamu menggemaskan sekali" gumam Alfans tersenyum kecil.

Kemudian Alfans mengusap lembut pipi Delima, dia tidak ingin berlama disana berduaan karena takut khilaf.

Eunggh.

Lenguh Delima dengan mengerjapkan mata nya, dia memang gampang terbangun saat ada yang mengusik nya.

"Eh, kita dimana?" tanya Delima kaget saat setelah membuka mata nya.

"Kita di Taman Kota Osaka, ayo turun" jawab Alfans lembut.

Delima tersenyum kikuk, lalu dia ikut turun setelah Alfans membukakan pintu mobil untuk nya.

.

.

.

.

.

.

Terpopuler

Comments

Maria Magdalena Indarti

Maria Magdalena Indarti

Randi lupa nih cari Raka

2025-03-20

0

Herni Rosita

Herni Rosita

itu org tuaY randi bilang mo mencarut dri ali waris dn g mengaktifkan msh saja peduli sm randi hedech makin ngelunjak tuh si randi sialan

2023-05-24

4

𝐋𝐚R⃟𝐚♡⃝𝕬𝖋🦄🎯™

𝐋𝐚R⃟𝐚♡⃝𝕬𝖋🦄🎯™

sudah saling panggil papa mama 🙈

2022-07-15

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!