Bab 14

Randi melajukan mobil nya dengan kecepatan sangat tinggi, dia langsung pulang ke Rumah yang sudah beberapa bulan ini di huni oleh dirinya dan Vini.

Semenjak perusahaannya merosot, Randi menjual semua aset untuk menyuntik dana kembali. Hingga dalam 7 bulan terakhir ini perusahaan nya sudah kembali stabil.

"Jika benar ini ulahmu Vin, maka aku tak akan memaafkanmu" geram Randi penuh dengan emosi.

Setelah pembicaraannya dengan sang Ayah, Randi tidak percaya begitu saja hingga dia akhirnya menemui anak buah dan Asistennya Ferdi, mereka di paksa untuk berbicara yang se jujur nya.

-Flashback.

"Jelas tidak akan ketemu, orang anak buahmu di ancam oleh Istrimu jika bicara jujur pada mu" celetuk Ayah Deni.

Deg.

Randi terkejut bukan main, dia lalu menatap Ayah nya yang juga sedang menatap nya penuh dengan ejekan.

"Kau tidak tahu bukan? Itulah Istri mu yang kau cintai namun licik" ucap Ayah Deni kembali.

"Ayah jangan mengada-ngada, Vini tidak mungkin melakukan hal itu. Dia tahu bahwa aku sangat merindukan Raka" balas Randi dengan gelengan kepala.

"Ck, sana tanyakan saja pada anak buah dan Asisten mu" ucap Ayah Deni sambil berdecak.

Randi lalu berpamitan pada sang Ayah, dia akan pergi menemui Asistennya dan anak buah nya di Restoran tempat biasa.

Dia melajukan mobil nya dengan tak sabaran, bahkan hanya beberapa saat saja dia sudah sampai di Restoran.

Randi sengaja memesan ruangan tertutup agar tidak ada yang mengganggu nya, dia masuk saja ke ruangan yang di tunjukan oleh pelayan.

Ceklek.

"Tuan" sapa Ferdi dan yang lainnya.

Randi hanya diam, dia duduk di hadapan mereka semua dengan sorot mata yang tajam.

"Apa benar kalian tahu dimana sebenarnya Delima dan Raka? Namun kalian berbohong karena di ancam oleh Vini?" tanya Randi to the point.

Ferdi dan anak buah nya hanya saling memandang satu sama lainnya. Mereka sebenarnya ingin berkata jujur namun takut oleh ancaman Vini.

Brak.

"Jawab" bentak Randi.

"I iya, Tuan" jawab salah satu dari mereka.

"Bu Vini mengancam kami dengan melukai keluarga kami, bahkan dia sempat menculik adik saya ketika saya akan berkata jujur pada anda, Tuan" timpal Ferdi.

Deg.

"Apa kalian tidak berbohong?" tanya Randi kembali dengan jantung berdetak kencang.

Semuanya menjawab dengan gelengan kepala, bahkan ada dari mereka yang menunjukan pesan singkat dari Vini.

Randi mengepalkan tangannya dengan penuh amarah, dia sudah di tipu oleh Vini selama 1 tahun ini. Dia bahkan sudah hampir putus asa karena merindukan Putra nya, Raka.

-FlashNow.

Randi melangkah dengan pasti saat sudah tiba di halaman Rumah nya. Dia langsung masuk begitu pintu di buka oleh pelayan yang bekerja disana.

"Dimana Ibu, Bi?" tanya Randi.

"Ibu ada di kamar, Tuan. Dia sedang tidak enak badan sejak tadi pulang bersama anda" jawab pelayan.

Randi mengangguk dan langsung berlalu ke kamar mereka yang ada di lantai 2.

Ceklek.

Pintu terbuka dan menampilkan Vini yang sedang terlelap dengan wajah pucat nya. Sejenak Randi melupakan amarah nya melihat wajah sang Istri yang pucat.

Dia melangkah dengan cepat, lalu duduk di samping Vini yang terlelap.

"Sayang" ucap Randi lembut sambil mengusap pipi Vini.

"Eummm" lenguh Vini dengan membuka mata nya

Namun Vini kembali memejamkan mata nya karena merasa pusing, dia lalu mencoba membuka nya lagi dengan di paksa.

"Mas, kepala aku pusing sekali" lirih Vini dengan tangan memijit pelipis mata nya

Randi langsung membantu Vini untuk duduk, dia menatap nya dengan penuh khawatir.

"Kita panggil Dokter ya" usul Randi.

"Hmm" balas Vini sambil menganggukan kepala nya.

Vini lalu memeluk Randi dan menyenderkan kepala nya di pundak sang Suami dengan mata terpejam.

"Sabar dulu ya, sebentar lagi Dokter nya akan datang" ucap Randi lembut.

Vini hanya mengangguk, dia sudah tidak kuat untuk menjawab karena kepala nya yang sangat pusing dan perut nya serasa di aduk-aduk.

"Nanti saja aku akan tanyakan pada Vini, sekarang dia sedang kesakitan" batin Randi.

Randi lalu memeluk Vini dengan hangat, dia mengecup beberapa kali puncak kepala sang Istri.

"Mas, aku mual sekali" lirih Vini sambil menahan muntah.

Dengan gerakan cepat Randi membawa tubuh Vini ke kamar mandi, dia lalu menurunkannya di depan wastafel. Dan setelah nya Vini muntah beberapa kali, dengan sabar Randi memijat tengkuk Vini.

"Hah, uekkk"

"Uekkk"

"Sudah muntah nya?" tanya Randi sambil membantu membersihkan bekas muntahan Vini dengan tisue.

Vini hanya mengangguk dengan lemah, dan dia juga seraya sangat pusing kembali mendera kepala nya.

Randi membawa Vini kembali ke ranjang, dia merebahkan tubuh sang Istri dengan hati-hati.

Tok

Tok.

"Masuk, Bi" teriak Randi.

Ceklek.

Bibi datang bersama dengan Dokter wanita yang sudah biasa memeriksa keluarga Randi.

"Biar saya langsung periksa saja, Tuan" ucap Dokter tersebut dengan ramah.

"Silahkan Dok" balas Randi.

Dokter tersebut memeriksa Vini dengan segera, dia cukup terkejut saat memeriksa denyut nadi sang pasien.

Hingga Dokter tersebut selesai memeriksa dan tersenyum pada Vini.

"Nyonya, kapan anda terakhir datang bulan?" tanya Dokter dengan tersenyum.

"Hah, ah saya lupa Dok" jawab Vini dengan terkejut.

"Maaf Tuan, sebaiknya Istri anda di bawa ke Rumah sakit saja, karena menurut saya dia sedang mengandung" jelas Dokter dengan tersenyum.

Hah.

Vini dan Randi menatap tak percaya pada sang Dokter, namun setelah nya Randi mengangguk dengan sangat antusias.

"Baiklah Dok" jawab Randi semangat.

"Mari Dokter" ucap Bibi dengan sopan.

Lalu Dokter berpamitan pada Randi dan Vini, setelah nya dia keluar dari kamar bersama dengan Bibi.

Randi mendekati Vini dan memeluk nya dengan erat, dia lalu mengecupi seluruh wajah Vini dengan sayang.

"Selamat sayang, sekarang kita akan menjadi calon Ayah dan Bunda" ucap Randi dengan sangat bahagia.

"Kau benar, Mas. Aku sangat bahagia karena selama ini sudah menantikan hal ini sejak kita menikah" balas Vini berbinar.

"Dengan begini aku akan menguasai harta mu dan Orangtua mu" batin Vini dengan merasa menang.

"Sekarang kau jangan bekerja yang berlebihan, bila perlu resign saja karena aku takut terjadi sesuatu pada kalian" tegas Randi.

"Aku terserah kamu saja, Mas" ucap Vini dengan memeluk Randi manja.

Randi tersenyum, dia lalu mengusap lembut perut rata sang Istri.

"Besok pagi kita akan ke Rumah sakit, karena sekarang sudah hampir larut" ucap Randi lembut.

"Iya Mas, sana bersihkan dulu tubuh mu dan kita tidur" titah Vini.

"Baik lah, kamu berbaring saja ya" balas Randi dengan patuh.

Randi mengusap lembut puncak kepala Vini, kemudian setelah nya dia pergi ke kamar mandi.

.

.

.

.

.

.

.

Terpopuler

Comments

Maria Magdalena Indarti

Maria Magdalena Indarti

betul tuh anak Rendi.???

2025-03-20

0

G** Bp

G** Bp

awalnya mau marah begitu tau istrinya hamil lgsung diam klakep

2024-05-23

0

guntur 1609

guntur 1609

mampus kau rendi pelihara ular

2024-02-18

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!