Beberapa jam berlalu, Delima dan Raka sudah terjaga sejak tadi karena Alfans membangunkannya. Saat ini mereka sudah tiba di Bandara-Jakarta, dan Asisten Ayah Deni sendiri yang menjemput mereka.
Alfans menggandeng tangan Ibu dan Anak tersebut, dia bahkan menggemgam nya dengan lembut.
"Nah itu Asisten Tuan Deni" ucap Alfans menatap seseorang yang menghampiri mereka.
"Selamat pagi, Nona, Tuan" sapa nya dengan sopan.
"Pagi, Pak. Ayo cepat kita berangkat ke Rumah sakit dimana Bunda di rawat" balas Delima dengan tak sabar.
Asisten Ayah Deni menganggukan kepala nya, lalu mereka langsung masuk pada mobil yang sudah siap sejak tadi.
Mereka pulang tanpa membawa sehelai pakaian, Delima yang sudah panik dan tidak ada waktu lagi untuk bersiap.
Mobil melaju meninggalkan halaman Bandara yang sangat luas, selama perjalanan itu pula Delima duduk dengan gelisah dan juga tak tenang.
Raka duduk di depan bersama dengan Asisten Opa nya, dan Delima duduk bersama dengan Alfans di belakang.
Alfans memeluk Delima dengan lembut, dia bukan mencari kesempatan namun Alfans sendiri sangat tersiksa melihat wanita yang di cintai nya tak tenang begini.
"Tenanglah, kamu akan membuat Ayah dan Raka cemas" bisik Alfans lembut.
"Tarik nafas perlahan dan hembuskan" bisik nya lagi sambil mengecup kepala Delima lembut.
Delima mengangguk, dia mencoba mengontrol diri nya dan mengikuti saran dari Alfans. Sedikit demi sedikit Delima akhir nya bisa tenang juga, dia ikut memeluk Alfans dengan sangat erat, dia seolah mencari pegangan agar dia kuat.
"Tenanglah, aku akan bersama kalian dan tidak akan meninggalkan kalian sama sekali" ucap Alfans dengan sorot mata yang teduh namun tajam.
"Terimakasih, aku hanya takut kondisi Bunda buruk dan Randi akan memaksa Raka ikut bersama nya. Hanya itu yang aku takutkan, Mas" balas Delima dengan lirih, namun Raka mendengar semua nya.
Raka menoleh ke belakang, lalu dia menatap manik Mama nya yang terpancar ketakutan.
"Ma, Mama tenang saja dan pergilah bersama dengan Papa. Aku akan menunggu di mobil bersama Asisten Opa, jika disana tidak ada Papa Randi maka aku akan kesana dan jika ada, aku akan menunggu nya sampai dia tidak ada" jelas Raka dengan lembut.
"Menurutlah Ma, aku sudah besar dan akan menjaga diriku, lagi pula aku akan bersama dengan Asisten Opa" ucap nya lagi dengan yakin.
Delima menatap Alfans seolah meminta pendapat, Alfans menganggukan kepala nya dengan tersenyum.
"Nona tenang saja, saya akan menjaga Tuan muda" timpal Asisten Ayah.
"Baiklah, nanti Mama akan telpon kamu jika tidak ada Papa. Bukan Mama tidak ingin kalian bertemu, namun Mama takut Papa kamu akan membawa kamu pergi" jelas Delima dengan helaan nafas kasar.
"Aku tau Ma, suatu saat aku juga akan menemui Papa, aku tidak membenci nya hanya saja aku belum bisa bertemu dengan nya karena dia sudah menyakiti kita dan menyianyiakan kepercayaan kita" balas Raka.
Delima mengangguk, dan mobil pun berhenti tepat di depan Rumah sakit x. Delima dan Alfans pun turun, mereka langsung menuju ruangan dimana Bunda Indri di rawat, sebelum turun Asisten Ayah sudah menyebutkan dimana letak ruangan tersebut.
Delima menggemgam tangan Alfans dengan erat, dia merasakan jantung nya berpacu dengan cepat saat ini.
Hingga tibalah mereka di lantai atas Rumah sakit, tempat yang hanya bisa orang-orang kaya tempati. Disana sudah terlihat bahwa ada Randi dan Vini sedang bersama dengan Ayah Deni.
Alfans memberitahu Raka lewat chat, dia pun lalu merangkul pundak Delima dengan posesif. Kedua nya melangkah dengan lebar pada posisi Ayah Deni.
"Ayah" panggil Delima dengan sendu.
Ayah Deni menengok, dia lalu bangkit dari duduk nya dengan mata yang berkaca-kaca.
Delima memeluk pria paruh baya yang sedang kalut ini, dia menangis di pelukan Delima dengan diam.
"Bunda mu, Delima" ucap nya dengan lirih.
"Aku yakin Ayah, Bunda wanita kuat. Dia akan sembuh dan berkumpul bersama dengan kita" balas Delima dengan tersenyum.
Delima menahan tangis nya, dia tidak ingin sang Ayah bersedih karena dia juga ikut menangis. Terlihat jelas gurat cemas, khawatir dan sedih di wajah tua Ayah Deni.
"Ayah sudah makan?" tanya Delima lembut.
Ayah Deni menggelengkan kepala nya, dia memang belum sarapan karena kondisi Istri nya yang ngedrop kembali subuh tadi.
"Ayo kita sarapan dulu, Bunda akan marah jika Ayah telat sarapan" ajak Delima kembali bangkit dari duduk nya.
"Kita sarapan disini saja ya, Ayah tidak mau meninggalkan Bunda" ucap Ayah Deni dengan memohon.
Hufh.
Delima membuang nafas kasar, dia menganggukan kepala nya dengan pasrah.
"Kalian tunggu saja disini, aku akan membelikan sarapan untuk kita. Kamu juga belum sarapan sejak tadi" ucap Alfans dengan cepat.
Delima mengangguk, dia lalu menatap Alfans dengan tersenyum.
Alfans membalas nya, dia lalu mengusap puncak kepala Delima lembut.
Ayah Deni sengaja tidak menanyakan Raka pada Delima, dia juga tahu bahwa Raka masih kecewa pada Papa nya, Randi.
Dan, sejak tadi Randi serta Vini hanya diam saja dengan mata bulat menatap Delima ada di hadapan mereka.
Randi menatap nya dengan wajah berbinar, namun sedetik kemudian dia di buat panas karena tingkah mesra Delima dan Alfans. Dia rindu akan Istri nya tersebut dan sekarang dia ada di hadapannya.
'Ralat mas'e, mantan istri kali ya 😂
Sedangkan Vini, kalian sudah pasti wajah nya yang sangat merah padam karena merasa cemburu. Bagaimana tidak? Ayah mertua dan Suami nya malah sibuk dengan kedatangan Delima, bahkan terlihat perlakuan lembut Alfans pada Delima, uhh kebakaran jenggot kayak nya hehe.
"Delima" panggil Randi dengan lirih.
Delima mengalihkan pandangannya, dia menatap Randi dengan wajah datar dan tatapan biasa saja.
Deg.
Jantung Randi berdegup kencang, dia sangat kaget melihat tatapan dan wajah Delima yang sangat berbeda. Dimana Delima yang selalu berwajah ceria, cantik dan tersenyum dengan sorot mata yang teduh.
"Mas" sentak Vini dengan kesal karena lagi dan lagi Randi menatap Delima penuh harap dan damba.
Eh.
"Ayo pulang, disini sudah ada Ayah dan Delima juga" ajak Vini dengan menghentakan kaki nya kesal.
Hah.
"Baiklah ayo aku akan antarkan kamu, aku akan menunggu Bunda disini" balas Randi dengan tegas.
Vini menatap nya tajam, dia lalu duduk kembali dan menyeret tangan Suami nya agar duduk bersama nya.
"Jangan keganjenan Mas, kalian sudah bercerai dan kita akan punya anak" tekan Vini.
"Iya iya" balas Randi malas, namun dia tetap saja mencuri pandang pada Delima yang sedang berbincang bersama dengan Ayah nya.
Tak lama kemudian Alfans datang dengan membawa bubur untuk Delima, Ayah Deni dan dirinya. Tak lupa juga dia sudah memberikannya untuk Raka yang sedang menunggu di mobil.
Mereka langsung saja sarapan tanpa menghiraukan keberadaan dua manusia yang sejak tadi menatap mereka.
"Mana bagianku?" tanya Vini dengan tak tau malu nya.
Alfans menatap nya dengan dingin, dia lalu menghentikan makannya.
"Di bawah ada dan pergilah membeli sendiri, masih punya kaki bukan?" jawan Alfans dengan sorot mata tajam nan dingin nya.
"Ck kalian pelit sekali" gerutu Vini dengan kesal.
Lalu dia bangkit dan mengajak Randi membeli makanan untuk mereka. Setelah nya mereka berdua pergi dari sana dengan Vini yang terus menggerutu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 86 Episodes
Comments
El ghiffari Azsyifal
urat malu nya dah putus
2024-11-08
0
Maria Magdalena Indarti
ga punya malu
2025-03-20
0
pipi gemoy
kalo gue jadi alfans
" hedeh siapa sih elu, aneh"
👎🤮
2024-05-31
0