Keanehan Masakan Alisha

Ketika sampai di depan rumahnya, Alisha yang biasanya selalu mengucapkan salam ketika membuka pintu rumahnya, kini ia tidak melakukan hal itu. Alisha langsung masuk ke dalam rumahnya. Ara yang melihat pun terdiam mematung.

Alisha terus berjalan dengan ekspresi wajah datar dan tanpa mempedulikan Ara yang masih terdiam mematung.

"Kok Alisha aneh banget ya?, kayak ada yang beda deh, apa cuma perasaan aku aja ya?, tapi?, akh ya udah lah" batin Ara menatap bingung Alisha yang tampak sangat berbeda.

Alisha membuka pintu kamarnya dan diikuti dengan Ara.

"Kamu istirahat aja ya, aku mau ke dapur, mau masak dulu untuk kita makan nanti" kata Alisha tersenyum tetapi dengan tatapan mata kosong.

"Aku bantuin ya" kata Ara yang langsung terbangun.

"Gak usah, kamu istirahat saja" kata Alisha yang langsung mendudukkan Ara di atas kasur.

"Oh oke" kata Ara tersenyum kecil.

Alisha pun langsung pergi meninggalkannya.

Alisha yang mengintip dari celah lubang pun melihat jika dirinya ada dua berusaha memanggil-manggil Ara namun Ara tidak mendengarnya.

"Dia itu siapa ya?, kok mukanya mirip banget sama gw?, apa jangan-jangan dia orang jahat lagi?, kalau dia orang jahat kasian Ara dong berduaan sama dia?, Ra, ini gw Ra, Ra gw di bawah Ra, Ra keluarin gw dari dalam sini Ra, Ra dia itu bukan gw Ra, gw gak tahu dia siapa, tapi yang pasti dia bukan gw Ra, Ra lu dengar suara gw kan Ra?, Ara, Ara please dengerin gw Ra, dia orang jahat Ra, jangan sampai lu percaya sama dia Ra, Ra dia bukan gw Ra, Ara" panggil Alisha dari dalam ruangan terpencil itu dengan suara keras.

"ARgh!, Ara gak bisa dengar sama sekali suara gw, ini ruangan apa sih sebenarnya?" tanya Alisha menghela nafas panjang dan berlinang air mata sembari sesekali menatap Ara dari celah lubang kecil itu.

"Jika ini ruang kedap suara, pasti suara aku juga akan terdengar dari celah lubang itu kan?, tapi kenapa Ara gak bisa dengar suara aku?, kenapa Ara gak bisa lihat aku di bawah sini?, padahal celah lubang ini juga gak kecil-kecil banget, masa Ara gak sadar sih kalau di bawah sini ada lubang?, akh kayaknya gak mungkin deh kalau Ara gak bisa lihat celah lubang ini, tapi kenapa dia diam saja?, seolah dia tidak bisa mendengar satu pun perkataan ku, ya Allah aku ingin keluar dari ruangan ini, bantu aku keluar dari dalam sini ya Allah, aku mohon, bantu aku" kata Ara menatap ke atas dan meneteskan air matanya.

Alisha yang tengah menatap ke atas dikejutkan dengan sebuah benda yang tertancap di celah lubang, Alisha yang sigap pun segera menghindar dari sana.

Alisha berusaha sekuat tenaga menarik benda yang tertancap itu.

"Linggis?, Ara buat apa linggis ini?" tanya Alisha kebingungan saat melihat benda yang tertancap itu merupakan linggis.

"Terima kasih ya Allah, walaupun aku gak tahu dari mana datangnya linggis ini hingga menancap di celah lubang itu, tapi semoga saja linggis ini bisa aku pergunakan untuk memperbesar celah lubang ini" kata Alisha tersenyum dan menghapus air matanya.

Alisha berusaha sekuat tenaga untuk memperbesar celah lubang itu menggunakan linggis yang anehnya Ara sama sekali tidak melihat linggis itu, padahal linggis itu depan di depannya, mata Ara seolah di tutupi oleh sesuatu hingga membuatnya tidak bisa melihat apapun yang ada di depannya.

Ketika Alisha berusaha memperbesar lubang, ia melihat ada seorang wanita cantik yang ditarik paksa oleh beberapa pria dengan dijambak. Wanita itu nampak sangat mengerikan, dengan darah yang mengalir dari beberapa bagian tubuhnya. Pria itu mencongkel kedua bola mata wanita itu dengan linggis kecil yang mirip dengan linggis yang tengah Alisha pegang saat ini. Alisha yang melihat kejadian itu pun seketika gemetar dan menatap linggis yang tengah ia pegang.

Pria itu melemparkan bola mata wanita itu ke dalam celah lubang yang di dalamnya berada Alisha yang tengah memperhatikan. Alisha pun segera menghindar agar bola mata wanita itu tidak jatuh mengenainya.

Alisha nampak sangat tertekan berada di dalam ruangan itu. Tubuhnya gemetar, wajahnya pucat ketakutan. Alisha merusak bagian bawah tepat mata itu terjatuh dengan linggis yang tadi ia pegang dan mengubur mata itu di dalam tanah agar ia tidak bisa melihatnya lagi. Alisha juga mengubur linggis yang ia pegang.

Alisha nampak frustasi dengan kejadian yang ia lihat dan situasi yang sedang ia rasakan saat ini. Alisha menghela nafasnya dan beristighfar.

"HUFT! astagfirullahaladzim, enggak, kamu gak boleh lemah, kamu gak boleh menyerah, ingat, yang bisa menolong mu di situasi sulit ya hanya diri kamu sendiri, bukan orang lain, sedekat apapun kita dengan orang lain, tetap kita yang harus berjuang sendiri untuk keluar mencari kebahagiaan, aku harus terus cari cara untuk bisa keluar dari dalam sini dan menyelamatkan nyawa Ara" kata Alisha menghela nafasnya.

Alisha dengan tekad yang kuat akhirnya menggali lagi tanah dan mengeluarkan linggis yang tadi ia kubur dan terus berusaha memperbesar celah lubang itu menggunakan linggis.

Entah apa yang sedang Ara pikirkan, yang membuatnya nampak diam mematung dengan tatapan mata kosong.

Ara bangkit dari tempat tidurnya dan pergi ke dapur untuk mengambil segelas air untuk sedikit menenangkan pikirannya.

Sesampainya di dapur Ara bersembunyi di balik tembok untuk memperhatikan Alisha yang tengah memasak.

Ara nampak sangat terkejut karena bahan-bahan yang Alisha masak sebenarnya tidak layak di makan oleh manusia pada umumnya.

Alisha memasukkan cacing beserta tanah-tanahnya sekaligus ke dalam wajan dan menumisnya. Bau yang keluar dari masakan Alisha bukanlah bau lezat, melainkan bau amis darah.

"Hm, kok bau banget amis darah sih?, eh itu kok merah-merah apaan ya?, darah?, Alisha masak cacing beserta tanah dan darah?, what?, ikh!, jijik banget sumpah, masa gw harus makan itu sih nanti?, ikh ogah banget!, gw alasan keluar aja kali ya?, biar gak makan makanan yang Alisha masak, ya udah deh" kata Ara pelan.

Ara pun masuk ke dalam dapur untuk mengambil minuman.

"Hai Al" panggil Ara tersenyum.

"Oh hai" kata Alisha tersenyum.

"Masak apa Al?" tanya Ara menengok ke atas wajan sembari memegang gelas berisi air.

"Sosis sama kornet dicabein Ra" kata Alisha tersenyum.

Ara pun mengintip ke wajan itu dan benar saja itu adalah sosis dan kornet dicabein namun saat Ara mengintip di luar dapur tadi, Alisha memasukkan cacing beserta tanahnya dan Alisha juga memasukkan darah.

Dari kejauhan sangat jelas bau amis darah, namun saat ia mendekatinya, sangat jelas tercium aroma bau lezat makanan pada umumnya.

"Kok aneh ya?, apa cuma perasaan aku aja?, akh ya udah deh" batin Ara.

Ara pun mengurungkan niatnya untuk pergi makan diluar dan makan bersama dengan Alisha.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!