Setelah menghabiskan es teh manis, Alisha mengajak Ara ke rumahnya.
"Ini rumah ku" kata Alisha tersenyum pada Ara dan menatap rumahnya.
"What?" tanya Ara terkejut.
Ara terkejut karena rumah itu adalah rumah yang pernah ia tempati dulu.
"Kamu kenapa?" tanya Alisha.
"Kamu beneran tinggal di rumah ini?" tanya Ara.
"Iya, kenapa emangnya?" tanya Alisha.
"Ikut aku" ucap Ara menarik tangan Alisha.
"Duduk deh, aku mau kasih tahu kamu satu hal tentang rumah yang kamu tempati itu" ucap Ara.
"Ada apa sih?" tanya Alisha duduk disamping Ara.
"Sebelum kamu tinggal di rumah itu, aku pernah tinggal di rumah itu juga" kata Ara.
"Hah?, seriusan?" tanya Alisha terkejut.
"Iya, kata tetangga lain sekitar rumah itu, hanya aku yang berhasil keluar selamat dari rumah kutukan itu" kata Ara.
"Oh, berarti kamu gadis indigo yang diceritakan sama ibu-ibu tukang nasi uduk depan jalan itu?" tanya Alisha menunjuk ke satu arah.
"Iya, dan aku mohon, secepatnya kamu pindah dari rumah itu, karena rumah itu dipenuhi oleh dendam penghuni terdahulu yang tewas di rumah itu, sudah banyak nyawa melayang karena dendam arwah penghuni pertama di rumah itu, dendam kesumat seorang noni Belanda yang dilecehkan, disiksa hingga tewas, aku mohon kamu secepatnya meninggalkan rumah itu, aku gak mau kamu kenapa-kenapa karena terlalu lama berada di dalam rumah itu, lebih baik kamu pulang ke rumah kamu aja, jangan tinggal di rumah itu, maaf sebelumnya, apa kamu masih ada orangtua?" tanya Ara.
Mendengar pertanyaan Ara membuat Alisha termenung dan menghela nafas panjang.
"Aku masih memiliki orangtua, namun aku kehilangan perannya, ayah ku selingkuh dengan wanita lain, ibu ku juga melakukan hal yang sama, ibu ku juga selingkuh dengan pria lain, aku selalu dikekang oleh mereka, tidak boleh melakukan apapun yang aku suka, aku hanya berjalan diatas kemauan mereka, aku selalu mengubur keinginan ku, tidak ada satu keinginan ku yang direstui oleh mereka, aku selalu melawan restu untuk mendapatkan kebahagiaan yang selalu aku impikan, mereka selalu bertengkar di depan mataku, yang membuatku akhirnya tidak betah tinggal di rumah bersama dengan mereka, secara status, orangtua ku memang masih berada di dalam satu atap yang sama dan tinggal bersamaku, namun pada kenyataannya, sudah tidak ada lagi yang dapat dipertahankan, semuanya sudah hancur berkeping-keping, mereka hanya terikat status pernikahan dan bukan janji setia serta cinta, sudah tidak ada lagi cinta di dalamnya, mereka hanya mempertahankan status pernikahannya semata, tidak menepati janjinya masing-masing untuk selalu setia dan tidak membagi hati pada orang lain, sudah tidak ada lagi cinta di dalam rumah itu, yang akhirnya memutuskan aku untuk pindah ke Jakarta, agar aku bisa jauh dari mereka, agar mental ku tidak semakin hancur oleh perbuatan yang tanpa mereka sadari, itu membunuh jiwa serta hatiku, yang hidup hanya ragaku semata, bukan jiwa serta hatiku, jiwa dan hatiku sudah lama mati oleh perbuatan orangtua ku sendiri, jika aku pindah dari rumah itu dan kembali tinggal bersama dengan orangtua ku, bisa saja ragaku yang akan mati terbunuh, lihatlah, sudah banyak luka sayatan di tubuh ku, karena perbuatan ku sendiri, aku tidak pernah bisa mengatasi rasa sakit ku sendiri, tetapi aku selalu dipaksa untuk sendiri, ditusuk secara terus-menerus oleh perbuatan orangtua ku sendiri, aku lelah dengan semuanya, aku tidak peduli apapun yang akan terjadi padaku jika aku tinggal di rumah itu, karena itu sama saja, tidak ada bedanya bagiku, karena aku hanya bernafas, bukan bernyawa, karena bagiku, nyawa adalah ketika jiwa kita ada di dalamnya dan tidak terluka, sedangkan aku telah lama kehilangannya, jika nantinya aku yang akan menjadi korban berikutnya yang tewas di dalam rumah itu, aku sangat bahagia, karena sudah lama aku menginginkan hal itu" kata Alisha tersenyum tetapi air matanya mengalir deras.
Ara yang mendengar perkataan Alisha sontak meneteskan air matanya. Ara pun memeluk Alisha untuk menenangkannya.
Rupanya disana juga ada Anna yang sedang menyaksikan semuanya, Anna hantu noni Belanda yang sudah merenggut banyak nyawa manusia tidak bersalah hanya karena perbuatan pria kejam itu kepadanya. Anna yang mendengar dan mengerti bahasa Indonesia pun nampak sedih, itu terpancar jelas dari raut wajahnya. Anna pun perlahan menghilang dari sana.
"Ya udah aku tinggal sama kamu aja ya, aku temenin kamu, biar kamu gak sendirian di rumah kamu, biar kamu ada teman ngobrol, kebetulan juga aku tinggal di apartemen, gak ada tempat tinggal setelah aku pergi dari rumah itu, uangku hanya cukup untuk sewa apartemen, tidak cukup untuk beli rumah lagi" ucap Ara.
"Thanks ya, kamu udah mau mendengarkan keluh kesah ku, selama ini, aku selalu bungkam, memendam semuanya, karena bagiku, duniaku terlalu jahat padaku, bukan hanya dihancurkan oleh orangtua ku semata, aku juga dihancurkan oleh teman-teman ku, setiap aku cerita m, respon mereka selalu negatif, yang bikin aku akhirnya memendam semua luka ku sendiri" kata Alisha meneteskan air matanya.
Ara pun menghapus air mata Alisha dan membangunkan Alisha mengajaknya pulang ke rumahnya.
Ara pun akhirnya kembali ke dalam rumah yang dulu pernah ia tempati untuk menemani Alisha yang nampak kehilangan jati dirinya sendiri karena luka mendalam yang selalu ia pendam.
"Assalamualaikum" ucap Alisha memasuki rumahnya.
"Wa'alaikumsalam" jawab Ara sembari tersenyum.
Alisha pun tersenyum menatap Ara dan mereka pun memasuki rumah itu serta mengunci pintunya.
"Kamu udah makan?" tanya Alisha pada Ara.
"Udah kok" ucap Ara tersenyum.
"Alisha tidur di kamar mana ya?, kamar utama?, itu kan kamar hantu noni Belanda itu" batin Alisha.
"Kamu kenapa?" tanya Alisha.
"Gak apa-apa kok" ucap Ara tersenyum.
"Ayok aku antar ke kamar kamu" kata Alisha tersenyum.
"Hm, aku boleh gak kalau satu kamar aja sama kamu?" tanya Ara.
"Boleh kok, ya udah ayok ke kamar aku" ucap Alisha tersenyum.
"Iya" ucap Ara tersenyum kecil.
Alisha pun mengantarkan Ara ke dalam kamarnya.
Alisha langsung tiduran di kasurnya dan Ara pun duduk di atas kasurnya sembari menatap sekelilingnya.
"Benar dugaan ku, jika Alisha tidur di kamar noni Belanda itu, jika aku meninggalkannya sendirian, kasian dia, bisa-bisa nanti ia yang menjadi korban selanjutnya noni Belanda itu, aku harus menjaganya, dengan aku tinggal di rumahnya dan tidur bersama di dalam kamarnya, setidaknya noni Belanda itu akan mengerjai kita, dan bukan mengerjai Alisha sendiri" batin Ara.
"Tiduran aja, emang kamu gak pegel tadi habis lari-lari?" tanya Alisha tersenyum.
"Iii-iyya" ucap Ara yang langsung tiduran di samping Alisha.
Nampak kekhawatiran berlebih di wajah Ara, namun Alisha tidak menyadarinya, karena ia sudah tertidur pulas. Ara yang menyadari jika Alisha tertidur pun menatapnya dan menatap sekelilingnya.
"Kamu orang yang baik Alisha, aku berjanji aku akan selalu menjagamu, selama kamu tinggal di dalam rumah ini" kata Ara tersenyum dan menutup matanya tertidur.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 36 Episodes
Comments
Minartie
aduhhh ceritanya bikin merinding ...suka banget
2025-01-28
1
Your Mine❤️
banyak wanita yg raganya hidup tapi jiwanya telah lama mati🙂
2023-03-29
1
Kacan
ih serem bener🙈
yoo pindah aja, ih serem tauk digigit demit
2023-03-10
1