Alisha keluar dari kamar mandi dan melihat Ara yang duduk termenung.
"Ara" panggil Alisha menepuk pundak Ara.
"Eh Alisha ngagetin aja deh lu!"
"Ada apa? kok muka lu kayak sedih begitu sih? ada masalah?"
"Hm, enggak ada kok Al, aku cuma kangen aja sama orangtua ku, gara-gara lihat bingkai foto keluarga mu itu" kata Ara yang langsung menundukkan pandangannya.
"Sabar ya Al, doakan orangtua mu dari sini, aku yakin kok, jika kamu terus mendoakan mereka dari sini, disana pasti mereka akan merasakan kebahagiaan dan pastinya merasa beruntung karena memiliki anak sebaik kamu yang selalu ingat dan mendoakan mereka diatas sana"
"Tapi aku masih belum bisa mewujudkan keinginan orangtua ku Al"
"Memangnya apa yang orangtua mu inginkan?"
"Mereka ingin aku menjadi seorang dokter, agar aku bisa membantu banyak orang sakit, merawat mereka hingga sembuh dan jujur aja, aku juga pengen jadi dokter Al tapi gak mungkin"
"Kenapa gak mungkin Ra?"
"Karena aku gak ada biayanya Al, uang peninggalan orangtua ku juga tidak cukup hingga aku lulus sekolah kedokteran Al"
"Oh gitu" kata Alisha menatap Ara dengan ekspresi wajah sedih.
"Apa kamu tahu Ra? aku juga sebenarnya ingin menjadi seorang dokter setelah seseorang yang mengerti perasaan ku tiada, tapi bagaimana bisa?"
"Mengapa?"
"Ya karena orangtua ku terlalu sibuk dengan dunia mereka masing-masing, mereka tidak pernah memperdulikan ku, bahkan saat aku ingin meninggalkan rumah ini saja, mereka tidak menahan ku sama sekali, sebenarnya aku juga tidak mau kembali ke rumah ini Ra, aku mau kembali ke rumah ini hanya karena permintaan dari kamu, tidak ada sedikitpun keinginan di hatiku untuk kembali lagi ke dalam rumah ini, karena aku tahu, semuanya pasti tidak akan ada yang berubah, perselingkuhan mereka tidak akan pernah bisa berakhir, luka dibalas dengan luka, lantas bagaimana dengan luka yang mereka goreskan ke dalam hatiku? mereka hanya memikirkan dunianya masing-masing saja, mereka lupa, jika mereka telah memiliki seorang anak yaitu aku, satu berselingkuh semua berselingkuh, apakah perselingkuhan harus dibalas dengan perselingkuhan juga? ku rasa tidak! tapi aku tidak mengerti tentang pola pikir mereka yang membalas perselingkuhan dengan perselingkuhan, membalas amarah dengan amarah, seharusnya api dibalas dengan air dan bukan dengan udara, api bertemu dengan udara akan semakin memperbesar kobaran api itu, sama seperti amarah, jika amarah dibalas dengan amarah yang ada hanya kerusakan hubungan yang telah lama dijalin, mereka lebih dewasa dariku, tetapi mengapa mereka seolah tidak mengerti akan konsep yang begitu sepele seperti itu? ketika aku berbicara mereka selalu memarahi ku, mereka selalu mengatakan jika anak tidak boleh ikut campur dalam masalah orangtua, tetapi orangtua dengan bebasnya ikut campur dalam masalah anak, mengapa? masalah orangtua juga akan berdampak pada psikis anaknya, lantas mengapa selalu anak yang selalu disalahkan? mengapa orangtua tidak bisa introspeksi diri mereka sendiri sebelum menyalahkan anaknya? anak selalu mengikuti permintaan orangtua bahkan hingga mengubur mimpinya dalam-dalam hanya untuk mewujudkan mimpi orangtuanya, tetapi orangtua tidak pernah menyadari jika semua perbuatannya itu salah, apa anak dilahirkan hanya untuk menjadi robot pemuas hasrat orangtua saja? yang harus selalu berjalan di atas keinginan orangtua, tidak di izinkan untuk berjalan diatas kakinya sendiri, orangtua selalu mengatakan "jangan bergantung terus sama orangtua" lantas bagaimana cara anak bisa melangkah maju jika orangtuanya sendiri lah yang selalu menjadi penghalang jalan keluar bagi anaknya?, aku tidak mengerti konsep semua ini Ra, anak mengeluarkan pendapatnya di cap sebagai anak durhaka yang tidak patuh kepada orangtuanya, lantas bagaimana dengan orangtua yang selalu bersikap semena-mena kepada anaknya? anak lebih dekat dengan orang lain dibilang lebih percaya orang lain daripada keluarganya sendiri, tetapi giliran anak curhat sama keluarganya selalu dikatakan "halah masa gitu aja lemah sih! masa gitu aja gak bisa sih! lebay banget deh jadi orang!" bagaimana bisa anak lebih dekat dengan keluarganya sendiri jika keluarganya sendiri selalu membanding-bandingkan anaknya dengan anak orang lain, semua bunga indah dan mekar pada waktunya, tidak bisa menyamakan proses tumbuh satu orang dengan orang lain, karena semua sudah tertakar dan tidak akan pernah tertukar, masa depan tidak seburuk itu, asal kita tidak pernah membandingkan proses tumbuh kita dengan proses tumbuh orang lain, yang terlihat indah belum tentu membahagiakan, sama seperti mawar, terlihat indah namun berduri dan jika duri itu tidak sengaja tersentuh oleh tangan akan mengakibatkan rasa sakit bahkan bisa mengeluarkan darah dari tangan kita" kata Alisha meneteskan air matanya.
"Aku mengerti perasaan kamu Al, semua orang punya hati tapi tidak semua hati berfungsi dengan baik, walaupun kita sudah sangat hati-hati dalam menjaga hati orang lain, orang lain bisa dengan mudahnya menyakiti hati kita, seribu kebaikan kita akan luntur oleh ego mereka yang mengatakan jika kita bersalah, semua orang memiliki ego yang berbeda-beda, ada yang bisa memahami perasaan orang lain, dan ada yang tidak, orang lain memang berhak untuk berpendapat tapi terkadang pendapat kita ditentang olehnya, orang lain tidak pernah menyadari jika pendapatnya itu melukai hati orang lain, misalnya berpendapat tentang fisik, kita mati-matian bangkit dari rasa insecure tapi dengan mudahnya dia meruntuhkan usaha kita hanya dengan satu ucapan kecil yang terlontarkan dari bibirnya itu, banyak orang selalu membawa kata "bercanda, gitu aja baperan" sehabis mereka menghina fisik orang lain, dimata mereka mungkin itu hanya bercanda tetapi tidak bagi orang yang ia ajak bercanda itu, tanpa mereka ungkapkan pun, diri kita sendiri sudah mengerti dimana letak kekurangan dalam diri kita, tidak perlu diperjelas dimana letak kekurangannya karena itu hanya akan melukai hatinya, tapi sayangnya tidak semua memahami konsep sederhana itu" kata Ara meneteskan air matanya.
"Apa kamu pernah berada di posisi itu Ra?"
"Iya Al, pernah ada seseorang yang menghina fisik ku habis itu dia bawa kata bercanda, dia terlalu prik karena hanya menemukan konsep bercanda dengan menghina fisik orang lain, banyak cara untuk mengajak seseorang bercanda, tapi tidak dengan melakukan hal seperti itu, bercanda yang menyakitkan itu bukan bercanda namanya!, bercanda seharusnya membahagiakan orang lain, membuat orang lain tertawa, tidak membuat orang lain kesal atau terluka, ya mungkin bibirnya bisa tertawa tetapi tidak dengan hatinya, itu hanya akan membuat dirinya semakin kehilangan rasa kepercayaan dirinya sendiri, mengapa sedikit orang yang memahami konsep bercanda yang baik dan tidak menyakiti hati orang lain?" tanya Ara menatap Alisha meneteskan air matanya.
"Entahlah Ra, aku juga tidak mengerti mengapa setajam itu lidah" kata Alisha menatap Ara meneteskan air matanya.
Alisha dan Ara pun menangis dan saling berpelukan satu sama lain.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 36 Episodes
Comments