"Bangun Bos," Haidar membuka tirai jendela kamar Ansel.
Seperti biasa rutinitas Haidar setiap hari adalah membangunkan Ansel dan memberi warna alias merecoki kehidupan Ansel yang monoton dan tenang.
Ansel merasa kesal tidurnya selalu terganggu oleh sahabat nya sekaligus wakil direktur di The King Entertainment. Setiap hari Haidar selalu menempel padanya padahal Ansel tidak sekalipun bersikap manis pada Haidar.
"Kenapa pagi-pagi begini sudah menggangu hidupku. Bisakah sehari ini saja aku hidup dengan tenang tanpa kehadiranmu," Ansel menutup wajahnya dengan bantal dan melanjutkan tidurnya.
Haidar menarik bantal yang menutupi wajah Ansel "Ini sudah jam makan siang Bos ... sudah bukan pagi lagi. Jangan berkata begitu, aku tidak bisa hidup tanpamu Bos. Kita kan seperti belahan jiwa yang tidak bisa terpisahkan." Haidar mengeluarkan jurus merajuk andalannya pada Ansel.
"Ada apalagi sekarang Jarvis ?" Ansel terduduk mendengar ucapan terakhir yang terlontar dari bibir Haidar. Dirinya bergidik ngeri bercampur jijik langsung menatap Jarvis dengan penuh curiga karena di setiap perlakuan Haidar pasti ada maksud terselubung yang dapat membuatnya berada dalam masalah. Anehnya itu hanya ditujukan Haidar pada Ansel.
Haidar Jarvis adalah wakil direktur The king Entertainment. Mereka sudah bersahabat bahkan saat mereka masih dalam kandungan. Bisa dikatakan begitu karena dulu mendiang ibu Ansel juga bersahabat dengan ibu Haidar.
Umur mereka yang terpaut beberapa hari membuat Ansel merasa Haidar sudah seperti adik laki-laki yang merepotkan bagi dirinya. Ansel selalu menyelesaikan masalah yang ditimbulkan oleh Haidar. Ansel selalu marah dan mengeluh dengan sikap sembrono Haidar tapi dalam hati Ansel, dirinya tidak pernah ada kebencian pada Haidar sekecil apapun.
Haidar juga menganggap Ansel seperti kakak kandungnya karena Ansel selalu melindungi Haidar. Meski Haidar merupakan anak pertama yang penuh tanggung jawab di keluarganya namun berkat Ansel, Haidar bisa berlaku seenaknya dan manja seperti adik kecil saat bersama Ansel
Haidar biasa dipanggil Jarvis oleh Ansel. Itu izin sepesial yang hanya diberikan Haidar pada BOSnya. Hanya boleh diucapkan oleh Ansel seorang. Juga tidak ada yang berani memanggil Haidar dengan Jarvis kecuali Ansel.
Haidar jarang marah tapi bila ada orang yang membuatnya marah Haidar akan langsung membuat kehidupan orang itu seperti di neraka bahkan tidak akan ada waktu untuk tersenyum lagi saking menderitanya.
"BOS nenekmu terus meneror ku. BOS yang punya nenek tapi aku yang diteror. Bukankah pesonaku sangat luar biasa sampai dikejar-kejar nenek-nenek," ujar Haidar.
Haidar masih mengajak Ansel bercanda tidak memperdulikan tatapan dingin Ansel. Bila seorang manusia bisa mati oleh tatapan mungkin Ansel sudah menjadi pembunuh berantai karena tatapannya.
"Kenapa nenekku ?" Ansel malas bertanya karena Ansel sudah tahu hanya satu hal yang terus diributkan oleh nenek Elizabeth. Nenek Liza pasti menyuruhnya untuk segera menikah.
Entah apa alasan nenek Liza ingin segera menikahkan Ansel padahal nenek sudah memiliki buyut tapi tetap saja terus mengganggunya.
"Setelah mendengar adikku Kyra akan menyelenggarakan bertunangan secepatnya dan kemudian menikah nenek ingin BOS juga secepatnya menikah," Jelas Haidar.
"Lalu apa yang jadi masalahnya ? kenapa tidak kamu dulu yang menikah bukankah kamu kakaknya Kyra. Tidak ada hubungannya denganku". Ansel beranjak ke kamar mandi.
"Aku memang kakak Kyra tapi BOS yang cucuk nenek Liza bukan aku." teriak Haidar dari balik pintu kamar mandi.
"Kamu juga sudah dianggap seperti cucu sendiri oleh nenekku jadi dirimu saja yang menikah duluan. Bukankah itu hal yang mudah bagimu," ujar Ansel.
"Itu memang mudah bagiku, tapi umur BOS lebih tua seminggu dariku. Nenek menginginkan BOS untuk menikah lebih dulu. Bila tidak menikah dalam bulan ini. Nenek mengancam akan menarik semua investasi nya di The King Entertainment," Haidar masih berdiri dipintu kamar mandi Ansel dengan setia menunggu Ansel sampai selesai mandi.
"Lalu kamu sudah melakukan trik kecil apa untuk menjebak ku mengikuti perintah Nenek ?" tanya Ansel langsung ke inti percakapan. Ansel sudah hapal dengan perilaku Haidar. Haidar selalu bertindak lebih dulu lalu meminta Izin setelahnya.
"Hahahaha kamu memang yang paling memahami ku BOS," ujar Haidar tertawa bangga karena maksudnya sudah diketahui oleh Ansel.
Ansel keluar dari kamar mandi dengan jubah mandinya Haidar masih mengikuti Ansel kemanapun dia pergi.
"Aku sudah mendaftarkan BOS ke biro jodoh love Shot dan sudah mengatur jadwal kencan pertama BOS," Haidar menggaruk-garuk kepalanya, Haidar sudah siap dimarahi habis-habisan asalkan Ansel menuruti permintaannya.
"Haruskah aku membayar untuk jasamu ini ?" Ansel masih ketus menjawab Haidar sambil memakai bajunya.
Haidar sudah terbiasa dengan sikap tidak ramah sahabatnya.
"Tidak perlu BOS untuk apa seorang direktur membayar untuk biro jodoh yang dimilikinya."
"Apa tidak memalukan bila direkturnya ikut biro jodoh juga," ujar Ansel selesai berpakaian turun menuju ruang makan. Haidar masih membuntuti.
Haidar merasa aneh dengan sikap Ansel, tapi dirinya merasa bersyukur karena Ansel tidak meneriaki dirinya. Kuping nya selamat untuk hari ini.
"Tentu saja tidak. Bukankah ini sangat menguntungkan netizen akan lebih tertarik kalau BOS juga mendapatkan jodoh dari love shot," ujar Haidar berusaha menyakinkan Ansel.
"Apa clien love shot berkurang ?" Ansel menyantap sarapan yang seharusnya merupakan makan siang.
"Tidak setiap hari hampir 50 orang yang mendaftar. Ayolah BOS setuju, aku bisa digantung nenek bila tidak berhasil untuk membujukmu," pinta Haidar
"Jika digantung kemudian mati tinggal dikubur saja kenapa aku harus menuruti permintaanmu," ujar Ansel.
"Ahh BOS jangan terlalu kejam padaku," rayu haidar memijat-mijat pundak Ansel.
"Ya baiklah. Ini bukan karena aku menuruti permintaanmu. Aku lakukan karena tidak mau dihantui arwah penasaran jika kamu benar mati digantung nenek. Aku ingin wanita yang sederhana, jangan terlalu cantik, bukan dari golongan artis, bukan dari keluarga kaya terpenting dia tidak cerewet sepertimu," Jelas Ansel.
Haidar mengerutkan dahinya "BOS Nenek pasti tidak setuju kalau calon istrimu sembarangan begitu. Kenapa sekalian tidak pilih gembel saja," Haidar kesal dengan keinginan Ansel.
"Boleh ide itu lebih baik. Bukankah nenek bersikeras ingin aku menikah secepatnya. Aku akan menikahi siapapun asal wanita," ujar Ansel berbicara sembarangan karena kesal dengan neneknya.
"Bisa mati muda aku Bos kalau cucu dan nenek selalu tidak selaras seperti ini,"
Haidar pasrah dengan keputusan Ansel.
"Siapkan jadwal kencanku untuk besok. Aku ingin wanita yang akan berkencan besok sesuai keinginanku," perintah Ansel.
"Baik Bos jangan panggil aku Jarvis ( ahli menggunakan tombak ) bila tidak bisa melayani dengan romantis sampai Cinta menyentuh hati anda." Haidar menyeringai.
"Slogan Bodoh itu." Ansel tersenyum sedikit mendengar Haidar menyebutkan Slogan The King Entertainment.
TBC ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
martina melati
bukan cupid y...
2024-09-25
0