Haidar merangkul Liam dan Ansel membawanya berjalan keluar agak jauh dari tenda. Haidar sengaja menjauh dari para wanita. Haidar tidak ingin ada keributan.
Haidar menatap langit, mencari ketenangan sejenak untuk dirinya.
Meski di langit tak nampak sang rembulan namun cahaya kelap-kelip bintang bertaburan membuat langit nampak indah. pemandangan saat ini sangat mendukung untuk berkencan.
Namun apa yang terjadi bukan kencan yang Haidar dapatkan melainkan Haidar mendapat tatapan menyeramkan dari dua pria dewasa yang sedang berdiri di depannya.
Haidar menghela napas bersiap untuk memperkenalkan calon adik iparnya pada Bosnya.
"Bos, kenalkan ini calon adik iparku Liam," Haidar menarik tangan Liam, "Nah adik ipar, ini My Bos Ansel."
Ansel dan Liam masih sama-sama diam tidak merespon ucapan Haidar.
"Ayolah, liburan ini tidak akan asyik kalau kalian saling menyimpan dendam. Memang kalian punya masalah apa ?" tanya Haidar.
"Aku tidak punya masalah dengan calon adik iparmu," jawab Ansel.
"Aku juga tidak punya dendam pada Bosmu," jawab Liam.
Mulut mereka berkata tidak punya masalah dan tidak punya dendam. Namun suasana di sini sekarang sangat mencekam akibat Ansel yang mengeluarkan aura gelap.
"Tapi sepertinya bos punya dendam kepada Liam ?" tanya Haidar lagi.
"Ya aku membencinya. Dia itu laki-laki yang paling tidak tahu diri di dunia ini," ujar Ansel merasa kesal pada Liam.
"Apa katamu, coba ulangi!" pinta Liam sudah melangkahkan kaki maju ke arah Ansel.
Haidar sigap merentangkan tangan, menghadang Liam.
"Kamu itu laki-laki yang tidak tahu diri. Kamu sudah membuang Freya lalu sekarang kamu berencana memungut Freya kembali," jelas Ansel.
"Kamu kira Freya itu sampah, setelah aku buang lalu ku pungut. Dia itu kekasihku," ujar Liam.
"Kekasih ... jangan mengkhayal. Kalian sudah putus sekarang Freya milikku. Jangan mengusik Freya lagi." Ansel menegaskan status Liam dan status Ansel saat ini.
Haidar hanya menelaah, mencermati pembicaraan antara dua pria di depannya. Haidar belum paham kenapa mereka terus memyebut-nyebut nama Freya. Haidar membiarkan Ansel dan Liam beradu mulut asalkan tidak sampai berkelahi.
"Freya milikmu ? bukankah kamu yang berkhayal bahkan kalian belum punya status apapun. Aku tidak akan melepaskan Freya dengan mudah. Aku akan menyelamatkan Freya dari pria kasar sepertimu," Liam masih belum rela bila Freya harus bersama laki-laki seperti Ansel.
"Meskipun kamu bertegad tidak mau melepaskan Freya, semua sudah terlambat. Setelah liburan ini selesai aku akan menjadi suami Freya." Ansel tidak mau kalah dari Liam.
"Jangan membual. Mana mungkin Freya mau menikah denganmu. Aku akan mengajak Freya untuk memulai hubungan kami kembali dari awal lagi. Kita lihat apa Freya masih mau denganmu," ujar Liam dengan percaya diri. Liam yakin Freya pasti masih sangat mencintainya.
Ansel mengernyit, dirinya tidak percaya ada laki-laki narsistik seperti Liam di dunia ini. "Aku tidak akan membiarkan Freya kembali pada laki-laki sepertimu. Aku akan melindungi Freya aku tidak akan membiarkan mu mendapatkan Freya walaupun hanya dalam mimpi," ujar Ansel.
Seketika suasana menjadi hening. Liam tidak ingin terus adu mulut dengan Ansel. Bagi Liam itu hanya membuang waktu. Tidak mungkin Liam menang bila beradu mulut dengan pria arogan seperti Ansel. Liam melangkahkan kakinya beranjak pergi.
"Hey adik ipar kamu berhutang penjelasan padaku," ujar Haidar menahan pundak Liam.
Liam menghentikan langkahnya " Tidak ada yang perlu dijelaskan. Jangan panggil aku adik ipar karena aku belum menikah dengan Kyra."
"Oww Man," teriak Haidar, "Kamu dalam masalah. Kyra tidak mungkin dengan mudah melepaskanmu apalagi Kyra sudah sangat dekat dengan ibumu. Sepertinya ibumu gila harta— oooppppsss." Haidar menutup mulutnya.
Liam tersentak mendengar ucapan Haidar.
Ibu apa yang sebenarnya kamu rencanakan ? sepertinya bagi ibu aku seperti peliharaan yang akan dijual bila sudah dewasa.
Liam termenung memikirkan nasibnya yang miris. Haidar mengibas-ngibaskan telapak tangan di depan mata Liam.
"Woy mengapa melamun ? Apa ucapan ku menyakiti hatimu ? Sorry," ujar Haidar mengaruk kepalanya.
"Tidak ucapanmu benar. Ibuku memang gila harta sampai menjual ku pada Kyra," jelas Liam tertunduk lesu.
"Tunggu-tunggu adikku memang agak imut, tapi tidak mungkin dia membeli seorang pria," ujar Haidar merasa ucapan Liam sangat tidak mungkin.
"Imut ? amit-amit mungkin ya," celetuk Ansel.
"Hahahaha ... ya Bos benar, maksudku imut ke arah amit-amit," Haidar setuju dengan ucapan Ansel, "sepertinya kita harus mencari tempat nyaman untuk berbicara, tidak mungkin terus berdiri seperti ini. Bagaimana kalau sambil ngopi ?"
Haidar tidak menunggu jawaban dari Liam dan Ansel. Haidar langsung berjalan menuju warung kopi, Ansel dan Liam membuntuti Haidar dari belakang. Mereka duduk membentuk segita di tanah dialaskan karpet sambil menunggu kopi.
"Pria macam apa yang bisa dibeli perempuan ?" tanya Ansel merendahkan Liam.
"Pria macam aku tuan Ansel yang terhormat," jawab Liam mencibir tidak senang mendengar pertanyaan Ansel.
"Wow ... Wow ... Slowly. Kita harus menjadi pria-pria tampan dengan hati yang lapang," ujar Haidar tersenyum menunjukan karismanya.
"Hentikan senyum bodohmu Jarvis. Bisa tidak serius, ini menyangkut adikmu juga Freyaku," bentak Ansel memukul pelan bibir Haidar.
Haidar menarik bibirnya memeriksa keadaan bibir seksinya yang dipukul Ansel.
"Untung bibir sexksiku tidak terluka. Bos memang kadang-kadang tidak berperikemanusiaan," protes Haidar.
Ansel tidak merespon protes Haidar, protes haidar hanya masuk telinga kanan lalu langsung keluar lagi ke telinga kiri Ansel.
"Bagaimana ceritanya kamu bisa dibeli adikku ?" tanya Haidar mulai serius.
"Tanpa sepengetahuanku ibu mendaptarkanku ke love shot, semacam situs perjodohan online—" Liam menghentikan ceritanya.
"Kopinya bang." penjual kopi mengantar tiga cangkir kopi beserta sepiring gorengan dan sepiring kacang rebus.
"Pak saya mau kuaci, ada ?" tanya Ansel.
"Ada bang, tunggu sebentar saya ambil dulu." penjual kopi berlalu.
"Lanjut ceritanya tadi intermeso pak kopi," pinta Haidar menyeruput kopinya.
"Ya gitu," ujar Liam.
"Ini bang kuacinya. Ada lagi yang direquest lagi bang ?" tanya tukang kopi.
"Cukup, makasih ya pak," ujar Ansel.
"Ayo Liam lanjut ceritanya, baru prolog aja udah bikin aku tertarik," ujar Haidar.
"Prolog ?" tanya Liam bingung.
"Prolog itu pengantar dari suatu naskah yang dapat berupa dialog atau kilas balik dari suatu peristiwa yang terjadi dalam cerita. Pada dasarnya prolog sifatnya tidak wajib. Namun dengan adanya prolog yang baik akan membuat pembaca atau pendengar semakin tertarik dan penasaran dengan isi cerita suatu karya sastra," Jelas Ansel.
Liam terperangah mendengar penjelasan Ansel yang panjang tentang prolog.
Prok ... prok ...
"My Bos memang mantap jiwa," Haidar bertepuk tangan, "itu kan jadi intermeso lagi, ayo anak muda lanjutkan ceritamu kali ini kami akan diam," ujar Haidar.
Next \=>
🙏Terima Kasih sudah mampir baca.
🙏🙏 Jangan lupa like + Komentar + Vote
🙏🙏🙏 Dukungan reader sangat berpengaruh bagi Author untuk bisa terus semangat Up.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Triisnaa Rahayyu
lma bner bru ap. ampe lupa critanya
2020-04-24
0
Ilan Irliana
nunggu lama bgt y k..
2020-04-23
0
Mooboo
Lnjutt lgi thorr
2020-04-23
0