Ansel seperti tidak ada rasa ketidak nyamanan sedikitpum, merasa ini memang hal yang biasa. Berlalu dengan santai ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Itu sepenglihatan Freya. Nyatanya dada Ansel terus berdebar-debar membuat tubuhnya kepanasan. Ansel ingin segera mengguyur tubuhnya dengan air dingin berharap hawa panas segera pergi dari tubuhnya.
Freya menutup matanya berpura-pura tidur supaya mengurangi rasa canggung berada didekat Ansel, Freya berharap bisa benar-benar tidur tapi rasa kantuk seperti enggan menghampiri Freya. Bahkan sampai Ansel selesai membersihkan diri dan kembali ke kamarnya Freya masih belum mengantuk juga. Ansel melihat Freya yang sedang berpura-pura tidur.
Kamu kira bisa membodohiku Freya ... aku tahu kamu belum tidur ...
Ansel merasa lucu dengan sikap Freya yang kekanakan berpura-pura tidur, mata Freya memang tertutup tapi bola mata Freya terus bergerak kesana-kembari alhasil sudut bibir Ansel tertarik sedikit.
"Freya bangun ... bersihkan badanmu terlebih dahulu jangan dulu tidur, kamu juga harus berganti pakaian ... Apa aku harus membantumu mandi ?" tanya Ansel, maksud hati Ansel hanya menggoda Freya tidak benar-benar akan memandikan Freya namun Freya menanggapi candaan Ansel dengan serius, Freya langsung membuka mata lalu berlari menuju kamar mandi.
Sesampainya didalam kamar mandi, Freya terkagum-kagum dengan apa yang dilihatnya.
Ya ampun ... ini kamar mandi bahkan lebih besar daripada kamarku ... memang sultan bebas ... tapi asyik bisa berendam air hangat tanpa harus menekukan kaki karena tempatnya sempit disini bisa berendam sambil selonjoran ...
Saking bersemangat mandi Freya sampai lupa waktu berguguran saat dirinya berendam di air hangat, sudah hampir empat puluh lima menit Freya di kamar mandi sampai Ansel menyusul Freya.
knock ... knock ...
Ansel mengetuk pintu kamar mandi.
"Freya apa kamu baik-baik saja didalam ?"
Ansel khawatir pada Freya karena kekasihnya tak kunjung keluar dari kamar mandi.
Freya tersadar langsung menyelesaikan mandinya, meraih jubah mandi yang sudah tersedia dan memakainya. Ansel masih berdiri mematung di depan pintu menunggu Freya keluar dari kamar mandi.
Ansel melihat air masih bercucuran dari rambut Freya. Ansel menyadari Freya tergesa-gesa keluar kamar mandi takut dirinya menyusul ke dalam. Freya hanya mengelap rambutnya sebentar. Dengan sigap Ansel langsung melemparkan hansuk kecil lalu membantu Freya mengeringkan rambut.
"Aku bisa sendiri Ansel," ujar Freya menolak bantuan Ansel.
"Aku tidak suka dibantah," ujar Ansel tidak senang keinginannya terus ditolak Freya. Freya hanya bisa menunduk pasrah rambutnya dikeringkan Ansel.
"Sudah kering ... ayo tidur !" ujar Ansel berjalan menuju kasur. Freya berbaring di kursi dekat meja belajar.
Ansel memandangi Freya, Ansel mengerti Freya sedang berusaha menghindar darinya. Ansel tidak akan membiarkan Freya terus menjaga jarak dengan dirinya. "Kenapa tidur disana ... kesini !" ujar Ansel merentangkan tangan lalu menepuk-nepuk tangannya, mengisyaratkan supaya Freya tidur di lengan Ansel.
Freya memicingkan mata melihat tingkah Ansel yang aneh berhasil membuat Freya langsung merinding. Freya masih diam hanya menjawab dengan gelengan kepala.
"Baik kalau tidak mau tidur disini, aku akan tidur disopa bersamamu !" ancam Ansel bersiap untuk menghampiri Freya.
Freya mendengar ancaman Ansel langsung berlari merebahkan badannya didekat Ansel, menjadikan tangan Ansel sebagai bantalan kepalanya. Tidak mungkin mereka tidur disopa yang sempit, hal yang diinginkan bisa saja terjadi. Freya sebisa mungkin harus menghindari hal itu.
"Kamu takut padaku ?" tanya Ansel.
Freya hanya menjawab dengan menganggukkan kepala. Siapapun akan takut dengan sikap dingin dan tempramen Ansel yang mudah tersulut emosi.
"Itu bagus ... kamu sangat jujur. Satu hal yang harus kamu ingat, aku tidak suka seorang istri yang tidak bisa diatur dan pembangkang," jelas Ansel mengelus rambut Freya.
Glek ...
Freya menelan salivanya mendengar perkataan Ansel, memejamkan mata berharap rasa kantuk kali ini akan menghampirinya.
Tentu saja Aku takut padamu Ansel, kamu sangat tampan seperti malaikat tapi kelakuan mu seperti Iblis ... aku bisa lebih cepat bertemu malaikat maut kalau terus begini ...
Freya hanya bisa menjerit dalam hati tidak mungkin mencurahkan semuanya di depan Ansel bisa-bisa Freya benar-benar kehilangan nyawa dibunuh Ansel.
"Aku suka dirimu yang penurut juga tidak banyak bicara ... tidak seperti wanita kebanyakan tingkah mereka membuatku sakit kepala. Apalagi bibir mereka, terus bicara hal yang tidak penting sampai membuat telingaku sakit," jelas Ansel mengelus-elus rambut Freya lembut.
kalau ingin seorang istri yang penurut dan tidak banyak bicara kenapa tidak menikahi boneka saja ... Ansel kan banyak uang tinggal pesan ke Jepang ... Aku diam karena takut Kalau aku banyak bicara pasti bibirku akan dirobek oleh mu ...
Freya terus menanggapi omongan Ansel meski itu hanya dalam pikirannya saja.
"Freya katamu, kamu menyukaiku sejak pertama kali bertemu, aku penasaran apa yang membuatmu menyukaiku ?" tanya Ansel masih mengelus rambut Freya perlahan sesekali mendekatkan helayan rambut Freya ke hidungnya supaya Ansel dapat menghirup aroma sampo dari rambut Freya.
Freya bergidik ngeri mendengar Ansel percaya perkataan bohongnya. Itu bohong ... tidak ada sedikitpun yang aku suka darimu Ansel ... tidak ada ... dan tidak mungkin ada ...
"Freya jawab pertanyaan ku ?" tanya Ansel lagi.
Suara Ansel mengagetkan Freya.
"Tampan," jawab Freya refleks memejamkan matanya kembali.
"Hanya karena aku tampan ?" tanya Ansel masih penasaran dengan Freya.
"Aku tidak berdaya kalau melihat pria tampan," jawab Freya sambil meringis.
"Memang benar kesan pertama memang hanya melihat penampilan fisik, kepribadian akan terlihat dengan sendirinya seiring berjalannya waktu ... tidurlah Freya ... mulai besok aku akan mengantar jemput Freya ke tempat kerja," jelas Ansel.
Penggalan kata-kata terakhir yang keluar dari mulut Ansel membuat Freya tidak tenang.
"Mengantar jemput ke kantor, aku rasa tidak perlu aku bisa naik taxi dari sini dan juga Ansel pasti sibuk, aku tidak mau merepotkan," ujar Freya mencari alasan agar bisa meloloskan diri dari keinginan Ansel.
Freya berdoa dalam hatinya semoga kali ini Ansel mendengar perkataannya.
"Aku tidak sibuk, aku memang hanya iseng bekerja, agar tidak setiap hari harus bertemu nenek dan mendapat omelan darinya toh tanpa bekerja pun gaji akan selalu masuk tiap bulannya dan tidak akan habis meski ku bagi dengan mu. Jadi aku akan mengantar dan menjemput Freya mulai besok," jelas Ansel meyakinkan Freya.
Bekerja hanya iseng ... apa ini lottre ... iseng-iseng berhadiah ... terkadang hidup memang tidak adil ...
Freya tidak mampu berkata apapun lagi, Freya memejamkan mata kepalanya sudah pusing menanggapi semua omongan Ansel.
Freya terlelap Ansel mengecup kening Freya sebagai pengantar tidur.
Next \=>
🙏Terima Kasih sudah mampir baca.
🙏🙏 Jangan lupa like + Komentar + Vote
🙏🙏🙏 Dukungan reader sangat berpengaruh bagi Author untuk bisa terus semangat Up.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Triisnaa Rahayyu
sukakk.
2020-03-25
1
F. K.
jejak dulu thor, ane bantu like dulu yak.
kali kan mau saling bantu like karyaku yg parallel earth hehe.
2020-01-30
1
Yani Ya Yani
di tunggu kelanjutanx ya Thor,tp jgn lama2.... keburu penasaran nih...
2020-01-29
0