Jangan lupa vote and komen...
kringg
Suara bel berbunyi semua siswa bersorak gembira menyambut hal itu begitu juga dengan Vina yang sedang bersiap akan pergi ke kantin.
"Tya ayo kita pergi ke kantin, aku udah laper nih," ajak Vina, kepada Ariestya.
"Kamu aja aku bawa bekal," jawab Ariestya, dengan datar sambil membuka tas mengeluarkan bekal nya.
"Yahhh." Vina yang melihat itu merasa kecewa karena harus pergi sendiri, namun tiba-tiba saja diandara datang dan mengajak Vina untuk pergi ke kantin bersama.
"Vina kalau gitu kamu sama aku aja, jika Ariestya ga mau gimana?"
"Kenapa tidak," balasnya, Vina dan Diandra pun memutuskan pergi ke kantin.
Tinggalah Ariestya dengan Ardana berdua.
Suasana begitu sepi karena hanya ada mereka berdua. Ariestya yang membawa bekal pun memakannya tanpa menawari Ardana. Bagi Ariestya Ardana adalah orang asing yang tak dianggap keberadaannya. Sedangkan Ardana yang merasa di abaikan mencoba memecahkannya. Walaupun akan berakhir dengan sia-sia ."Kenapa tidak pergi bersama dengan Vina?" tanya Ardana membuka pembicaraan.
Ariestya yang mendengar hal itu sedetik mungkin menghentikan acara makannya, melirik sekilas Ardana lalu melanjutkan lagi acara makanya yang tentu baru saja ia makan.
"Kamu sendiri kenapa tidak pergi dan memilih diam disini?" Setelah makan yang di mulut Ariestya habis ia malah bertanya kembali tanpa menjawab pertanyaan Ardana.
Ardana yang mendengar hal itu merasa senang walaupun bukan jawaban yang ia dapatkan melainkan pertanyaan. Dia pun menjawab sesuai dengan apa yang ada di pikirannya.
"Aku tidak tahu kantinnya dimana aku kan baru di sini." Tak lupa senyum manis ia tunjukan.
Setelah Ardana menjawabnya suasana kembali sepi, tak ada obrolan lain. Selain suara murid yang sedang mengobrol di luar.
Ardana yang tak tau harus melakukan apa hanya diam dan menatap Ariestya di sebelahnya, bagaimana Ariestya makan dan melihat apa yang dimakannya itu begitu sederhana. hanya tempe goreng dengan sayur putih. Tapi itu terlihat sangat enak. Sedangkan Ariestya menyadari apa yang dilakukan Ardana pun menoleh dan mengatakan sesuatu yang membuat Ardana merasakan suatu perasaan yang begitu asing, perasaan yang belum pernah ia rasakan selama hidupnya.
"Kenapa kamu melihat ku seperti itu, apa kamu lapar? Jika kamu mau ambilah, tapi aku tidak yakin kamu akan mau memakannya. Tapi ketika kamu menatapku seperti itu aku tak nyaman."
"Maaf karena telah membuatmu tak nyaman," Jawab Ardana. Dalam hati kata maaf adalah kata yg sangat jarang ia katakan kepada siapapun walupun ia berbuat salah tapi ketika dengan Ariestya mengapa begitu mudah kata itu terucap. "Boleh aku mencobanya," ijinnya.
Ariesta yang mendengar hal itu sedikit kaget. Tapi ia pun menggeser kotak bekalnya ke samping Ardana tanda bahwa ia mengijinkan.
Dengan sedikit ragu ia mengambilnya lalu menatap mata Ariestya seolah olah meminta sekali lagi, dan di balas dengan anggukan kepala. Setelah mengambilnya Ardan tidak langsung memakannya melainkan menatap tempe yang di pegangnya. seumur hidupnya dan untuk pertama kalinya ia memakan makanan yang paling sederhana, lalu dengan sedikit senyum tersungging di bibirnya ia menyuapkan tempe tersebut kedalam mulutnya. Lalu mencoba seperti apa rasa tempe tersebut. Dan di luar dugaannya, dalam benaknya. mengapa tempe ini begitu luar biasa rasanya padahal hanya tempe goreng. Namun, begitu enak rasanya kemudian ia bertanya siapa yang memasak tempe goreng seenak ini.
"Wah rasanya luar biasa enak. makanan Restoran bintang lima saja kalah. Ariestya, siapa yang memasak tempe seenak ini?"
"Kamu terlalu berlebihan ini hanya lah tempe goreng mana mungkin selezat makanan restoran bintang lima."
"Kamu percaya tidak bahwa seumur hidup ku baru kali ini rasanya memakan tempe seenak ini." Ariesta yang mendengar penuturan Ardana hanya mengehela nafasnya tak percaya.
"Bolehkah aku memintanya lagi?" tanyanya.
"Ariestya pun memberikan kotak bekalnya dan Ardana pun menerimanya dengan senang hati.
"Kau belum menjawab pertanyaan ku tadi siapa yang memasak ini? "Tanya Ardana sambil menyantap makanan Ariestya sampai ia lupa untuk membagi dengan pemiliknya.
"Ibuku memang kenapa." sambil menaikkan alisnya sebelah tak lupa tangan yang ia tumpukan di depan dada.
"Pantas saja rasanya begitu enak. Ternyata ini adalah masakan seorang ibu dengan penuh cinta. Walaupun hanya tempe goreng rasanya akan berbeda jika yang memasaknya dengan sepenuh hati. Bukankah begitu." Ardana meminta persetujuan. Dan di balas anggukan kepala bahwa ia setuju. Dan tanpa di sadari Ardana telah menghabiskan makanan Ariestya. Ardana yang menyadari hal itu merasa malu kepada Ariestya karena telah menghabiskannya dan sebagi gantinya ia mememinta untuk di antar ke ke kantin dengan alasan bahwa ia masih lapar sekaligus mengganti makanan Ariestya yang telah di habiskannya.
"Maaf, makannya telah ku habiskan pasti kamu masih lapar." Ardana meringis malu.
"Tak apa."
"Kalau begitu sebagai gantinya bagaimana kalau kita pergi ke kantin dan membelinya untukmu."
"Tidak perlu."
"Aku tak menerima penolakan. Lagian aku masih lapar dan aku tak tau letak kantin dimana? Sebaiknya kau mengantarku ke sana."
"Kau hanya tinggal bertanya kepada anak yang lain."
"Tidak aku hanya ingin di antar oleh mu dan sebagai permintaan maaf ku karena telah menghabiskan makanan mu."
Ariestya yang di paksa akhirnya menyetujuinya lalu keluar bersama pergi ke kantin.
Sedangkan di kantin
Bumi dan teman temannya kini sedang menikmati makannya.
"Loh vina, Diandra, kalian berdua saja kemana Ariestya?" tanya Bumi, sambil celingukan kesana kemari mencari seseorang. Namun, Bumi tak melihatnya.
"Tya ada di kelasnya, dia tidak pergi ke kantin karena membawa bekal dari rumahnya," jawab Vina, sedangkan Diandra yang mendengar Bumi mencari Ariestya pun hanya tersenyum masam karena malah menanyakan Ariestya, bukan dirinya.
"Kamu gak nanya aku Bumi?" tanya Diandra cemberut.
"Kamu kan ada di sini, ngapain aku nanya." Jawab Bumi dengan seadanya, tanpa memikirkan perasaan Diandra.
Sedangkan Diandra yang mendengar jawaban itu hatinya merasa tertusuk jarum. Sakit, sudah pasti tapi, itu tak bertahan lama setelah Bumi menawarinya untuk duduk di sampingnya seketika Diandra tersenyum bahagia.
"Ya udah kalau gitu mending kamu duduk dan pesan makanan, kamu bisa duduk di samping aku yang masih kosong."
"Serius boleh." Dengan mata yang berbinar Diandra mengatakan hal itu." Makasih," sambil tersenyum kemudian duduk di sebelah bumi.
"Aku dimana?" tunjuk Vina, kepada dirinya sendiri. setelah Diandra duduk di samping Bumi.
"Kamu bisa duduk di samping kiki tuh kosong," jawab Diandra menunjuk kursi yang kosong.
Dengan wajah cemberut, Vina pun melangkahkan kakinya untuk duduk di samping kiki.
"Jangan cemberut gitu dong, harusnya kamu senang bisa duduk di samping aku murid paling ganteng di sekolah ini," sambil menaik turunkan alisnya kiki mencoba menggoda Vina. Yang hanya di balas dengusan malas oleh Vina.
"Ya udah sekarang kalian mau pesan apa? " tanya Raka.
"Aku mau bakso aja satu." Balas Diandra
"Vina kamu pesan apa?"
"Batagor aja deh satu."
"Oke yang lain masih ada ga?" tanya Raka dan setelah mendapat jawaban Raka pun pergi untuk memesan makanan ke kantin.
Sedangkan Bumi yang sudah dari tadi mendapatkan makanan pun hanya diam menikmati batagornya. Namun, acara makanya harus terhenti karena tanpa sengaja Bumi melihat Ariestya berjalan menuju kantin, tapi tidak sendiri melainkan dengan seseorang yang kini menjadi rival barunya itu. bukankah Ardana kelas dua belas tapi kenapa bisa bersama dengan Ariestya yang notabennya kelas sebelas, Pikir Bumi.
Bumi yang melihat itu seketika perasaannya menjadi kesal, entah apa? campur aduk melihat seperti mereka yang mengobrol sok akrab.
Dan kini raut muka Bumi berubah yang awalnya biasa saja menjadi datar. Kiki yang sadar melihat itu lantas bertanya.
"Lo kenapa?" tanya Kiki, heran yang melihat Bumi seperti itu.
Tbc.
Saya mohon untuk kasih saran ya buat cerita ini kritik tapi yang membangun biar aku semangat. Vote juga ya aku usahakan besok up date.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments