memulai

Haiii gusy selamat membaca jangan lupa vote dan komentarnya ya.

Hari ini, hari yang paling melelahkan bagi Ariestya kumala. Bagaimana tidak, dia yang tak ingin berurusan lagi dengan Bumi kini ia malah harus terseret dengan masalah yang paling ia hindari sejak ia masuk sekolah di sana. Namun, semua kini berbeda tak ada yang namanya tenang selama ia sekolah, dan sepanjang hari ini di sekolah tadi. tak henti-hentinya Bumi mencari maslahah dengannya. Ia mencoba diam tak menanggapi hal itu. Namun, Bumi tetaplah Bumi. Pria pencicilan mencari perhatian darinya dimana perlakuannya ingin mendapatkan balasan darinya. mungkin ia masih bisa sabar untuk hari ini tapi tak tau esok hari.

"Assalamualaikum ibu," salam Ariestya kepada sang ibu yang kini  telah siap dengan dagangannya.

"Kamu udah pulang?" tanya sang ibu yang melihat putrinya yang kini telah datang.

"Loh bu bukannya ibu sudah berjualan tadi pagi, kok sekarang mau berangkat lagi?" tanya Ariestya heran. Pasalnya ibunya itu hanya berjualan di pagi hari bukan sore, dan ketika ia melihat sang ibu akan berjualan lagi ia sedikit khawatir dengan kondisi sang ibu yang baru saja sembuh setelah seminggu yang lalu sakit.

"Enggak, ibu hanya mengantarkan pesanan saja. Tadi sewaktu ibu berjualan di komplek depan sana ada yang meminta ibu untuk membuatkan kue untuk acara arisan. Dan ibu terima saja. Kan lumayan untuk tambah tambah kebutuhan kita," jelas sang ibu.

"Ya udah kalau begitu biar Tya aja yang mengantarkannya ke sana, ibu istirahat saja di rumah pasti ibu capekkan setelah seharian buat kuenya sendiri."

"Engga papa, sebaiknya kamu istirahat saja pasti kamu juga capek setelah beraktivitas seharian di sekolah." Dengan lembut ibu Kumala mengatakan hal itu.

"Enggak bu Ariestya ga capek kok, lagian di sekolah aktivitas nya juga cuman duduk-duduk aja, mendengarkan materi dari guru dan lainnya," tolak Kumala Dengan halus ia tetap kekeuh ingin mengantar kue tersebut Karena ia merasa kasian pada sang ibu yang terlihat lelah.

"Ya sudah kalau begitu. Kamu ganti dulu seragamnya nanti kotor, abis itu makan ibu udah siapin makan di di Dapur," titah sang ibu.

"Ya udah kalau gitu aku ganti dulu ke kamar."

Ariestya pun pergi ke kamarnya untuk mengganti seragamnya dengan baju sehari hari. mengenakan kaos tangan panjang dan rok yang panjang, rambutnya yang di ikat satu.

Itulah penampilan Ariestya ketika di rumah, berpakaian tertutup dengan wajah polos tanpa makeup sekalipun. Ia akan terlihat seperti anak yang baru saja masuk SMP Karena tubuhnya yang kecil.

"Bu mana pesanannya sekarang Tya sudah beres mau di antar." Pintanya

"Ini semuanya dua ratus ribu, jika beliau menanyakannya lalu ini alamatnya. Kamu tau kan perumahan yang ada di depan? "

"Iya bu Tya tau, kalau begitu Tya pamit dulu ya, assalamualaikum ."

Ariestya pun pergi setelah berpamitan kepada sang ibu. Ia pergi mengantarkan itu dengan jalan kaki karena tak memiliki kendaraan pribadi. baik sepeda maupun sejenisnya, lagi pula ia tak bisa mengendarai motor, beda kemungkinan jika ia punya.

Sesampainya di sana Ariestya mencoba mencari alamat yang di tuju, lalu mencoba menanyakan hal itu kepada orang yang ia temui.

"Permisi, boleh saya bertanya

apa bapak tau alamat rumah ini?" tanya Ariestya ketika melihat seorang pria dewasa yang kini tengah berjalan-jalan dengan seorang anak.

"Boleh coba saya lihat."

Ariestya pun menunjukkan alamat yang sedang ia pegang. Kepada pria tersebut.

"Ouh ini alamatnya pak Dewanto ya, itu neng yang rumahnya paling gede sama gerbangnya warna putih, neng tanyain aja sama pak satpamnya."

"Ouh iya makasih pak. Kalau gitu saya permisi dulu ya." Ariestya pun berjalan kembali ke depan tapi ia bingung rumah di komplek ini besar besar dan ada beberapa gerbang yang warnanya putih dan ketika ia akan bertanya kembali tiba-tiba saja.

Tin tin tin

Suara klakson motor dari arah belakang Ariestya yang membuatnya kaget. Ariestya pun mengelus dadanya. Dan ketika  Ariestya  membalikkan badannya ia bisa melihat seorang pengemudi tersebut yang tak lain adalah Bumi yang baru saja pulang dengan masih mengenakan baju seragam sekolahnya.

"Ngapain lo ada di depan rumah gue," Cuek Bumi, ketika Bumi melihat Ariestya yang sedang ada di depan rumahnya.

"Bukan urusan lo," balas Ariestya.

"Etsss  bukan urusan gue lo bilang, jelas lah ini urusan gue. Ini kan rumah gue dan lo manusia miskin dengan gaya kampungan lo itu ngapain ada di rumah sultan." Dengan sombongnya Bumi mengatakan hal itu. dan jangan lupa hinaan yang bila orang mendengar nya sakit hati. Tapi tidak dengan Ariestya yang sudah biasa akan hal itu.

"gue sudah bilang ini bukan urusan lo."

Bumi yang mendengarnya hanya berdecak kesal dengan jawaban Ariestya, menurut dirinya itu membosankan.

"Pak Rudi buka gerbangnya!!!" teriak Bumi

Sedangkan pak Rudi yang sedang berjaga pun langsung menghampiri Bumi menunduk hormat lalu membuka gerbang nya.

Ariestya yang melihat tingkah Bumi pun merasa jengkel baginya itu sangat lah tidak sopan, menyuruh orang tanpa berkata minta tolong terlebih dahulu. Meskipun orang tersebut di bayar tapi tetap saja orang yang lebih tua itu kita hormati tak peduli itu satpam kah, pedagang kah atau yang lainnya.

Setalah Bumi masuk dengan motornya Ariestya pun mulai bertanya kepada sang satpam apakah benar ini rumah pak Dewanto.

"Pak boleh saya bertanya?"

"Iya neng ada apa."

"Apa benar ini rumahnya pak Dewanto."

"Iya bener neng ada apa ya?"

"Jadi begini pak. Saya ingin mengantarkan kue pesanan bu Dewanto yang tadi katanya memesan untuk sore ini. Memesannya sama ibu saya sih, tapi saya Ariestya, putrinya."

"Oh gitu, kalau begitu tunggu sebentar ya neng, biar saya panggilkan bi Minah nya dulu biar neng bisa masuk." Pak rudi pun memanggil bi Minah salah satu pelayan di sana. i Minah yang di masud pun datang dan mengajak Ariestya untuk masuk.

"Neng Ariestya ya, silahkan masuk sudah ditunggu sama nyonya."

"Iya bi makasih."

Ariestya pun masuk bersama bi Minah ketika ia memasuki gerbang ternyata rumah dan gerbang cukup jauh jika jalan kaki kemungkinan bisa sampai lima menit. Pantas saja, orang tadi mengatakan rumahnya paling besar, ternyata ini. Rumah yang bergaya Itali dengan gaya yang klasik khas sekali. Kemudian Ariestya berpikir untuk apa orang kaya memesan kue buatan rumah seperti ini bisa saja kan membeli kue di restoran mahal apa mungkin orang kaya ini pelit. Namun, ketika pemikir itu sudah ke arah yang tidak baik buru-buru Ariestya mengenyahkan pemikiran itu.

"silahkan masuk." bi Minah pun membukakan pintu untuk Ariestya.

"Makasih bi."

"Assalamualaikum, " salam Ariestya kepada Bu Dewanto.

"Waalaikumsalam. kata Minah yang mengantarkan pesanan kue saya itu kamu anak pedagang kue itu ya?" tanyanya."Siapa nama kamu. kayanya masih SMP keliatan banget masih kecil," ujar nyonya Dewanto merendahkan.

"Nama saya Ariestya nyonya. dan saya sudah masuk SMA kelas sebelas." jawab Ariestya.

"Wahh seumuran dengan Bumi dong. Kamu pasti sekolahnya di tempat biasa ya, ga kaya sekolah Bumi yang sudah go internasional." Mendengar hal itu Ariestya jadi berpikir, sifat yang dimiliki Bumi pasti dari sang ibu. Cara bicaranya yang suka pamer.

"Iya nyonya."

"Ouh ya ini semua berapa," tunjuknya kepada kue-kue yang telah di sajikan di atas meja.

"Dua ratus ribu nyonya," jawab Ariestya

"Ya sudah ni uangnya dua ratus ribu dan kamu segera pergi, kayanya teman-teman arisan saya akan segera datang. Takutnya ketahuan saya beli kue dari kamu walaupun kue yang kamu jual keliatan berkelas. dan ini sedikit ongkosnya buat kamu." Bu Dewanto pun memberikan uang pecahan Lima puluh ribu kepada Ariestya sebagai ongkos.

Baru saja Ariestya akan menolak namun tiba-tiba saja Bumi datang.

"Udah Terima aja kali, lumayan buat lo jajan di sekolah nanti. Lo kan orang miskin ga punya uang buat jajan di sekolah besok." Dengan santainya Bumi mengatakan hal itu.

"Terimakasih," balas Ariestya lalau mengambil uang tersebut karena tak ingin berlama-lama berada di tempat yang baginya itu neraka.

"Woyy tunggu lo!! mau gue anterin ga, pake motor baru gue yang baru ini di belikan sama bokap gue!!!"

Ariestya yang mendengarnya merasa jengah dengan kesombongan yang dimiliki Bumi. kemudian iapun pergi begitu saja tanpa menghiraukan perkataan Bumi.

Tbc...

Bersambung....

Terpopuler

Comments

Rokinah Mamasurya

Rokinah Mamasurya

sombong amat borrr...🤦

2021-05-27

1

tika kartika

tika kartika

sombong tingkat dewa 😤🤦

2021-03-21

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!