"Terlambat .... Hemm " sambil membuka helemnya.
"Bagi gue sih udah biasa,tapi bukan untuk lo murid baru,di hari pertama terlambat datang ke sekolah."sambil menyunggingkan senyuman sinis nya.
"Tapi biasanya murid baru datang terlambat itu di maklumi. Tidak dengan murid yang lama," lalu meninggalkan Bumi.
"Sial!" gumam Bumi sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Permisi pak selamat pagi, saya Ardana murid bari pindahan. Boleh saya minta di bukain gerbangnya," Ppinta Ardana dengan ramah tak lupa senyum yang manis.
"Wah maaf dek, gak bisa ini sudah peraturan di sekolah ini. Bagi siswa yang datang terlambat dilarang masuk," jelas pak satpam.
"Tapi pak, saya harus menemui pak kepala sekolah disini. Lalu bagaimana caranya kalau saya disini, saya kan murid baru." Pak satpam tampak berpikir dalam pikirannya, betul juga bagaimana mungkin murid tersebut bisa masuk jika gerbangnya di tutup. Tak berpikir panjang akhirnya pak satpam membukakan pintu gerbang untuk Ardana.
"Ya sudah kalau gitu silahkan masuk."
"Makasih pak." Ardana pun mengucapkan terimakasih kasih kepada pak satpam
"Sama-sama."
Ardana pun masuk dengan senyum miring nya ke arah Bumi, bahwa ia bisa masuk tanpa melewati gerbang belakang sekolah.
Sedangkan Bumi yang melihat itu hanya mendengus kesal karena ia harus masuk di gerbang belakang. Ia pun segera mengambil handphonenya dan menghubungi teman temannya untuk menunggunya di pintu gerbang belakang sekolah.
Tut Tut Tut
Bumi mencoba menghubungi kiki,dan lama kemudian telepon pun tersambung.
"Ki,lo dimana?"
"...."
"Susul gue dipintu gerbang belakang."
"...."
"Iya-iya banyak bacot lo, gue kesana sekarang."
Bumi langsung saja mematikan ponselnya. dimasukanya ke saku celananya. Lalu berjalan menuju pintu gerbang belakang sekolah.
****
"Kok lo terlambat masuk gak ngajak -ngajak sih Bumi?" Tanya kiki, ketika Bumi sudah masuk tanpa ada guru yang tau bahwa Bumi masuk lewat pintu belakang.
"Aishhh gue kesiangan bego," jawab Bumi dengan sewot.
"Wishh biasa aja keles tuh mulut kaya cabe-cabean aja asal nyeplok."
"Emang telur di ceplok."
"Udah udah masih pagi juga, ayo kita pergi ntar ketauan lagi sama BK," ujar Ardan memperingati.
"Iya nih si kikil ngajak debat gue tempol baru tau, jika ketauan," ucap Bumi, mereka pun berjalan beriringan tanapa ada yang tau bahwa Bumi datang terlambat karena teman teman Bumi.
Sementara di sekolah sedang ramai-ramainya membicarakan murid baru yang tak lain Ardana. Mereka yang melihat secara langsung ada yang berteriak kegirangan dan ada pula yang mencemooh.
"Wahh itu murid pindahan itu ya, ganteng banget." Kagum sisiwi tersebut.
"Ya elah bisa aja kali gantengan juga Bumi."
Sambil mendengus.
"Iya, tapi dia sebanding loh dengan Bumi jika di lihat dari pisik."
"Iya iya terserah aja lo deh," sambil mengibaskan rambutnya lalu meninggalkan teman bicaranya.
"Ehhh tungguu! Sarah lo mau kemanaaaa!!" Susul siwsi tersebut yang tak lain teman Sarah yang bernama Savira, Dengan lari lari kecil namun tanpa sengaja ia menabrak seorang siswa yang tak lain Ardana.
Brrukkk
Mereka pun jatuh secara bersamaan ke lantai dengan posisi duduk.
"Ma-af," ringisnya malu lalu, berdiri tanpa berniat untuk menolong dan pergi begitu saja menyusul Sarah yang entah pergi kemana.
Sedangkan Ardana hanya bisa bergumam.
"Siall." Berdiri dan menepuk nepuk bajunya yang terkena sedikit debu. Ardana pun menatap sekelilingnya banyak pasang mata yang melihat ke arahnya. Mungkin terasa asing bagi mereka melihatnya berada disini. jelas itu karena memang ia adalah murid baru di SMA Satu Nusa. Ketika ia akan bertanya dimana ruang pak kepala sekolah pada salah satu murid di sana namun ia merasa enggan. tapi ketika ia melihat Ariestya yang berjalan ke arahnya Ardana bisa menanyakannya. Akan tetapi ketika melihat raut wajah Ariestya yang biasa saja malah terkesan datar itu membuatnya penasaran hingga ia pun memutuskan untuk bertanya kepada Ariestya.
"Emm hai perkenalkan nama aku Ardana. Aku murid baru di sini dan aku ingin bertemu dengan kepala sekolah sekolah di sini, apa bisa kamu tunjukkan ruangannya di mana?" Ardana pun mendekat dan mencoba menjabat tangannya ke hadapan Ariestya namun tangannya hanya di tatap sekilas. Ariesta pun berkata.
"Lurus aja belok kanan." Ariesta hanya mengatakan hal itu tanapa berniat membalas jabat tangan Ardana jangankan menjabat tangannya, memperkenalkan namanya saja tidak. lalu, berharap mengantarkan Ardana untuk bertemu kepala sekolah. Jangan harap, Ariestya adalah orang yang sangat cuek pada lawan jenis tak peduli setampan apa pria yang di temuinya. apalagi orang yang barus saja di kenalnya.
Sedangkan respon Ardana pun hanya bisa mengaga tak percaya. Apa semua wanita di sekolah satu Nusa seperti itu. Menbaraknya lalu pergi begitu saja, setelah minta maaf dan mencoba meminta tolong namun jawaban yang di dapat hanya seperti itu, apa mungkin ia bertanya pada orang yang salah. Pikiran Ardana sepertinya mulai kemana mana daripada ia pusing lebih baik ia melanjutkan langkahnya sesuai apa yang di katakan siswi tadi, lurus belok kanan.
Setalah sampi di tempat yang di tuju ternyata belokan pertama dia langsung di suguhkan dengan pintu yang berpapan nama ruang kepala sekolah. Ia pun segara mengetuk pintu lalu masuk setelah mendapat ijin.
Setelah pertemuan Dengan kepala sekolah tadi akhirnya Ardana mendapatkan kelas yang sama dengan Ariestya.
"Selamat pagi semua," kapa pak Agus
"Pagi pak," jawab semua murid dengan kompak. Kecuali Ariestya yang hanya diam.
"Hari ini kalian akan bertambah teman baru lagi satu. Dan dia adalah murid pindahan dari sekolah Nusa 12. Bapak harap kalian bisa berteman dan bekerja sama. Ardana silahkan kamu memperkenalkan nama kamu kepada teman-teman disini."
Ketika guru mengenalkannya di depan seluruh murid di kelas Ariestya dan tanpa sengaja mata Ardana berpapasan langsung dengan mata Ariestya untuk beberapa detik, seketika jantung Ardana berdegup kencang bukan karena jatuh cinta pada pandangan pertama melainkan ada rasa segan menatap mata yang begitu tajam. dan untuk pertama kalinya ia bertemu dengan wanita seperti itu. Apa wanita yang di maksud Bumi itu adalah dia, ternyata benar bahwa dia bukanlah gadis biasa tapi bukankah itu menarik?
Tanapa sadar ia menunjukkan senyum semriknya. Lalu Ardana pun mulai memperkenalkan namanya.
"Hai selamat pagi. Kenalin nama aku Ardana Muklis, kalain biasa panggil aku Dana," jelasnya.
"Pagi juga dana." Dan bla bala perkenalan pun berjalan dengan sesi tanya jawab. Seperti perkenalan biasa.
"Cukup sekian perkenalan namanya sekarang kamu duduk di bangku yang kosong." Tunjuk pak Agus tepat di samping Ariestya bangku yang paling pojok.
"Iya pak terima kasih," balas Ardana, dengan sopan ia pun berjalan ke arah bangku Ariestya. Untuk menunjukan kesan pertama sebagi siswa baru.
"Hai boleh aku duduk di sini?" Ijin Ardana.
Ariestya yang mendengar hal itu hanya meliriknya sekilas, enggan menjawab pertanyaan dari Ardana.
"Jika diam pertanda iya, Bukankah begitu." Lalu menarik kursi untuk Ardana duduk.
"Tadi itu kamu kan yang menunjukkan ruang kepala sekolah. Aku lupa untuk mengucapkan terimakasih." Ardan mencoba mendekat untuk mengakrabkan diri kepada Ariestya, walaupun respon yang ia dapat hanya lirikan mata saja.
"Muka kamu kok datar gitu ada masalah ya."
Ardana pun bingung ia harus berbuat apa? Ia menggaruk keningnya yang tak gatal sambil berpikir.
"Nama kamu siapa kita belum berkenalan, maksudnya kamu belum berkenalan, kamu sudah tau nama aku, tapi aku belum tau nama kamu. Nama kamu siapa?"
"Namanya Ariestya kamu bisa panggil dia Tya," jawab salah satu siswi yang tak lain Vina kini menghampiri meja Ariestya.
"Kenalin nama aku Vina dan orang yang duduk di sebelah kamu namanya Ariestya aku manggilnya Tya. Kita berteman." Vina pun memperkenalkan namanya. Mengulurkan tangannya.
"Hai Vina nama aku Ardana Muklis kamu bisa panggil aku Dana," ucap Ardana membalas uluran tangan vina. Tak lupa senyum manis ia tunjukan.
"Iya aku udah tau kok."
Tak lama kemudian bel pun berbunyi dan semua siswa kembali ke tempat duduknya masing masing begitu juga dengan Vina.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments