Setelah menghabiskan waktu seharian dengan Ariestya. kini Bumi mencoba berpikir apa yang sebenarnya terjadi dengan dirinya, memahami apa yang terjadi dalam waktu singkat ini. Jika itu benar, lalu apa yang harus ia lakukan berhenti atau terus melanjutkan.
Arghhh! Bumi berteriak kesal, sebenernya ada apa dengan dirinya sambil mengacak acak rambutnya.
"Bumiii!" Panggil sang Mamah ketika melihat anaknya terlihat pusing dengan keadaan rambut yang acak-acakan seragam sekolah yang belum di ganti, dan lihatlah muka yang kusut begitu. Sang Mamah berpikir jika anaknya begitu, ia pasti kekurangan uang atau mungkin ada sesuatu yang mau dibeli.
"Kamu kenapa sayang, mukanya ko kusut begitu. Dan coba mama lihat," ujar mamah Bumi membulak balikan wajah Bumi melihat kondisi anaknya yang kacau. "apa uang Kamu habis. Biar mama minta papa transfer, kalau pun ada yang mau di beli kamu tinggal bilang aja sama papa pasti di beliin. Sekarang kamu tinggal bilang aja apa hmm mau apa?" Bumi yang mendengar hal itu dari sang ibu hanya diam, kemudian memeluk sang ibu dengan manjanya.
"Bumi gak kekurangan uang kok, dan gak ada sesuatu yang mau di beli. Cuman Bumi lagi pusing aja. Lagi ada masalah sedikit."
"Masalah apa coba, kamu cerita sama mamah siapa tau bisa bantu," sambil mengusap kepala Bumi dengan sayang.
"Bumi gak bisa cerita mah soalnya ini tentang cewek mah, cewek yang gak suka sama Bumi app____" baru saja Bumi akan melanjutkan ceritanya sang ibu, terlebih dahulu memotongnya.
"Siapa cewek yang gak suka sama anak mama. cepat katakan? Apa cewek itu buta sampai gak liat anak mommy yang ganteng gagah nan perkasa. kekayaan kita bahkan tidak akan habis sampai tujuh turunan. Lalu ada yang bilang gak suka sama kamu itu gak mungkin sayang. Itu namanya dia sudah menjatuhkan harga diri kamu sebagai anak lelaki Dewanto." Dengan emosi yang menggebu-gebu. Mamah Bumi mengatakan hal itu, ketika tahu sang anak sedang ada masalah dan masalahnya adalah seorang perempuan yang telah menolak putra kesayangannya itu.
"Terus apa yang harus Bumi lakukan mah, buat membalas tuh cewek." Bumi pun melepaskan pelukan hangat dari sang mamah. Dengan kesalnya karena telah mengingat peristiwa hari yang tak pernah bisa di lupakan nya. Tapi setiap ia mengingat Ariestya, semakin hilang rasa untuk membalas dendam. Yang ada dalam pikirannya bagaimana bisa dekat dengan Ariestya, gadis yang selalu membuatnya nyaman walau hanya melihatnya dari jauh.
Ariestya, Ariestya kenapa nama itu selalu muncul dalam pikiran Bumi.
"Ntar mamah pikirkan kamu sebaiknya cepat mandi, ganti baju biar seger, nanti mama siapin baju kamu." Mamah Bumi pun beranjak dari kursi. Lalu berjalan ke arah lemari. Dan mengambil handuk baru dan menyerahkan handuk tersebut kepada bumi.
"Nih sekarang kamu masuk sana. Biar ganteng lagi dan gak ada yang berani nolak kamu," ucap tegas sang mamah.
"Makasih mah." Bumi pun beranjak dari duduknya.
***
Sesampainya di rumah, kini Ariestya ragu untuk mengetuk pintu. Karena waktu sudah menunjukkan pukul delapan. Jika sang ibu bertanya, alasan yang akan ia berikan. Ariestya pun menghirup nafas dalam-dalam agar lebih tenang, supaya ketika ia menjawab pertanyaan sang ibu tak gugup. Karena Ariestya juga tak mungkin berbohong, jika sang ibu bertanya maka ia akan menjawabnya dengan jujur, tapi masalahnya ibu Ariestya tak menyukai jika ia pergi tanpa ijin terlebih dahulu, dan ini memang salahnya menyetujui permintaan Bumi. lagi-lagi Ariestya menghela nafasnya, memandang pintu rumah dengan ragu.
Tok tok tok
Ariestya pun mulai mencoba mengetuk pintu tak lupa ia juga mengucapkan salam.
"Assalamualaikum. Ibu .... ibu ...," Panggil Ariestya dengan pelan. Dan tak lama kemudian pintu pun terbuka.
Cklek'
"Waalaikumsalam." Pintu pun terbuka,pada saat itu juga
Deggg'
Jantung Ariestya berdetak lebih cepat dari biasanya, ketika tahu yang membuka pintu bukanlah sang ibu melainkan Dewa, orang yang sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri.
"Kaka kok ada di sini, ga bilang bilang dulu sama aku?" tanya Ariestya.
"Biar kejutan," jawab Dewa dengan senyum manisnya. "Tumben jam segini baru pulang. Bukannya jam dua ya, setau Kaka." Sambung Dewa dan terlebih dahulu masuk ke dalam rumah dan di ikuti oleh Ariestya dari belakang.
"Silahkan duduk dulu ka, biar aku buatin minuman kaka mau apa?" Ariestya mencoba mengalihkan pembicaraan dan malah balik bertanya kepada Dewa. lalu mencoba menawarkan minuman.
"Tak usah, tadi ibu udah bikin minum buat kaka, sebaiknya sekarang kamu bersih bersih dulu gih, bau asem tau ga." Dewa menutup hidungnya sambil mengibaskan tangannya.
Ariestya yang melihat itu hanya cemberut kesal.
"Ihhh kaka aku gak bau yaaaa!"
Hahahaha seketika tawa Dewa pecah ketika melihat wajah Ariestya yang cemberut seperti itu, bagi Dewa hal seperti itu adalah obat ketika ia merasa lelah. Bagi Dewa Ariestya adalah segalanya.
Sedangkan Ariestya yang melihat tawa ia semakin kesal dan memutar bola matanya males.
"Udah puas, ketawanya puas." Sambil memalingkan wajahnya ke samping.
"Jangan gitu dong ntar cantiknya ilang loh, hihihi," masih dengan sisa tawanya.
"Sini coba liat tuhhh kan ilang cantiknya."lalu memalingkan wajah Ariestya kehadapan Dewa dan Ariestya pun saling menatap satu sama lain untuk seperkian detik. dalam benak Ariestya ia sungguh menyesal apa yang telah ia lakukan.
Ehemmm suara sang ibu Ariestya menyadarkan keduanya. Dewa yang sadar pun seketika ia merasa salah tingkah Karena telah kepergok menatap putrinya. begitu juga dengan Ariestya yang merasa salah tingkah.
"Kalau begitu aku ke kamar dulu ya." Ariestya pun beranjak dari duduknya, lalu menghampiri sang ibu untuk mencium tangannya sebelum pergi ke kamar untuk membersihkan diri. "Bu aku ke kamar dulu ya,"pamitnya.
"Ariestya udah pulang?" tanya ibu Ariestya kepada dewa, sambil menaruh cemilan di meja, kemudian duduk di sebrang sopa yang diduduki Dewa.
"Iya bu. Baru saja, sepertinya ia ada tugas kelompok dengan temannya," balas Dewa, enggan untuk berpikir jauh.lagi pula ia memaklumi Ariestya karena ia juga pernah mengalaminya. Bahkan ketika ia kerja kelompok dimasa sekolahnya ia sampai menginap. Jadi wajar saja jika Dewa berpikir ke arah sana tanpa ada yang lain.
Di kediaman Bumi kini semua telah berkumpul di meja makan dengan obrolan ringan nya.
"Surya katanya kamu udah punya pacar, kapan akan kamu kenalkan pada kami?" tanya sang kepala keluarga yang tak lain Ayah Bumi.
"Nanti pah, sekarang dia lagi sibuk," balas Surya. Masih fokus dengan makanannya. Karena sudah lama ia tak makan masakan rumah.
"Emang dia kerja apa? Kata mama pacar kamu yang sekarang itu sederhana."
"Iya pah dan aku yakin dia bakal jadi menantu yang baik."
"Ouh ya? Bumi bagai mana sekolah kamu." kini sang Ayah bertanya kepada Bumi yang terlihat sedikit tak berselera makan.
"Baik pah," jawab Bumi dengan tak semangatnya.
"Kamu kenapa? tumben muka kamu kusut begitu, uang jajan kamu habis."
"Bukan pah, Bumi katanya baru saja di tolak sama cewek." Sang mamah kini malah mengejek sang putra. Dan seketika tawa Surya pun terdengar.
Hahahaha.
"Baru kali ini aku denger ada cewek yang nolak, pasti tuh ceweknya cantik banget ya." Ejek Surya kepada Bumi.
"Apanya yang cantik kumel begitu, miskin lagi. Lagian dia bukan selera Bumi. Lalu siapa juga yang di tolak," balas Bumi dengan kesal sambil mengaduk aduk makanannya yang masih banyak, Bumi yang melihat itu seketika teringat bagaimana ia makan dengan Ariestya berdua dan saling menyuapi. Mengapa itu terasa sangat lezat,padahal itu hanya pasta bukan apa apa di bandingkan dengan yang lain.bahkan sekarang ia merasa rindu dengan itu. Rindu? Itu tidak mungkin, tidak! tapi itu bisa jadi mungkinkah ia ....
"Tidakkk!" Bumi berteriak.
Semua orang yang di sana seketika merasa terkejut mendengar teriakkan Bumi.
"Bumi kamu kenapa nak?" tanya sang Mamah.
Dan Bumi yang sadar dengan apa yang ia lakukan pun seketika ia merasa malu dan pergi begitu saja meninggalkan makan malamnya yang belum selesai. Kemudian mengambil kunci motornya pergi.
Sang mamah yang melihat hal itu pun penasaran apa yang akan di lakukan Bumi. Lalu akan kemana Bumi pergi."Sayang, kamu mau kemana?!" tanya mama Bumi di meja makan, tanpa beranjak dari sana.
Tbc.
Jangan lupa vote and komentarnya..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments