Seperti bisa perpustakaan adalah tempat paling nyaman untuk beristirahat bagi pecinta buku, susananya yang begitu sunyi itu yang menjadi nyaman. Ariestya adalah salah satunya tapi berbeda kali ini, jika seperti biasa ia menggunakan waktunya untuk membaca walau hanya sebentar. kini bukan untuk membaca, tidak untuk hari ini, hari ini ia gunakan untuk tidur sejenak sebelum jam istirahat selesai.
Ariestya, bukanlah gadis kutu buku tapi ia menyukai kesendirian. Dia bukanlah gadis pintar yang terobsesi dengan pelajaran. Ia tak terlalu menanggapinya dengan serius dalam pembelajaran ia hanya berusaha santai yang terpenting adalah nilanya tidak rendah.
Sementara bumi kini ia berada di lapangan seperti biasa jika ia merasa kesal ia akan menghabiskan waktunya untuk bermain bola basket.
"Woyyyy Bumi lo lagi ngapain? dari tadi kita cari ternyata lo ada di sini!" teriak Bintang dan teman teman Bumi ikut menyusul.
Bumi pun berhenti sejenak, lalu mengalihkan pandangannya kepada temannya itu. "Ada apa kalian nyari gue?" Bumi pun berjalan ke arah sisi lapangan.
"Yah lo mah ga seru," Ujar Kiki
"Lo ga mau ke kantin cari makan?" Tanya Rangga .
"Gak! gue lagi bete." Dengan malas Bumi mengatakan hal itu dan berniat melanjutkan permainannya.
"Ga laper lo?" tanya binatang
"Gak !" Balas Bumi cepat.
"Lo kenapa sih?" Heran kiki. Namun, tiba-tiba saja Galih rival Bumi. melempar Bumi dengan Bola basket hingga mengenai kepalanya. Seketika badan Bumi pun sedikit oleng.
Braaakk
Bumi pun membalikan badannya, dan melihat siapa yang telah berani melempar bola ke arahnya.ketika ia berbalik ternyata yang melempar adalah Galih dan teman-temannya. Seketika itu juga, emosi Bumi memuncak.
"Mau lo apa bangsat!!! "
teriaknya.
"Haha gue cuman mau nangtang lo untuk main, dari pada lo main sendiri ga seru ya ga?" Dengan senyum mengejek ya.
"Gue gak tertarik." Dengan angkuhnya Bumi menjawab.
"kalau begitu bagaimana kalau kita taruhan saja agar lebih sedikit menyenangkan," tawar Galih.
"Ok gue terima tantangan dari lo," jawab Bumi dengan angkuhnya
"Tapi dengan satu syarat, jika lo kalah lo harus mencium siapa saja yang pertama keluar dari perpustakaan," tantangnya.
"Jika lo yang kalah?"
tanyanya, masih dengan angkuhnya.
"Gue siap jadi pelayan lo selama seminggu."
"Oke gue setuju dan bersiaplah jadi pelayan gue." Semriknya.
"Oke siapa yang akan jadi wasitnya. Gue harap jangan diantara teman kalian takutnya ga adil." Rifan teman Galih memberi saran.
"Basit dia ketua OSIS disini yang akan menjadi wasit." Tunjuk Galih.
"Ok! Basit lo yang akan jadi wasit." Perintah Bumi.
"Gue terima." Basit pun menerima dengan senang hati." Oke kita mulai"
Dan permainan pun di mulai, satu persatu siswa pun berdatangan untuk melihat berjalannya pertandingan. Banyak murid perempuan yang melihat itu menjerit-jerit kegirangan melihat idola mereka yang berkeringat terlihat lebih tampan.
"Ayoo bumi semangat."
"Galih!!!"
"Bumi!!!"
"Galihhhhh!!!"
"Ya ampun mereka sangat keren sekali jadi makin gemes," Jerit kegirangan para murid perempuan yang mengidolakan mereka.
Dan permainan pun semaikan memanas ketika sekor berimbang. dan semakin semangat pula untuk saling mengalahkan. Tapi fokus Bumi hilang ketika melihat Ariestya keluar dari perpustakaan yang membuatnya lengah dan menyebabkan ia kalah. Galih pun tersenyum dengan bangganya.
"Lo kalah, dan sekarang lo cium tuh cewek yang baru saja keluar di perpustakaan," tunjuknya dengan senyum devil nya. Galih merasa puas telah mengalahkan Bumi pria sombong itu.
Bumi yang kalah dan harus melakukan itu pun menerimanya ia tak akan menjadi pengecut dangan mengingkari apa yang telah di sepakati nya. Ia pun berjalan menghampiri Ariestya yang saat itu akan menuju kelasnya ia tak peduli dengan sekitar yang terlihat ramai.
Melihat Ariestya yang menjadi korban kiki pun meringis ngeri apa yang akan terjadi dengan sahabatnya itu, ia saja yang hanya memegang tangannya di gampar apalagi cium.
"Bumi sebaiknya lo jangan berurusan dengan dia deh," peringatnya.
"Gak! gue bukan pengecut. gue akan tetap menjalani tantangan tersebut." Dan Bumi pun berjalan dengan la santai dan setelah sampai di hadapan Ariestya.
Cup
Bumi mencium tepat di rambut Ariestya. Seolah-olah hal yang biasa.
Berbeda dengan Ariestya yang melihat itu emosinya langsung naik seketika beraninya pria di hadapannya mencium rambut nya tanpa permisi walau hanya rambut tetap saja ia tak terima. dengan segala amarahnya ia pun.
Brrraakkkkk.
Orang-orang yang melihat itu pun kaget. Melihat apa yang Ariestya lakuakn kepada Mos Wanted di sekolah ini.
sedangkan teman teman Bumi yang melihat itu meringis seolah olah merasakan sakit plus malu, apa yang di rasakan temanya dan kemudian menghampiri Bumi yang kini terjatuh di lantai akibat serangan dari Ariestya.
Sedangkan Ariestya, ia pergi tanpa mengatakan apapun. Ia terlihat marah dan kesal.
Namun, sebelum Ariestya ke kelasnya. Ia berbalik dan mengatakan hal yang membuat semua orang disana memandang ngeri.
"Dengar semuanya, kalian sudah lihatkan apa yang gue lakuin sama si pria brengsek ini. " Ariesty menatap mereka satu persatu . Matanya yang kecil dan hitam itu seakan ingin melahap meraka hidup-hidup.
"Jangan pernah libatin gue dalam hal apapun yang menyangkut urusan pribadi gue. Terutama lo," Tunjuknya, kepada Bumi kemudian mengalihkan tatapannyanya kepada Galih.
Galih yang ditatap seperti itu pun menelan ludahnya kasar baru kali ini ia bertemu seorang gadis yang sangat sadis. Batin Galih.
"Ehhh emang lo siapa?" tanya seorang gadis dengan suara cemprengnya dia Sandara gadis paling cantik di sekolah ini.
"Jangan sok cantik lo, " kini teman sandara pun ikut menimpali.
"Stop ini bukan urusan kalian, ku harap ini menjadi pertama dan yang terakhir," tekannya pada kalimat terakhir lalu meninggalkan tempat kejadian tersebut. Ariestya tidak ingin memperpanjang masalah dan akhirnya terjadi keributan. Walaupun sebenarnya sudah terjadi.
"Bumi, kamu ga kenapa napa?"ujar, Diandra yang telah menghampiri Bumi. Kemudian memegang pipi Bumi yang terlihat sedikit memar akibat pukulan tadi.
Dalam hati Bumi ia mengupat,kenapa pukulan seorang cewek bisa sekuat itu, ia kira ia hanya akan di tampar saja. Namun ia salah, ia malah ditonjok dan jangan lupa bibinya juga sedikit sobek, ia meringis akan apa yang telah di buat Ariestya kepadanya. kalau bigini mana bisa ia mendekat.
"Sebaiknya kita bawa Bumi ke UKS saja, kita obati." Raka pun mencoba membantu Bumi untuk berdiri, yang hanya dari tadi sibuk dengan pikirannya.
Namun pada saat Raka akan membantu Bumi sudah pergi begitu saja tanpa menghiraukan teman temannya.
"Ehhh Bumi lo mau kemana!" panggil Kiki, mengikuti langkah Bumi.
***
Dan Di sinilah, Bumi dan kiki mereka sedang di depan kelas Ariestya.
"Lo mau ngapain di sini?" tanya Kiki.
" Lo diem aja deh,kalau ga lo boleh pergi dari sini," ancamnya.
"Iya-iya gue diem." Kiki merenggut sebal. dalam benaknya ia berkata. Lagian di sini mau ngapain coba ngeliatin kelas orang ga jelas banget. Apa peristiwa tadi membuat Bumi jadi oleng ya. sambil menatap bumi.
"Udah jangan liatin muka gue? gue tau gue ganteng." Bumi merenggut kesal kepada kiki saat kiki menatapnya seperti itu.
Sedangkan kiki yang tersadar dari lamunannya itu meringis, mendengar hal itu.
"Ogah ya gue itu masih normal kali masa gue suka sama lo emang ga ada cewek lagi gitu."
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments