Jangan lupa vote and komen.
"Haii Tya!" sapa Vina, ketika melihat Ariestya yang datang ke kantin bersama dengan Ardana. Vina yang merasa penasaran pun lantas bertanya.
"Tya bukanya kamu tidak ingin ke kantin karena membawa bekal. Kok sekarang ke sini bersama Ardana juga."
"Emang kenapa Tya gak boleh kesini kalau bawa bekal," jawab Ardana kesal dengan pertanyaan Vina.
"Enggak kok cuman aneh aja." Vina hanya cengengesan tidak jelas mendapat pertanyaan dari Ardana.
"Aku balik ke kelas dulu." Baru saja Ariestya akan beranjak keluar namun di tahan oleh Ardana.
"Kamu mau kemana?" tanya Ardana memegang tangan Ariestya. Ariestya yang melihat tangannya di genggam oleh Ardana pun mencoba melepaskan nya. Namun tak berhasil karena genggaman Ardana yang sangat kencang.
"Biasa aja kali, biasakan gak usah pegangan tangan segala kaya yang mau nyebrang aja,"
celutuk Bumi yang masih dengan makanan yang dihadapannya namun matanya tak lepas dengan Ariestya.
Ardana yang sadar pun segera melepaskan tangannya dari Ariestya lalu mengajak Ariestya untuk duduk bersama di meja sebelah yang kosong.
"Ayo! kamu bisa pesan apa aja nanti aku yang bayar."
"Gak lebih baik kamu saja, aku masih kenyang."
"Apanya yang kenyang, orang bekal kamu habis sama aku. Mending sekarang kamu duduk biar aku aja yang pesan." Ardana pun berdiri menuju penjual kantin untuk memesan makanan mereka. Ariestya yang melihat apa yang dilakukan Ardana pun hanya diam tanpa menolak. Setelah kepergian Ardana yang memasan makanan, Bumi pun menghampiri Ariestya yang duduk di meja sebelah tanpa lepas memandang Ariestya.
"Enak ya di traktir teman baru udah gandengan lagi." sindir Bumi, dengan muka datarnya sambil bersandar memepehatikan Ariestya. Sedangkan Ariestya yang mendengar hal itu hanya memutar bola matanya malas.
"Gue baru tau ya kalau anak lagi main sama teman bisa di suruh pulangnya barengan lagi," balas Ariestya dengan sindiran yang sama. Dengan nada ketusnya.
Bumi yang mendengar hal itu hanya menegang karena kebohongannya telah di ketahui, tapi ya bagaimana lagi. Sepertinya Bumi kurang pandai dengan hal itu. Bumi yang tak mau mejawab pun pura-pura batuk untuk mengalihkan perhatian dan untung saja Ardana datang dengan dua mangkuk baso di nampan yang di bawanya.
'Hamm'
Gumam seseorang yang tak lain Ardana yang kini membawa pesanan Ariestya dengan dirinya.
"Ngapain lo Disini?" Tanya Ardana sambil meletakkan bakso di depan Ariestya.
"Suka-suka gue lah mau dimana gue duduk itu bukan urusan lo," balas bumi dengan ketus.
"Makasih," ucap Ariestya, dengan senyum manisnya. Ardana yang melihat itu pun tersenyum bahagia. Karena Airestya tersenyum padanya dengan tulus.
Sedangkan Bumi yang melihat itu merasa kesal. karena jika bersamanya jangankan senyum, membalas semua ucapan saja dengan muka datar kaya triplek.
"Ngapain pake senyum segala, cuman hanya semangkuk bakso doang? Iuhhh gak ada apa-apanya dibandingkan dengan gue yang ngasih spaghetti mahal." Dengan sombongnya Bumi mengatakan hal itu. Sambil menatap Ariestya dengan tajam karena memberikan Ardana senyum manisnya.
"Terserah gue dong" Ariestya pun mencoba menyuapkan bakso ke dalam mulutnya. namun ditahan oleh Bumi, dan malah menyuapkan bakso tersebut kedalam mulutnya. Namun, apa yang terjadi, Bumi malah memuntahkan bakso tersebut ke arah Ariestya karena bakso itu ternyata masih panas.
"Panas?panas," ujar Bumi sambil mengibaskan tangannya ke lidahnya. Tanpa berpikir apa yang telah ia lakukan pada Ariestya sedangkan teman temannya yang melihat kejadian hal itu malah menertawakan tingkah bumi yang menurutnya absurd itu.
Hahahhah
"Lagian suruh siapa main ngambil makanan orang tanapa ijin kan kualat lo," tanpa menghentikan tawanya .
"Lo pada malah ngetawain bukannya nolong,"jawab Bumi Masih dengan menjulurkan lidahnya sambil mengibasnya dengan tangan.
"Bumiiiii!!" Teriak Ariestya kesal, setelah amarah yang sejak tadi ia tahan akhirnya pun meledak.
"Apa apa tolongin dong panas tiupin," rengek Bumi kepada Ariestya. Sedangkan Ardana yang melihat itu hanya geleng-geleng kepala atas tingkah Bumi.
"Tya kamu gak papa?" Tanya Ardana khawatir Karena ia melihat Bumi yang memuntahkan bakso itu ke arah Ariestya dan mengenai seragamnya.
"Gak papa kok," balas Ariestya, lalu mengmabil tisu yang ada di depannya.
"Tapi baju kamu kotor." Tanyanya lagi.
"Gak papa aku bisa membersihkannya, aku ke toilet dulu."
"Lo mau kemana?" tanya Bumi setelah rasa panas itu reda. Dan melihat Ariestya beranjak dari duduknya.
"Bukan urusan lo," balas Ariestya,dengan ketus lalu pergi begitu saja, tanpa menghiraukan perkataan Bumi.
"Mau gue antar gakkk!" teriak Bumi Yang melihat Ariestya berjalan ke arah toilet.
Sesampainya di toilet sekolah Ariestya pun segera masuk kedalam dan mencoba membersihkan noda pada bajunya sekiranya bersih ia pun segera keluar. Namun, tiba tiba saja Sarah dan teman temannya datang menghalangi jalannya.
"Bisa minggir gue mau lewat," ucap Ariestya dengan datar.
"Lo mau lewat? Gak semudah itu. Guys tutup pintunya." Perintah Sarah kepada kedua temannya Savira dan Leana. Dan di balas anggukkan keduanya.
"Lo mau ngapain sih, minggir gak. bentar lagi bel masuk. Jangan macam-macam deh gue gak punya urusan sama lo."
"Denger ya, gue peringatan sama lo dan lo harus denger ini baik-baik. jangan pernah lo deket-deket sama bumi kalau lo mau tenang di sekolah ini!" bentak Sarah kepada Ariestya sambil memegang Ariestya dengan kuat.
Ariestya yang di pegang tangannya seperti itu berusaha untuk melepaskannya. Namun sepertinya tenaga Sarah lebih kuat ketika di kauasi emosi. Sehingga Ariestya mencobanya pun tak berhasil.
Sedangkan Sarah tak bisa melakukan lebih untuk saat ini karena sebentar lagi bel masuk dan untuk saat ini Sarah tak ingin mengotori tangannya.
"Denger ya, gue gak pernah deketin Bumi. Lagi pula gak ada untungnya buat gue!" balas Ariestya dengan penuh penekanan.
"Haha Apa lo bilang gak deketin Bumi? Kalau yang kemarin itu apa hah! Pelukan, jalan bareng ke Mall dan Sekarang mencoba makan bersama di kantin. Murahan banget sih lo orang miskin," mendengar apa yang di katakan Sarah Ariestya mencoba untuk menahan emosinya agar tak menyerang Sarah.
"Gue gak murahan!" bentak Ariestya.
Prok prok prok
Sarah pun bertepuk tangan sambil tertawa
Hahaha
"Gak murahan ya, ok lo gak murahan tapi lo itu orang miskin yang suka morotin orang kaya iyakan, gue bener," sinis Sarah sambil bersedekap.
"Denger ya Sarah, "sambil menatap Sarah dengan tajam dan datar Ariestya berkata. "gue gak punya urusan sama lo, sebaiknya lo gak usah ganggu gue Karena gue gak paham maksud lo. Dan stop bilang gue murahan, atau suka morotin orang kaya. Sebab gue masih mampu untuk hidup, tanapa morotin orang kaya yang lo maksud," setalah mengatakan hal itu Ariestya pun pergi meninggalkan sarah dengan kekesalannya.
"Awasss lo Ariestya ini belum saatnya lo tau siapa gue. Dan gue pastiin lo bakal nyesel karena berani ngelawan gue," gumam Sarah, sambil mengepalkan kedua tangannya dengan erat untuk menahan emosinya. Sarah dan kedua temannya meninggalkan toilet tersebut karena bel telah berbunyi.
Apa yang selama ini Ariestya khawatirkan akhirnya pun terjadi. Lalu jika seperti ini apa yang harus ia lakukan mencoba, menghindar pun tak bisa karena pasti Bumi tidak akan berhenti menggangunya apalagi hal kemarin yang membuat Sarah salah paham.
Ariestya hanya bisa menghela nafasnya lelah, engan semua yang terjadi ini hanya baru permulaan tidak tau apa yang akan. Terjadi kedepannya. Ariestya berharap ini tidak akan lama.
Tbc ..
Jangan lupa ya vote and komen
Kasih aku semangat dong.
Dan jangan lupa follow
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments
L🌿
Mampir, bawa 40 like👍👀
Tidak lupa komen, 5 rate dan masukkan ke Fav💙
Semangat Thor 💪
Ditunggu feedbacknya 😊
"Istri Pilihan Papa"
"Cinta Dan Musuh" 🙏
2021-01-15
0
Nureti
hai kak 👋
suksesk kak untuk karyanya
jangan lupa mampir di karyaku yang menceritakan cowok letoy yang selalu di tolak sama cewek dalam judul THE FAILED PLAYBOY.
Terimakasih 🙏
2021-01-15
0