Happy reading semoga ga bisa bosan ya..
Jangan lupa vote sama komentar...
Setelah insiden kemarin yang membuat Bumi kepikiran seharian. Sampai lupa ia akan bertemu sang kekasih. Ia berfikir bagaimana caranya supaya Ariestya mengenal dirinya.
"Apa sebaiknya gue tanya sama kiki aja ya? tidak! kalau gue tanya sama kiki yang ada dia hina gue, turun sudah predikat penakluk para wanita. Ah pusing gue, Lebih baik gue mandi." Bumi pun mengacak acak rambutnya frustasi. karena tak punya ide apapun akhirnya ia lebih memilih mandi terlebih dahulu, siapa tau setelah ia mandi ia akan mendapatkan ide yang bagus.
*****
Di sekolah
Setibanya Bumi di kelas bumi pun langsung duduk di bangkunya tanpa menyapa teman temannya.
Sontak hal itu membuat teman-teman Bumi melihat itu merasa aneh, dengan sikap bumi yang tak seperti biasanya. Lihatlah sekarang bukalah Bumi yang biasa yang suka tebar pesona dan segala sesuatu yang akan ia banggakan. Namun, kini yang mereka lihat Bumi dengan wajah yang tak bersemangat. dan seperti banyak pikiran.
"Eh bumi lo kenapa?" tanya Ardan, yang merasa heran dengan sikap Bumi pagi ini. Begitupun dengan kiki, Raka, dan Rangga.
"Gue ga kenapa napa," balas Bumi dengan cepat.
"Lo, kok gak seperti biasanya, gak semangat gitu. Tau ga ada anak baru loh, cantik lagi." Kiki pun mencoba mencari topik yang sekiranya bisa membuat sahabat nya itu kembali bersemangat. Namun apa yang menjadi informasi kali ini tak di tanggapi oleh Bumi.
"Terus apa urusannya sama gue," jawab Bumi cuek.
"Lo ga mau gitu cari mangsa baru? " tanya kiki yang tak biasanya melihat respon Bumi begitu.
"Huh." Bumi hanya menghela nafas lelahnya. Sebenarnya ia sedang mencari cara agar bisa dekat dengan Ariestya. Jadi apa yang di tawarkan kiki itu tak berpengaruh untuknya, baginya menaklukan Ariestya adalah hal yang penting.
"Bumi lo kenapa sih?jika lo punya masalah loe bisa berbagi sama kita siapa tau kita bisa bantu." Rangga mencoba memberi saran agar Bumi berbagi bersama mereka. Dengan masalah apa yang di alami oleh Bumi sekarang.
"Iya Bum, lo sebaiknya cerita deh. ngeliat lo yang kaya gini gue jadi merinding, jangan jangan lo ke surupan lagi." Pikir Kiki mencoba menakuti Bumi dan hal itu jelas tidaklah mempan.
Pltakkkk.
Bumi pun memukul kepala kiki dengan sedikit keras.
"Kalau ngomong dijaga ya," kesalnya.
"Sakit bego !!! Aduh kepala cantik gue," ringis kiki. Sambil mengusap usap kepala yang di pukul bumi.
"Lebay loh."
"Ki loe bilang katanya ada anak baru, cantik lagi, loe tau siapa namanya?" tanya Raka mencoba mencari tahu tentang anak baru.
Dan itu membuat Bumi heran tak bisanya Raka kepo dengan berita yang dibawa Kiki.
"Ko lo sih yang jadi kepo," ujar Bumi.
"Iya, lo kenapa Rak?" Rangga pun ikut bertanya.
"Ga ada sih," sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal, Raka pun bingung harus menjawab apa. Ia merasa aneh kadang ia mencoba menanggapi tapi di sebut aneh,jika ia diam saja semuanya, merasa aneh juga ia jadi serba salah.
Kiki yang melihat itu terkekeh geli dengan sikap Raka. mungkin ini akan menjadi awal untuk Raka memulai asmaranya.
"Ok gue Jawab, menurut informasi yang gue denger tentang anak baru itu, namanya Diandra dia gadis pindahan dari SMA Nusantara. Dan segitu yang gue dapet," jelas Kiki.
Mendengar hal itu Bumi hanya ber oh ria tanpa ikut menimpali. Setelah ngobrol sana sini pun akhirnya bel pun berbunyi.
kriinggg
"Ok, anak anak samapi disini paham?" tanya Pak Darman
"Paham pak!!!" jawab semua siswa serempak.
"Kalau begitu silahkan istirahat." Pak Darman pun keluar kelas.
"Oy kiki!!!" panggil Rangga.
"Ya apa," balas kiki yang kini sedang memainkan ponselnya.
"Gak mau keluar lo"
"Bentar tungguin gue." Kiki pun memasukan ponselnya kedalam saku celananya.
"Eee tu anak baru ya, cantik juga." Raka yang melihat Diandra pun seketika terpesona, dengan kecantikannya.
Sedangkan Bumi hanya biasa saja, baginya itu sudah biasa saja.
"Iya, lo mau kenalan gak sama dia?" tanya kiki .
"Boleh lah yu." Mereka pun menghampiri Diandra yang saat ini tengah berbicang dengan siswi kelasnya Ariestya.
"Hai cantik, anak baru ya boleh kenalan gak?"
Diandra yang melihat ada beberapa cowok yang menghampirinya pun tersenyum apalagi setelah melihat Bumi, dengan malu-malu Diandra pun menganggukkan kepalanya.
"Boleh." Dengan senyuman yang sangat manis.
"Gue kiki, dari mereka berlima gue adalah yang paling ganteng." Kiki pun menjabat tangannya dan di susul yang lain. ketika Diandra akan menjabat tangan Bumi, langsung saja tangan itu di hempaskan, oleh seseorang siapa lagi kalau bukan Septi yang tiba-tiba saja datang, Septi tidak suka jika ada yang menyentuh tangan kekasihnya selain dirinya.
"Lo gak boleh kenalan pake jabat tangan segala bisa kan, dia itu pacar gue," sambil merangkul tangan Bumi posesif. Septi pun menatap Diandra dengan tatapan tidak sukanya.
"Woy ondel-ondel ganggu aja lo!!!" Teriak kiki.
"Bodo amat!! gue tuh lagi jagain pacar gue biar ga ada orang ketiga di antara kita."
Diandra yang mendengar itu merasa kecewa, dalam hatinya ia pikir Bumi belum punya pacar. Tapi tenang saja, menurut informasi yang ia dapatkan, Bumi tidak akan lama kalau pacaran dan ia yakin jika sebentar lagi Bumi akan putus.
"Maaf ya kelakuan si Septi emang gitu posesif." Rangga pun mengatakan hal itu dengan senyum terbaiknya yang bisa ia tampilkan. Walaupun hanya senyum tipis tapi baginya itu adalah senyum terbaiknya.
"Iya ga papa ko." Diandra mencoba terlihat biasa saja.
"Uohhh Diandra baik sekali sih, beda banget sama ondel-ondel buluk satu ini." Alay kiki.
Diandra yang mendengar apa yang dikatakan kiki hanya bisa tersenyum.
Berbeda dengan Septi yang cemberut.
"Sayang kita ke kantin yuk aku laper nih." Dengan. Manjanya seperti bisa.
Bumi yang mendengar hal itupun merasa sudah tak tahan. Sepertinya ia akan segera memutuskan Septi. Mungkin hari ini adalah waktu yang tepat.
"Septi denger hari ini gue mau putus sama lo!" Bumi pun melepaskan tangan Septi dari lengannya. Setelah mengatakan hal itu bumi pun pergi dari sana.
Dan saat itu kebetulan ia melihat Ariestya yang sedang tersenyum dengan seseorang. Tapi siapa dia? seperti nya ia mengenalnya, tapi dari jarak yang sedikit jauh ia hanya bisa melihat punggungnya saja, karena merasa penasaran pun Bumi mencoba menghapirinya. Namun, sayang sekali pria itu telah pergi.
"Siapa dia ?" tanya Bumi Kepada Ariestya.
Ariestya yang mendengar hal itu pun menaikkan sebelah alisnya. Ia merasa heran apa orang di depannya itu berbicara padanya. Namun, ketika ia melihat sekitar tak ada orang lain selain dirinya. Kemudian Ariestya pun menjawab dengan cueknya.
"Bukan ursan lo." Dan pergi begitu saja tanpa menghiraukan panggilan bumi.
"Ehhh tunggu!!!" teriak Bumi.
"Ah sial tu cewek jutek amat, baru kali ini gue di abaikan." gerutunya.
Sedangkan Septi kini marah marah kepada kiki, karena ia telah diputuskan oleh Bumi.
"Ihhh kikil kebo! ini semua gara-gara lo gue jadi di putussin sama Bumi!" marahnya.
"Eh onondel-ondel ngapain lo marah sama gue itu mah salah lo sendiri, ngapain juga lo punya muka kaya ondel-ondel," ejeknya.
"Aaahhh kiki sialan!! huaa .... Bumi aku gak mau putus," tangis Septi menjerit membuat mereka yang mendengarnya, satu persatu meninggalkan Septi. sedangkan kiki dan lainnya ikut menyusul Bumi yang sekarang entah kemana.
"Diandra lo mau ikut ga sama kita," ajak Raka.
"Emang boleh?" tanya Diandra memastikan.
"Boleh kok lo belum punya temen kan lebih baik ikut aja. Iya ga temen-temen?" tanya Raka pun meminta persetujuan dari teman temannya.
Mereka mengangguk mengiyakan permintaan Raka.
Salam..
Makasih ya yang udah mampir dan vote sama komenya...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments