debat

Setelah keluar dari restoran, mereka pun pergi ke toko sepatu yang dituju. Toko yang terlihat mewah dari  brand ternama, jangan tanyakan lagi harga? Karena harga yang harus di bayar pun mahal bukan main, dari yang paling murah saja.  Mulai dari angka satu juta.

Ariestya yang melihat itu hanya bisa meringis ngeri. Bayangkan saja harga yang paling murah saja satu juta. baginya harga satu juta itu sudah sangat banyak dan mungkin cukup untuk keperluan ia dan  ibunya untuk satu bulan.

Ariestya pun sadar dari pemikiran nya Ketika Bumi memanggilnya.

"Ehh kumel sini lo!" panggil Bumi.

"Apa? " Ariestya pun menghampiri Bumi yang kini bersama salah satu pramuniaga di sana. Di rak sepatu.

"Coba mbak, Carikan sepatu yang cocok untuknya." Ariestya yang mendengar hal itu pun bingung, apa maksud Bumi dengan menyuruh pramuniaga tadi untuk mencarikan sepatu untuk dirinya. Tapi Ariestya bukanlah gadis matre, yang mana orang akan berpikir bahwa Bumi akan membelikannya sepatu. Mungkin, Bumi menunjukkannya sebagai contoh saja untuk seseorang. misalkan, Diandra atau adiknya Mungkin. Ariestya enggan untuk berpikir jauh.

"Ini mas, ini adalah salah satu sepatu keluaran terbaru dengan kualitas terbaik saya yakin ini sangat cocok untuk adiknya," jelaa pramuniaga tersebut.

"Coba saya lihat dulu," balas Bumi.

"Ariestya coba lo duduk dulu." Perintahnya.

Ariestya yang mendengar hal itu jelas tak memahaminya dan mencoba menanyakan apa yang sebenarnya Bumi tengah lakukan.

"Apa ini, gue gak  paham. Ngapain lo nyuruh gue duduk?" tanya Ariestya

"Udah deh lo ikutin perintah gue," ucap Bumi.

"Mass!  minta kursinya kesini," pinta Bumi kepada salah satu pramuniaga pria di sana .

"Sekarang lo duduk," perintah Bumi dan Ariestya pun mau tak mau mengikuti perintah Bumi, duduk  diam menurut apa yang akan di lakukan Bumi." Mbak sepatu yang tadi mana coba saya minta." 

"Lo diam ya. Apapun yang gue lakukan lo diem dan  jangan  protes." Bumi pun memulai aksinya dengan berjongkok di hadapan Ariestya.  Kemudian melepaskan sepatu yang di pakai Ariestya. Dan  memakaikan sepatu yang baru saja ia minta. Sedangkan Ariestya yang melihat apa yang di lakukan Bumi seketika ia terkejut dan mencoba untuk berdiri

"Bumi lo apa apaan sih!"

"Lo duduk dulu napa? diem gak!" ucap Bumi dengan tegas.

"Lagian lo ngapain juga makeiin gue sepatu gue bisa sendiri kok. gak perlu lo pakeiin dan lo gak usah berlebihan gini, lagian sepatu ini  terlalu bagus buat dicobaiin sama gue ntar rusak gimana?" Ariestya mencoba menghentikan apa yang akan di lakukan oleh Bumi. Dan berusaha untuk tidak mencoba sepatu yang akan dibeli oleh Bumi.

"Udah lo jangan banyak bicara."

"Tapiii Bumi gu-e__" Seketika perkataan Ariestya terpotong dengan kelakuan Bumi yang menaruh telunjuknya di bibir Ariestya. Untuk beberapa saat  merekapun saling menatap satu sama lain dan tak sadar apa yang mereka lakukan menjadi bahan tonton di sana. Tapi, mereka masih beruntung pengunjung di toko ini masih sepi.

"Lo diem. kalau engga! bukan telunjuk gue yang ada di bibir lo tapi ...," Bumi menggantungkan perkataan nya lalu sedikit lebih maju ke depan Ariestya dan berbisik, "Bibir gue langsung yang akan menyumpalnya."

Ariestya yang mendengar hal itu seketika membelo kan matanya kaget. Dan

cup

Bumi mengecup sedikit pelipis Ariestya ketika akan berbicara.

"Bumi ...," Lirihnya.

"Diem."

Ariestya hanya mengangguk pasrah karena takut apa yang dikatakan Bumi itu akan terjadi.  Kemudian Bumi pun melanjutkan perkataannya sebelumnya.

"Iya-iya gue tau tapi setidaknya harus di coba dulu lagian apa susahnya sih lo nyobain sepatu,  kapan lagi coba lo bisa nyoba sepatu mahal."

"Tapi gue bisa pake sendiri." Ariestya kembali bersuara.

"Lo mah gak ada romantis-romantisnya jadi cewek. kalau gini terus emang ada yang mau sama cewek bar-bar kayak lo. Seharusnya lo itu beruntung bisa di pakeiin sama cowok paling ganteng paling kaya di sekolah Satu Nusa,  ucap Bumi dengan sombong.

"Sekarang lo sudah selesai kan, sebaiknya sekarang kita pulang." Ariestya mengalihkan pembicaraan.

"Tapi gue belum nemu yang cocok," balasnya.

"Bumi bentar lagi malam loh tapi lo belum nemu. Terus tadi lo ngapain aja hah!" Dengan nada sedikit tinggi Ariestya mengatakan hal itu.

"Nyari sepatu buat  gue lah siapa lagi."

"BUMI!!"

"Pulang gak sekarang." Dengan nada yang penuh tekanan."Kalau enggak! gue bisa pulang sendiri, "Lalu meninggalkan Bumi begitu saja.

"Ehhh kumel mau kemana lo tunggu!!!" teriak Bumi mengejar Ariestya.

Grap'

Bumi menarik tangan Ariestya dengan kencang sehingga, hampir saja Ariestya terjatuh kalau saja Bumi tidak memegang badannya dengan erat.

Keduanya pun saling menatap satu sama lain, untuk sesaat dunia seolah berhenti berputar.

Deg'

perasaan apa ini,  Bumi kok jantung lo deg-degan gini sih. Padahal cuman natap dia doang gak mungkinkan gue sakit jantung tiap kali dekat gini sama si kumel. tapi kalau di tatap dari dekat si kumel manis juga.  Ya ampun jangan sampe deh jangan. batin Bumi.

Sama halnya dengan perasaan Ariestya yang kini tengah deg degan karena di tatap seperti itu oleh bumi.

Kok jantung lo deg-degan sih Tya. Apa iya lo jantungan. Mana cepat banget lagi. Kayaknya lo harus ke rumah sakit deh. Batin Ariestya

Ehmmm 

Suara gumam  pramuniaga toko sepatu yang mereka kunjungi ternyata menghampiri mereka dan menyadarkan keduanya

"Maaf mas, mbak. Sepatu nya belum di bayar. kalau gak mau di beli kenapa di coba dan main kabur-kabur aja untung belum jauh." Dengan kesal sang pramuniaga mengatakan hal itu.

Sedangkan Ariestya yang mendengar hal itu merasa sangat malu,  dan kini wajahnya memerah seperti kepiting rebus.

Ariestya  yang sadar akan tingkah memalukan itu langsung meminta maaf dan melepaskan sepatu tersebut.

"Maaf ya mbak saya main pergi gitu aja. Ini sepatunya saya kembalikan. sekali lagi saya minta maaf ya Mbak," ucap Ariestya.

"Lain kali kalau gak punya uang ngapain pergi ke mall dan sok sokan belanja ke toko gede gini." Ariestya yang mendengar hal itu merasa tak enak. wajar saja mereka mengatakan hal itu, karena kejadian ini sudah diluar toko dan banyak sekali yang melihat kejadian ini.

"Kenapa di buka sepatunya?" tanya Bumi yang melihat Ariestya melepaskan sepatunya.

Ariestya pun mengalihkan pandangannya kepada bumi, ketika mengatakan mengapa sepatutnya di buka. Ya jelaslah harus di buka! sepatunya kan belum di bayar.

"Kan sepatunya belum di bayar," jawab Ariestya. Lalu menyerahkan sepatu tersebut kepada sang pramuniaga.

"Lagian lo ngapain main pergi begitu aja. Coba kalau lo gak gue kejar di sangka pencuri."

"Tapi kan gue bukan pencuri!"

"Sama aja kali."

"Enggak Bumi."

"Sama!"

"Udah udah mas, ini sepatunya jadi gak?"

Bumi dan Ariestya yang mendengar itu pun menghentikan acara debat mereka dan kembali masuk ke dalam toko tersebut untuk membayar.

Dan setelah membayar sepatu akhirnya mereka pun pulang. karena waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Awalnya Bumi Masih ingin membeli sepatu tapi, tak jadi ketika Ariestya akan pulang terlebih dahulu tanpa perlu Bumi antar hingga pada akhirnya Bumi pun menyerah. Dan memutuskan mengantar Ariestya pulang.

Jangan lupa komen dan vote ya

See you.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!