hari yang melelahkan 2

Setelah perjalanan yang cukup panjang bagi Ariestya namun singkat bagi Bumi. Kini mereka telah sampai di mall terbesar yang berada di Jakarta.

"Ayo masuk,"  ucap Bumi sambil menggenggam tangan Ariestya.

Ariestya yang melihat itu langsung refleks melepaskan tangannya dari genggaman Bumi.

"Gak usah pegangan tangan bisa kali."

"Heh Ariestya ini itu mall gede Kalau lo tersesat gimana?"

"Gue itu bukan anak kecil ya. Yang harus tersesat di mall."

"Gue tau lo bukan anak kecil tapi gue pastiin lo baru pertama kali masuk ke mallkan," tatap Bumi.

Sedangkan Ariestya yang di tatap seperti itu seketika jadi salah tingkah. dan itu lucu sekali bagi Bumi dan hal ini adalah hal yang langka dari seorang Ariestya.

"Kenapa? jangan ketawa ya," sebal Ariestya karena di tatap seperti itu oleh Bumi.

"Ya udah ayo yang lain udah pada nunggu," ujar Bumi, sambil menarik kembali tangan Ariestya.

Ariestya hanya bisa menatap tangannya yang di genggam oleh bumi sambil meneliti apa yang saat ini sedang ia rasakan, Mengapa begitu nyaman saat seperti ini saja dengan Bumi. Namun, semua itu ia tepis karena itu tidak mungkin. Ia tak boleh merasakan perasaan seperti itu yang hanya akan menyakiti dirinya sendiri.

"Loh kok kita disini bukannya kita mau beli sepatu buat lo, kenapa malah ke sini terus yang lain mana?" tanya Ariestya ketika sudah sampai. Dan  melihat sekelilingnya bukan toko sepatu melainkan tempat makan. Sebuah Restoran yang terlihat megah berada di mall terbesar di Jakarta itu.

"Yang lain udah pulang katanya."

"Bukannya lo bilang mereka udah nunggu kita. Kenapa bisa begitu? " Ariestya mencoba menatap Bumi memacari kebenarannya di sana.

"Bukannya lo bilang mereka udah nunggu kita kenapa bisa begitu.

"Ya biasalah orang gue yang suruh."

"Apa!?"

"Bukan, bukan gitu maksud gue yang lain itu udah pada pulang, gak jadi katanya mereka ada urusan dengan keluarganya masing-masing jadi di suruh pulang deh. Lagian lo biasa aja kali tuh mata natap gue gitu banget, nanti sayang lagi sama gue. Gimana coba? secara gue itu ganteng kaya ramah baik dan gak pelit. dan yang suka sama gue itu banyak pada cantik cantik, sexy. lo kalah saing sama mereka." Ariestya yang mendengar penuturan itu hanya memutar bola matanya malas mendengar kesombongan Bumi.

"Ya udah sekarang kita beli sepatu baru lo dan pulang." Lalu menarik tangan Bumi untuk keluar.

Namun, Bumi hanya diam tidak bergerak sedikitpun.

"Bumi ayo dong," masih berusaha dengan keras menarik Bumi agar beranjak dari sana.

"Gue mau makan dulu lapar dan lo harus temenin gue." Perintahnya.

"Tapi Bumi perjanjiannya gak ada ya acara temenin makan. Lo hanya minta temenin beli sepatu." Kesalnya.

"Tapi gue lapar."Bumi pun pergi dan duduk di salah satu meja yang kosong. Ariestya yang melihat itu pun langsung menghampiri Bumi dan duduk di hadapan Bumi dengan muka kesalnya. Dan tak lama kemudian pelayanan menghampiri mereka dan bertanya apa pesanan mereka.

"Mau pesan apa mas?"

"Saya pesan pasta satu, sama jus strawberry satu dan lo mau pesan apa? lo bebas milih apapun yang lo mau.  Tenang aja, gue yang bayar." Dan Bumi pun menyerahkan buku menu ke arah a Ariestya.

"Gue gak laper sebaiknya lo aja! cepetan gue gak mau lama-lama di sini." Tolak Ariestya dengan nada cepat.

"Ok mbak pastanya yang jumbo aja ya, calon pacar saya katanya mau berdua aja sambil suap-suapan."

"Bumi lo apa-apaan berkata seperti itu sama si mbaknya apa lo gak malu."

Sedangkan pelayan yang mendengar perdebatan mereka bingung ingin berbicara apa dan pergi begitu saja tanpa mengulangi pesanan Bumi.

"Malu kenapa? perasaan gue gak telanjang pergi ke mall."

"Bumi bukan itu."

"Apa? Lagian pelayanannya juga udah pergi, udah sekarang diem kita tunggu pesanannya datang."

Ariestya yang mendengar itu hanya bisa menghela nafasnya sedangkan sekarang telah menunjukkan pukul 3 sore pasti ibu khawatir mengapa ia belun pulang.

Tak lama kemudian pelayan pun mengantarkan pesanan Bumi.

"Selamat menikmati."

"Makasih mbak."Ariestya pun.mengatakan hal itu karena Bumi hanya diam saja tanpa mengatakan hal apapun.

"Bisa di percepat ga makanya ntar ke buru malem pulang nya bumi." Kesal Ariestya melihat tingkah Bumi ketika melihat bumi makan dengan sangat pelan. Bahkan pasta itu sangat banyak dan Bumi makan dengan sangat pelan dia bilang lapar kok gak kaya yang lapar.

"Aaaa ...," Bumi mengarah pasta ke arah Ariestya.

"Apa? "

"Katanya di suruh habisin makannya ya lo bantuin lah  aaa.... "

"Gue gak mau lo aja yang makan."

"Lo yakin gak mau, seharusnya lo itu beruntung udah mau gue ajakin makan berdua di suapi lagi. kalau yang lain udah klepek-klepek sama gue. "

"Udah bumi cepetan makannya kalau udah kamu bayar aja. Jangan di terusin siapa suruh pesan dengan porsi yang dobel gitu."

"Ya kan kita berdua makannya, lo sih gak mau pesen."

"Kok lo nyalahin gue sih!"

"Emang lo yang salah."

"Apaa!!" Bentak Ariestya.

"Biasa aja kali jangan ngegas mulu. Dah buka mulutnya kalau mau cepat abis kan sayang gue udah beli mahal mahal ga di makan, cuit-cuit aaaaa." Bumi masih mencoba menyuapi Ariestya dengan tangannya sendiri.

"Gak Mau Bumiiii." Aristya menutup mulutnya dengan tangannya.

"Ok kalau lo gak mau makan lo yang harus bayar makanannya," titah bumi tanpa bantahan.

"Ok! gue bayar." Balas Ariestya.

"Emang lo mampu Ini semua pesanan nya lima ratus ribu loh."

"Masa gue gak percaya ya kali, makanan gini doang lima ratus ribu."

"Lo gak percaya cek aja tuh di menu, di situ ada daftar harganya," tunjuknya, Ariestya pun mencek apa benar harga pasta dan minuman itu. Bumm benar saja harga pasta yang di pesan Bumi seharga empat ratus ribu dan jus yang di pesan seharga seratus ribu itu hanya pasta dan minuman. Sebenernya apa yang sedang di rencanakan Bumi ingin mengurasnya, yang benar saja. Batin Ariestya.

"Lagian lo itu kenapa sih janjinya cuman temenin beli sepatu kenapa makan. Pokonya habis makan kita pulang," tanpa bantahan Ariestya mengatakan hal itu.

"Gak bisa! Sebaiknya sekarang buka mulut lo atau lo yang bayar aaa ...," Dan pada akhirnya Ariestya pun menerima suapan dari Bumi dengan paksa.

"Enak kan, makanan mahal pasti enak kalau lo bilang gak enak emang lidahnya aja lo kampungan. Buka lagi mulut lo lalu gantian lo yang suapi gue."

"Lo kan punya tangan ngapain pake di suapi segala."

"Gue mau ngecek hp gue buruan katanya pengen cepet-cepet tapi lo nya aja dari tadi ngajak debat," lalu menyerahkan sendoknya kepada Ariestya.

Dan  Ariestya pun menerimanya kemudian mulai menyuapi Bumi dengan sesendok penuh.

"Lo kira kira napa? mau nyuapin orang apa sapi banyak amat." Bumi menatap horor ke arah Ariestya.

Brakkkk

Habis sudah kesabaran Ariestya yang sejak tadi ia tahan."Katanya jangan ngajak debat tapi lonya aja yang dari tadi bikin gue kesel." Bumi yang mendengar hal itu kaget dan menelan ludahnya sendiri, ngeri juga  karena mencoba bermain main dengan Ariestya.

"Ok, ok ya udah aaa ...," Bumi pun membuka mulutnya, mengalah. pada akhirnya mereka saling menyuapi karena perintah  Bumi karena Ariestya sudah lelah jika harus terus berdebat bayangkan saja mereka di sana hampir dua  Jam hanya untuk makan pasta dan itu semua gara gara Bumi yang ada ada saja tingkah nya yang membuat Ariestya marah.

"Ayo kita beli sepatu nya," ajak Ariestya.

"Tunggu sebentar lo duduk dulu." perintah Bumi lalu mengusap bibir Ariestya yang ada sisa sedikit saus.

Plak

Ariestya memulukul tangan Bumi.

"Lo apa apaan sih gak sopan tau."

"Itu ada sisa saus tau di bibir lo," tunjuk Bumi

"Gue bisa sendiri."

"Ya ampun ga ada romantis romantisnya," Cibir Bumi.

"Ya sudah kalau gitu ayo," Ajak Ariestya

"Iya-iya sabar napa? kita juga belum bayar. Gak sabaran banget," ujar Bumi kemudian beranjak dari duduknya.

Tbc......

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!