berbeda

Setelah Beberapa hari kemudian. kini, ibu Ariestya sudah sembuh dan mulai beraktivitas kembali.

Dan seperti biasa, Ariestya akan membantu sang ibu berjualan kue tradisionalnya. Kebetulan sekali hari ini adalah hari libur jadi Ariestya ikut berjualan di taman. Karena di sana banyak orang yang akan berolahraga atau lainnya bersama keluarga mereka.

"Sayang tungguin dongg!!" teriak seorang gadis yang memakai pakaian olahraga yang sangat ketat.

Bumi yang merasa di panggil pun membalikkan badannya, lalu menghela nafas."Huh," sambil menyugar rambutnya ke belakang. Sebenarnya ia malas sekali jika harus olahraga bersama Septi pacar sementaranya itu.

"Sayang tungguin dong, aku capek." dengan suara manjanya.

Bumi yang mendengar itu merasa risih.

Sungguh Septi itu sangat membosankan.

"Kamu ngapain sih ikut." Bumi kesal, merasa acara lari paginya terganggu.

"Sayang kok gitu sih, kita kan belum pernah kencan jadi anggap saja hari ini kita kencan." Dengan riangnya Septi mengatakan hal itu.

Kiki yang melihat temannya di ganggu oleh Septi pun menghampiri mereka. Rasanya mulutnya gatal jika tidak mengatakan hal yang buruk pada kekasih temannya itu.

"Ehhh ondel-ondel. kita disini itu buat lari pagi, bukan buat kencan, dasar ga jelas aneh iuhh." Cibir Kiki

Septi yang mendengar hal itu merasa kesal dan membalas ucapan kiki yang menurut-nya penghinaan itu.

"Ehh kikil kebo mau tau urusan orang aja lo. Sana pergi! ganggu aja," usirnya kepada kiki.

"Ondel-ondel beraninya lo ngatain gue kikil kebo! Emang lo ga liat apa muka gue yang gantengnya melebihi pacar lo itu." Dengan tingkat kepercayaan yang tinggi kiki mengatakan hal itu.

"Uweee." Ardan, Rangga Bintang dan lainnya pura pura merasa ingin muntah mendengar apa yang di katakan oleh kiki .

"Apa lo pengen muntah gih sono ke kamar mandi! jangan di sini malu-maluin kaya si ondel-ondel."

Septi yang merasa di ejek pun mencari pembelaan dari sang kekasih." Sayang, kiki tuh masa aku di kataiin ondel-ondel."

Bumi yang melihat itu semua merasa jengah. dan mulai lari kembali tanpa meladeni urusan mereka yang menurutnya kekanakan-kanakan.

"Ehhh sayang mau kemana kok main pergi begitu aja." Dengan cemberut sepeti mengikuti Bumi, yang sudah pergi.

"Rasiin lo ondel-ondel makanya jadi cewek tuh jangan keganjenan."

Septi yang mendengar hal itu hanya mendengus kesal. dan memilih menghiraukan ucapan Kiki dan melanjutkan mengejar Bumi.

Ketika Bumi berkeliling taman tanpa sengaja, ia melihat seseorang yang di kenalnya itu. Siapa lagi kalau bukan Ariestya kumala.

Bumi yang penasaran pun menghampiri Ariestya yang sedang berbicara dengan seorang anak kecil tersebut.

"Adek kenapa?" tanya Ariestya kepada anak kecil yang menangis seorang diri. Yang di lihat nya.

"Hiks hiks hiks aku tadi maen sama papa tapi papa nya ilang, huwa huwaa!!!" tangis anak kecil tersebut semakin kencang.

"Ya udah kalau gitu adeknya jangan nangis dong nanti jelek loh, " hibur Ariestya.

"Emang bisa jelek ya ka kalau nangis," masih dengan isak kan kecilnya.

"Bisa dong coba kita liat tuh, ih indung nya jadi merah, matanya juga ada airnya jelek tau."

"Huwa!!!"

Mendengar hal itu sontak anak kecil tersebut malah makin besar tangisannya. Ariestya yang mendengar hal itu pun kaget apa ada yang salah dengan kata katanya.

"Loh kok nangisnya makin kencang sih dek jangan gitu dong. Cup cup. Apa ada yang salah ya sama kata-kata kaka?" tanya Ariestya lagi.

"Huwaa Kaka aku nangis karena kata Kaka tadi. Pantesan aja Angel ga mau jadi pacar aku ternyata aku jelek ya."

Mendengar hal itu rasanya Ariestya ingin tertawa, anak sekecil itu sudah tau pacaran dia saja yang sudah masuk SMA saja tak paham.

Sementara Bumi yang memperhatikan dari jauh akhirnya menghampiri mereka.

"Hai dek kenapa nangis?" tanya Bumi.

Ketika Ariestya mendengar suara lain ia pun melirik sekilas dan kembali lagi sama si kecil.

"Hai !! Kaka ganteng," si kecil pun berhenti dari tangisnya. Ariestya yang melihat itupun heran apa mungkin pria itu papanya. Karena penasaran Ariestya pun bertanya kepada bumi.

"Bapak papanya si kecil ya?" Sontak Bumi yang mendengar pertanyaan hal itupun kaget. Masa iya papanya si kecil, emang sepertinya cewek ini matanya katarak ya, dan gak liat wajahnya yang masih muda dan gagah. Lalu ia bilang papa? astaga! apa ia tak mengenaliku, cowok paling tampan di sekolah dan juga predikatnya sebagi Playboy itu. Sepertinya itu belum cukup terkenal. Sampai samapi teman satu sekolahnya ini tak mengenalinya. Sepertinya ia harus melakukan sesuatu, lihat saja nanti. Batin Bumi

"Tunggu kau tidak mengenalku?" Bumi malah mengabaikan pertanyaan Ariestya dan mencoba memastikan sesuatu.

"Emang anda siapa? presiden."

Ya Allah tuh mulut pedes amat, giliran bicara sama si kecil ada nada lembutnya, lah kalau sama dia aja judes. batin Bumi

"Hmmm" gumam Bumi, lalu mengalihkan pandangannya pada si kecil. Namum, baru saja ia akan bertanya kepada si kecil. Malah ia yang sudah dapat pertanyaan dari si kecil.

"Kaka ganteng." Mendengar hal itu membuat Bumi menjadi salah tingkah, anak kecil aja tau ia ganteng masa cewek di samping nya biasa aja.

"Ya," Balas bumi.

"Boleh Alvin tanya?"

"Boleh adek mau tanya apa? " Ooo jadi namanya Alvin. Batin Bumi dan Ariestya secara bersamaan.

"Kaka gimana caranya biar Angel bisa jadi pacarnya Alvin?" Mendengar apa yang di katakan bocah tersebut. Yang menurut Bumi ia perkirakan masih di bawah tujuh tahun itu sangatlah aneh. Lalu jawaban apa yang akan ia berikan. Namun, tiba-tiba saja ada yang memanggil Alvin. dan hal itu menjadi penyelamat dari pertanyaan yang ia tak tau jawabannya. kenapa? Jika yang bertanya itu adalah temannya pasti ia punya jawaban. Tapi jika anak kecil itu apa yang harus ia jawab.

"Alviiin!!!" panggil papa si kecil Alvin.

"Papa!!!" Teriaknya senang.

"Kamu dari mana aja papa nyariin loh."

"Maaf pah, tadi tuh alvin ketemu Angel di sini tapi udah pulang, pas Alvin mau samperin papa nya udah ga ada. untung ada Kaka baik yang mau nemenin," jelasnya.

"Lain kali kalau mau pergi harus bilang ya, jangan main pergi. Gimana kalau nanti Alvin diculik sama orang. Emang Alvin mau?" Nasihat papa Alvin. Dengan perasaan kahwatir.

"Engga mau papah."

"Ya sudah lain kali jangan di ulangi lagi. Janji."

"Janji pah."

"Makasih ya udah jagain anak saya. Maaf karena keteledoran saya Alvin harus terpisah dari saya," ucap papa Alvin setalah reda kekhawatirannya.

"Iya pak, lain kali hati hati jangan sampai hilang. Anaknya di jaga dengan baik, apalagi sekarang ini lagi musim penculikan anak."

"Iya sekali lagi terima kasih ya," ulangannya. "Ya udah sekarang kita pulang ya dan jangan lupa bilang makasih sama Kaka biaknya," perintah sang papa pada si kecil.

"Makasih Kaka baik udah tolongin Alvin." Dengan senyum manisnya.

"Sama sama Alvin," balas Bumi.

berbeda dengan Ariestya yang hanya tersenyum dan mengangguk kan kepalanya.

Dan baru saja Bumi akan bertanya kepada Ariestya. Ariestya sudah pergi terlebih dahulu meninggalkan Bumi, Bumi yang merasa di abaikan pun kesal. Ia berpikir apa ketampanan dan kepopuleran di sekolahnya masih kurang sehingga ia tak dianggap, yang biasanya para cewek ngantri hanya untuk melihat wajah tampannya. Kini sudah tak berpengaruh untuk seorang Ariestya Kumala gadis sombong dan cuek itu. Benar benar berbeda.

"Sayang!" panggil seseorang, yang tak lain Septi. mendengar hal itu membuat Bumi malas dan ingin segera pulang saja.

Tbc

Maksih yang udah mampir udah vote sama komenya...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!