Terkuak 4

Mobil yang dikendarai Seno masuk ke area persawahan yang ada di desa mangun rejo.

Kini karsin menepikan mobilnya dan memilih parkir di bawah pohon sirsak di pinggir jalan.

"Kang,tolong diurus surat-suratnya ya,aku cocok sama kebun ini,tanahnya juga bagus,lokasi strategis,bisa meminimalis ongkos transport dan pekerja."tutur Seno pada Karsin dengan tetap menghadap lurus ke depan.

"Oh,baik gan...habis ini saya langsung temui pemiliknya."

Keduanya kemudian masuk kembali ke mobil.

"Kita langsung pulang gan?"tanya Karsin pada Seno.

"Iya Kang,kita pulang aja."jawab Seno."

Sejam berlalu.

Seno masuk ke kamarnya.

Seno membuka sebuah album foto berwarna merah tua yang ia letakkan di rak buku meja belajarnya ketika dulu ia masih kuliah.

Seno mulai membuka lembar demi lembar foto yang terselip pada plastik di dalam lembaran album.

Mata Seno berkaca-kaca ketika ia melihat foto seorang gadis dengan baju kebaya merah dan bawahan jarik.

Gadis yang sangat cantik nan ayu tersenyum manis,terlihat gurat bahagia di matanya yang bulat dan bening.

Lembar berikutnya Seno melihat foto sang Ayah bersama seorang teman,terlihat kedua pria paruh baya itu tersenyum tak kalah bahagianya pula.

Seno masih dengan posisi yang sama yaitu tengkurap dengan dada berbantalkan guling kembali membuka lembar berikutnya.

Disana terlihat seorang perempuan memakai kebaya putih dan rabut di sanggul duduk bersanding dengan seorang lelaki.

Hati Seno serasa disayat,tak terasa air mata pun menetes tanpa perlu diperintah.

Seno tengah menyesali apa yang dulu pernah diperbuatnya.

Kesalahan fatal yang kini harus menjadi beban tersendiri di dalam lubuk hatinya.

Seno teringat,kejadian seminggu setelah ia berkunjung kerumah gadis yang telah Ayahnya pilih sebagai calon istri untuknya itu.

Seno datang kembali dengan membawa seserahan.

Seno juga membawa satu set kebaya dan juga aksesorisnya,paket komplit untuk pengantin putri yang ia beli dari Yung Rep seorang dukun pengantin yang sudah sangat terkenal di daerahnya.

Sang gadis memakai kebaya yang Seno berikan dengan sangat bahagia.

Entah karna merasa sangat dihargai atau karna merasa akan mendapat suami kaya,Seno sungguh tak mengerti.

Tapi dengan hati yang sangat yakin Seno bisa memastikan jika di hari itu senyuman manis sang gadis adalah simbol kebahagiaannya.

Disela banyaknya makanan dan juga banyaknya tamu yang datang ke acara pesta itu ,hanya Seno dan Karsinlah yang saat itu sama sekali tidak merasa senang.

Jikapun keduanya harus tersenyum atau pun tertawa tidak lain dan tidak bukan hanyalah untuk menutupi hal bodoh yang kini tengah mereka perbuat.

Semua tamu terlihat begitu senang,semua mengelu-elukan Anak gadis dari keluarga mereka.

Anak cantik dan penurut itu dikatakan sangat beruntung memiliki Suami yang tampan,mapan berpendidikan tinggi dan sangat ramah juga sopan.

Semua tamu yang hampir seluruhnya adalah keluarga mempelai wanita itu terus saja memuji Seno,tanpa mereka tau apa yang tengah Seno lakukan dan rencanakan pada Putri mereka kedepannya.

Penghulu mulai mengucap ijab kabul dengan sakral dan dijawab dengan sakral pula oleh mempelai pria.

Berkas yang seluruhnya bertuliskan nama Seno dan Warsinah di tangan penghulu sudah digantikan dengan dua buku kecil berwarana merah tua dan hijau.

Seno dan Warsinah sudah sah sebagai sepasang Suami Istri.

Pengantin pria tampak pucat setelah selesai ijab.

Semua orang mengira itu dikarenakan oleh rasa gugup seperti pengantin pada umumnya.

Namun,tak sesuai dengan kata mungkin yang orang perkirakan.

Penyebab pengantin yang tertulis dengan nama Seno di atas surat nikah itu pucat bukanlah karna itu.

Rasa bersalah dan takut atas apa yang sudah ia perbuatlah penyebabnya.

Sang pengantin pria kini tengah berbicara berdua dengan lelaki yang mengaku bernama Karsin sopir sekaligus temannya.

Mereka sepertinya tengah mebahas hal serius.

"Baiklah kalau begitu,"ucap sang penganntin pria dengan nada lemas.

Mereka akhirnya berbaur dengan para Bapak-bapak yang tengah asyik bermain remi ditemani kacang rabus dan jamu jago.

Malam berganti pagi,tiga mobil sudah siap membawa pasangan pengantin baru yang harusnya tengah bahagia dalam indahnya cinta itu menuju ke kediaman sang Suami.

Orang yang katanya bernama Karsin itu sudah melajukan kendaraan roda empatnya dengan pelahan.

Acara pamitan sang pengantin dengan orang tuanya pun berjalan dengan sangat cepat dan tidak bertele-tele.

"Tugasku untuk merawatmu sudah selesai,sekarang kamu sepenuhnya tanggung jawab Suamimu."

Begitulah ucapan terakhir dari sang Ibu dari pengantin perempuan,entah apa maksutny,apakah itu sebuah ucapan perpisahan ataukan kalimat usiran yang dikamas dengan bahasa yang halus? entahlah.

Mobil sudah memasuki sebuah rumah dengan gaya bangunan khas jawa yang memiliki bale di bagian bagunan yang yang paling depan.

Rumah orang tua Seno yang sudah di bersihkan setelah hampir setahun dikosongkan karna Ayah Seno sakit dan memilih ikut tinggal di rumah Putranya itu.

Warsinah dan Suaminya masuk ke dalam rumah,mereka duduk di bale menunggu intruksi dari Karsin sang sopir.

Aneh memang,bukankah Seno Suami Warsinah Anak pemilik rumah ini.

Tapi kenapa malah menunggu Karsin memberi intruksi hanya sekedar untuk masuk kamar saja,sungguh aneh bukan.

Warsinah hanya bisa diam melihat keanehan kedua orang itu,yah Suami dan supirnya.

Seperti ada sesuatu yang disembunyikan oleh keduanya.

Karsin sang supir meminta Seno untuk masuk kamar yang paling depan karna kamar itulah yang sudah dipersiapkan sebagai kamar pengantin,begitulah alasanya.

Warsinah pun masuk ke kamar,dan berniat untuk istirahat,demikian juga dengan Seno.

Tapi lagi-lagi hal aneh ditunjukkan oleh Seno.

Seno Suaminya memilih menggelar tikar dari pada tidur dengan istrinya di ranjang.

Awalnya Warsinah merasa heran,tapi akhirnya ia berfikir positif ,mungkin Suaminya malu,atau belum terbiasa,begitulah pikirnya.

Siang berganti sore,Warsinah berniat untuk mandi.

Saat sampai disebuah ruangan yang pintunya sedikit terbuka Warsinah berhenti karna mendengar seorang Ibu-ibu yang mungkin adalah pelayan di vila itu.

"Den,apa ndak kasihan to kalo kayak gitu?"ucap sang perempuan.

"Aku nggak tau Mbok,Aku bingung,ini amanah."ucap lelaki yang tengah duduk berhadapan dengan wanita yang ia panggil mbok tadi.

Warsinah kembali merasa heran,kenapa Karsin terlihat lebih dihormati dan disegani melebihi Suaminya yang adalah Anak pemilik vila ini.

Bahkan Suaminya pun tampaknya sangat segan pada Karsin.

Warsinah melanjutkan melangkah ke kamar mandi.

Ia bingung mau berbicara ataupun bertukar pikiran dengan siapa alhasil ia hanya bisa menangis di dalam kamar mandi.

Dulunya ia sangat bahagia ketika Ayahnya mengatakan ia akan di nikahi oleh lelaki baik dan berkuasa,lelaki yang pastinya akan bisa menjadi pelindung bagi nya.

Ucapan sang Ayah sungguh telah menjadi secerca cahaya yang selalu ia natikan terlebih saat sang Ayah telah tiada.

Ibu tiri yang selalu berlaku kasar dan menuduh ia sebagai penyebab meninggalnya sang Ayah sungguh membuat Warsinah tak sanggup terus berada di rumah itu.

Setahun lebih lamanya ia menanti seseorang yang datang meminangnya,seseorang yang kata Ayahnya akan bisa melindunginya.

Hingga saat itu tiba.

Namun sangat ia sayangkan,disaat orang itu telah datang justru ia merasa sangat asing,bahkan hati kecilnya mengatakan jika akan ada bahaya besar yang mengicarnya.

Warsinah segera kembali kekamarnya,kamar pengantin yang ia tempati seorang diri.

Ia merebahkan diri diatas kasur anganya melayang dan terus berandai-anda tentang apa yang sesungguhnya terjadi hingga tanpa disadari ia telah terlena ke dalam alam mimpi.

Terpopuler

Comments

Yuli Fitria

Yuli Fitria

Ya, ampun kenapa aku nggak dapet notif ya, padahal paporit loh. Untung tak iseng² buka, eh udah Up. Lanjut Thor 😘

2022-08-13

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!